f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
RKUHP

Kritik Hadis Misoginis Fetima Mernissi Part 2

Kritik Hadis Misoginis Fetima Mernissi (Part 1)

Menurut Fetima Mernissi, kemunculan hadis yang mendiskriminasi perempuan dan bermuatan misoginis itu secara tekstual. Karena itu Mernissi berupaya keras meneliti ulang hadis-hadis tersebut dengan pendekatan hermeneutik. Dua aspek yang diteleiti adalah pertama dari segi matan (isi hadis) antara lain; dengan dengan meneliti ulang asbabul wurud (sebab keluarnya hadis), meneliti sosio-history dan situasi politik saat itu. Kedua, dari segi sanad hadis, Mernissi mengupas perawi hadis misoginis satu persatu, hingga ia temukan kejanggalan terhadap hadis tersebut.

Pendekatan Hermeneutik Untuk Kritik Hadis

Hermeneutika secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu teori atau filsafat tentang interpretasi makna.  Sebagai sebuah ilmu, hermeneutika harus menggunakan cara-cara ilmiah dalam mencari makna, rasional, dan dapat diuji. Inti hermeneutik adalah “memahami” (verstegen/ to understand) itu sendiri. Itu sebabnya, ia tidak dapat berdiri sendiri, melainkan membutuhkan seperangkat pendekatan dan metode lain semacam filsafat, teologi, antropologi, sosiologi, semantik, linguistik, filologi, fenomenologi, psikologi, analisis wacana, serta lainnya.

Salah satu persoalan yang hendak dijembatani oleh hermeneutika adalah terjadinya jarak antara penulis dan pembaca, yang antara keduanya dihubungkan oleh teks. Ketika sebuah teks hadir di hadapan kita, sesungguhnya kita tidak bisa memahami teks secara sempurna tanpa menelusuri kondisi sosio-kultural dan psikologis penulisnya. Maka, hal itu meniscayakan dialog intens antara penulis (author), teks (texs) dan pembaca (reader). Hermeneutika menegaskan bahwa manusia otentik selalu dilihat dalam konteks ruang dan waktu, manusia sendiri mengalami atau memahami.

Pendekatan hermeneutika telah banyak dipakai oleh cendekiawan muslim dalam menginterpretasikan makna teks al-Qur’an yang merupakan “bahasa langit”. Sedang hadis, yang jelas diucapkan oleh Rasulullah sebagai manusia dan dipahami sebagai “bahasa bumi”. Maka pendekatan hermeneutika sangat bisa diterapkan agar tidak terjadi kebekuan pemahaman terhadap suatu teks hadist.

Pendekatan hermeneutik dalam penafsiran hadis dapat dilakukan melalui tiga lapis penafsiran, yaitu: (1) penafsiran dari “dalam” teks hadis (meaning within the text); (2) penafsiran terhadap hal-hal di sekitar teks hadis (meaning behind the text); dan (3) penafsiran kritis atas teks hadis (meaning in front of the text). Ketiga lapis penafsiran ini memiliki fokus, sasaran, serta metode yang antara satu dengan lainnya saling melengkapi

Baca Juga  Jika Han Ji Pyeong Berzakat, Berapa yang Harus Dia Bayarkan?

Hadis yang Dikritisi Fetima Mernissi

Dari kitab al-Bukhari dijelaskan, Abu Bakrah pernah mendengar Rasulullah berkata: “Barang siapa yang menyerahkan urusan mereka kepada kaum perempuan, mereka tidak akan pernah memperoleh kemakmuran”.

Dalam redaksi lain “Suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka pada seorang perempuan tidak akan memperoleh kesejahteraan” terdapat dalam jilid ketiga kitab al-Asqalani, dimana ia mengutip Shahih Bukhari.

Hadis tersebut digunakan untuk mengucilkan kaum perempuan dari politik. Kita juga dapat menemukan hadis tersebut dalam karya otoritas lain seperti Ahmad bin Hanbal. Hadist ini demikian penting dalam memperdebatkan terkait hak politik perempuan (Kurzman, 2003).

Menurut Bukhari, kemungkinan Abu Bakrah (wafat sekitar 671) yang pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda demikian. Abu Bakra adalah seorang sahabat yang mengenal Rasulullah semasa hidupnya, dan bergaul cukup lama, sehingga memungkinkannya untuk bias meriwayatkan hadis tersebut diatas. Menurutnya, Rasulullah Saw mengatakan hadis itu setelah mengetahui bahwa bangsa Persia telah menunjuk seorang perempuan untuk memimpin. “Ketika Kisra wafat, Rasulullah Saw terdorong oleh rasa ingin tahu menganai kabar tersebut, bertanya : ‘dan siapa yang telah menggantikannya sebagai pemimpin?’ Jawabannya adalah ; ‘mereka telah menyerahkan kekuasaan kepada puterinya”. Saat itulah, menurut Abu Bakra, Rasulullah mengemukakan pandangannya tentang perempuan (Kurzman, 2003)

Pada tahun 628 M, sewaktu berkobar peperangan berkepanjangan antara bangsa Romawi dan Persia, Kaisar Romawi, Heraklius menginvansi wilayah Persia, menduduki Ctesiphon, yang terletak sangat dekat dengan ibukota Sassanid dan Khusraw Pavis, raja Persia terbunuh. Barangali, kejadian inilah yang disinggung oleh Abu Bakra. Sebenarnya, setelah kematian putra Kusraw, terdapat periode kekacauan yang berlangsung antara tahun 629-632 M dan pada saat itu banyak yang mengklaim hak atas tahta Sassanid. Termasuk di antaranya dua orang perempuan. Mungkinkah insiden ini yang menyebabkan Rasulullah Saw mengucapkan hadis yang menentang (kepemimpinan) perempuan tersebut? Bukhari tidak melacak sejauh itu, ia hanya melaporkan kata-kata Abu Bakar. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai Abu Bakra, kita harus menyimak karya besar Ibnu Hajar al-Asqalani.

Baca Juga  Perempuan Paling Mahir Mengatur Keuangan (?)

Dalam 17  jilid kitab Fath al-Bari, al-Asqalani mengomentari satu persatu kumpulan hadis Bukhari. Untuk setiap hadis dari kitab Shahih Bukhari, al-Asqalani membuat suatu klasifikasi historis : peristiwa politik yang melatarbelakangi hadist tersebut, gambaran tentang pertempuran, identitas pihak-pihak yang bertikai, identitas para perawi dan opini mereka, dan akhirnya perdebatan mengenai keshahihan hadist] tersebut.

Pada kesempatan apakah Abu Bakra mengingatkan kembali perkataan Rasulullah tersebut, dan mengapa ia merasa perlu menyatakan hal itu? Abu Bakra pasti memiliki ingatan yang sangat kuat, karena ia mengemukakan hadis tersebut seperempat abad setelah wafatnya Rasulullah Saw. Pada masa Khalifah Ali (memerintah 656-661) merebut kembali Basrah, setelah mengalahkan Aisyah  dalam perang Jamal.

Sebelum menduduki Basrah, Aisyah menunaikan ibadah haji ke Mekkah, di mana ia mendengar kabar pembunuhan Usman (Khalifah 644-656) di Madinah dan pengangkatan Ali sebagai khalifah keempat. Pada saat Aisyah berada di Makkah, ia memutuskan untuk memegang komando pasukan yang menentang pengangkatan Ali. Berhari-hari lamanya ia berada dalam keragu-raguan. Apakah ia harus pergi ke Basrah atau Kufah? Ia memerlukan sebuah kota penting tempat ia bisa memperoleh cukup bantuan dari orang-orang yang tidak puas dan mendirikan markasnya.

Setelah melalui sejumlah  kontak, perundingan dan diskusi, Aisyah memilih Basrah. Abu Bakra merupakan salah seorang pemuka kota itu, yang seperti juga lainnya, berada pada posisi sulit. Apakah ia harus mengangkat senjata melawan Ali, atau mengangkat senjata melawan Aisyah, istri Nabi? Lebih jauh , kalau seseorang menyadari bahwa Abu Bakra telah menjadi tokoh terkemuka di kota Basrah. Padahal ia bukan penduduk asli kota itu, orang tersebut bisa memahami kesulitannya dengan baik.

Sejarah Singkat Abu Bakra

Bisa dikatakan bahwa Islam membawa keberuntungan bagi Abu Bakra. Sebelum memeluk Islam, Abu Bakra menjalani kehidupan yang keras dan hina sebagai seorang budak di kota Thaif. Di tempat itu, hanya keturunan bangsawan saja yang bisa menduduki jabatan tinggi.

Baca Juga  Force Ayat-Ayat Toleransi, Apakah Penting?

Pada tahun 8 H (630 M), Rasulullah Saw memutuskan bahwa ini saat yang tepat untuk menaklukkan Thaif. Beliau baru saja menaklukkan Makkah, meraih kemenangan sehingga pengikutnya bisa memasuki kota itu, dan sekarang merasa cukup kuat untuk mendudukkan penduduk Thaif yang masih menolak Islam. Namun ternyata, Thaif membangun pertahanan yang kuat, sehingga pasukan Rasulullah harus membangun tenda-tenda di luar kota itu dan mengepungnya selama 18 hari, tapi ternyata sia-sia.

Suku utama yang menguasai Thaif, Bani Tamim, dan para sekutunya dikerahkan untuk mempertahankan benteng, menggunakan busur dan anak panah, mereka melawan para pengepungnya dan menyebabkan berjatuhan korban di phak Rasulullah. Dua belas orang terbunuh, sehingga menyebabkan beliau sangat sedih. Karena Rasulullah berharap mendapatkan kemenangan tanpa ada kerugian di pihaknya. Akhirnya Rasulullah memutuskan untuk mundur.

Namun sebelumnya beliau telah mengirimkan utusan untuk mengumumkan di sekitar benteng dan kota yang dikepung bahwa semua budak yang meninggalkan benteng Thaif dan bergabung dengan prajuritnya akan dimerdekakan. Belasan budak segera menjawab himbauannya, termasuk Abu Bakra. Rasulullah menyatakan para budak tersebut menjadi orang-orang merdeka menskipun tuan mereka mengajukan protes. Setelah memeluk Islam, mereka menjadi saudara, sama kedudukannya seperti yang lain. Dengan cara ini Abu Bakra menemukan Islam dan Kebebasan.

(bersambung part 3)

Bagikan
Post a Comment