f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ruang pendidikan

Corona; Malaikat Yang Jatuh di Ruang Pendidikan

Kecemasan akan masa pendidikan sudah berkali-kali dinyatakan oleh para pemikir (pendidikan), sinisme, satire, dan kredo yang menohok kenyataan praktik-praktik di ruang pendidikan muncul tanpa henti; deschooling society (masyarakat bebas dari sekolah) dari Ivan Illich, the end of school menurut Everett Reimer, pedagogy of the oppressed dalam pandangan Paulo Piere, dan the end of education kata Neil Postman.

Sekolah dianggap dan bisa jadi fakta, di mana sekolah kehilangan maknanya sebagai wahana pendewasaan bagi seluruh penghuni di dalamnya dan otoritas-otoritas yang memiliki kepentingan dan bersinggungan langsung dengan keberadaan sekolah. Kritik para pakarpun dilontarkan baik melalui media publik maupun tulisan-tulisan pada lembaran-lembaran buku bertemakan pendidikan.

Kata mereka, apa bedanya sekolah dan penjara jika ruang-ruang kelas bagi siswa lebih mirip kerangkeng-kerangkeng; pintu yang tertutup ketika pelajaran berlangsung sehingga siswa kehilangan cakrawala optik alternatif; bangku-bangku memaku tubuh para siswa supaya tidak sedikit pun bergerak; dan tentu saja guru-guru berperan mirip seperti sipir penjara: marah jika dikritik, menolak usulan, membentak jika ada kesalahan.

***

Terdapat juga orang tua yang acuh tak acuh dengan pendidikan anaknya; namun berontak bahkan memenjarakan guru jika anaknya diberi ganjaran–yang tak lain merupakan bagian dari pendidikan terhadap kenakalan-kenakalan yang tak diketahui oleh orang tua di rumah. Diitambah lagi pemangku pendidikan atau mereka yang memiliki otoritas dalam dunia pendidikan; hanya memikirkan nasib diri dan jabatannya yang sewaktu-waktu akan dicopot oleh penguasa setempat jika tak memuluskan proyek-proyek pendidikan usulan “tuhannya”.

Beberapa tahun belakangan ini tindakan anarkis yang lahir dari siswa: mulai dari tawuran antar pelajar, pembunuhan terhadap guru, pembulian di media sosial dan masih banyak lagi kasus-kasus anarkis yang dilakukan. Untuk itu, kita layak merenungkan ini dan tak hanya mengutuk atas berbagai kasus tersebut.

Baca Juga  Asal-muasal Simbol dan Emotikon

Kini, kita pun, bahkan dunia terhentak. Dari kota Wuhan China, virus mematikan menyebar hampir ke seluruh negara di dunia. Tercatat yang paling banyak korban meninggal dan juga terinfeksi virus yang dikenal dengan nama corona ini. Mengapa siang terang dan malam gelap, ada putih dan ada hitam, ada bahagia dan ada duka? Jawabannya tergantung sudut pandang masing-masing manusia.

Satu hal yang pasti, yaitu segala sesuatu ada plus dan minus-nya. Begitu juga dengan pandemi, jika kita hanya melihat dari sisi yang negatif, dari kerugiannya, dari dampak buruknya, maka kita tak akan pernah bisa bangkit melalui masa-masa ini dengan segera. Ubah mindset, geser paradigma, dan kelolah hati serta pikiran menuju era berbasis tekhnologi.

Malaikat yang Jatuh di Ruang Pendidikan

Dengan adanya Corona, saya menyebutnya: “Malaikat Yang Jatuh di Ruang Pendidikan”, membuat pendidikan kita berubah total. Dari sekolah yang mirip penjara menurut para pakar dan sebagian siswa; kini dengan corona tak ada lagi pembelajaran di ruang kelas, tak ada lagi ocehan guru di hadapan kelas, tak ada lagi sikap anarkisme siswa, dan tentunya tak ada lagi guru yang dipenjarakan. Lebih dari itu, corona membuat kita sadar akan pentingnya pendidikan untuk masa depan anak sebagai generasi bangsa ini.

Sehingga peran segala pihak sangat membantu kesuksesan dari proses pendidikan, dan bukan hanya menyerahkan tanggung jawab itu kepada pendidik, pihak sekolah, universitas, lembaga pendidikan lainnya, serta civitas akademika lainnya. Namun juga merupakan tanggung jawab orang tua dan pribadi dari masing-masing peserta didik itu sendiri.

Seyogyanya kita harus saling support, bukan malah saling menyalahkan atau saling melempar tanggung jawab antara pihak satu dan lainnya. Pada masa pandemi ini kita semua dituntut untuk bergerak maju dan mampu mengoptimalkan penggunaan kemutakhiran teknologi dalam proses edukasi guna pengembangan diri semua pihak. Sehingga peran pendidikan tidak akan mati meski di tengah pandemi.

Baca Juga  Dilema Nikah Muda, Akankah Bahagia?

Waktu luang menciptakan kesempatan untuk mempelajari banyak hal baru–yang dulunya menjadi list terakhir ketika kesibukan aktivitas di luar tak terorganisir. Meningkatkan keterlibatan orang tua dalam ruang pendidikan anak yang dulunya cenderung hanya “lempar tangan” kepada pihak sekolah, ataupun pendidik atas pendidikan anaknya. Timbul berbagai inovasi dalam proses pembelajaran, memunculkan kolaborasi antarlini yang dulunya mungkin belum bisa terealisasi; serta keterlibatan keluarga dalam memberikan support system bagi ekosistem pendidikan yang dulu mungkin sempat terlupakan.

Sarana yang Memadai

Namun, di sisi lain, pembelajaran daring atau online harus memiliki sarana yang memadai. Banyak yang memiliki handphone tetapi tidak support internet atau aplikasi-aplikasi yang diperlukan. Sehingga baik sekolah, guru dan siswa memerlukan sarana dan prasarana yang benar-benar support. Tapi pada kenyataannya, untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja, sangat sulit dipenuhi dalam situasi seperti saat ini.

Untuk kebutuhan jaringan internet saja, masih banyak sekolah, guru dan siswa yang sulit mendapatkan jaringan internet yang stabil. Bahkan ada yang masih belum terjangkau oleh jaringan tersebut: letak geografis tempat tinggal guru dan siswa berada pada posisi yang susah mendapatkan jaringan internet. Walaupun ada, tapi sering tidak stabil. Hal ini menjadi kendala yang tidak bisa dipisahkan dari pembelajaran moda daring yang kini banyak di pilih oleh sekolah-sekolah.

Ingat, di tengah pandemi ini pendidikan menjadi tanggung jawab orang tua. Maka untuk itu, yang harus banyak terlibat adalah orang tua: mulai dari penguasaan teknologi, pengadaan sarana prasarana, kuota internet dan pendampingan putra putrinya selama proses pendidikan  menggunakan moda daring/internet, semuanya harus dilakukan oleh orangtua.

Penyadaran guru dalam pembelajaran moda daring ini adalah, bahwa kehadiran guru bukan mentransfer ilmu pengetahuan yang mereka miliki, tetapi para guru berperan sebagai fasilitator saja dalam pembelajaran. Kehadiran mesin bukan menjadi saingan guru dalam mengajar. Tetapi guru harus menguasai teknologi, sehingga teknologi dan guru menjadi partner yang sangat efektif dalam membuat inovasi-inovasi pembelajaran.

Baca Juga  Keterwakilan Perempuan dalam Pemilu 2024 Terbentur Regulasi

Penulis : Syahrul S. Pd

*) Penulis adalah Guru di Salah Satu SMA di Kabupaten Bolaang Mongondow/Kader PDPM Kabupaten Bolaang Mongondow)

Bagikan
Post a Comment