f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Para Pejuang Pembelajaran Daring

Oleh: Neni Nurachman*

“Bu, jam berapa mulai belajar nanti? Jika saya terlambat online, itu artinya saya sedang membantu orang tua dulu di kebun,” chat dari seorang murid, pagi hari dua jam sebelum jadwal mengajar online. Beberapa chat lainnya serupa, bahkan ada yang memberikan pesan melalui nomor WhatsApp kakaknya, iya tidak dapat online hari itu, karena tidak punya kuota.

Satu per satu terbalaskan, tentu menyematkan emot tersenyum, dengan harapan agar siswa dapat melihat senyum manis saya, sang guru.

Tidak lupa juga menyampaikan kepada teman-temannya di grup kelas, perihal mulainya jam belajar, saya memberikan kelonggaran jika siswa berhalangan, untuk menunaikan kepentingan mereka di rumah, terutama yang berkaitan dengan membantu orang tua mereka.

Google class room, zoom, cisco webex, edmodo, dan banyak lagi aplikasi yang bisa digunakan untuk belajar daring. Namun, voting dengan siswa, mereka memilih menggunakan WA Group.

Sebagai guru, tentunya saya mengalah. Tadinya akan ada best practice keren, menggunakan beberapa aplikasi dalam tulisan akhir tahun ini.

Tapi tentu bagi seorang guru tidak boleh egois. Kadang, untuk merefleksikan diri, saya sering bertanya kepada diri sendiri, pembelajaran itu urgensinya apa?.

Papan tulis kecil sudah lama cuti, lalu saat ini dikeluarkan lagi dari gudang. Alhamdulillah, digunakan kembali. Karakter mata pelajaran yang saya ampu, butuh coret-coretan, tak melulu mengandalkan slide.

Kolaborasi IT dan tulisan manual tetap ditempuh. Penjelasannya dilakukan melalui video, pesan tertulis, foto, dan tentu pesan suara. Semua ada saat belajar daring fisika, bersama saya.

Di ujung waktu, tak sedikit anak-anak bertanya, “Bu, kenapa nggak ada PR?” Lalu saya jawab, “Demi kebahagiaan kalian, tidak ada PR. Semua soal akan selalu dibahas saat pembelajaran, bagi yang memaksa ingin PR, silahkan japri.”

Baca Juga  Manula, Stok Sabar yang Tidak Berbatas

Apakah ada yang japri? Dari sekian banyak siswa, ternyata, ada pula yang japri minta tugas dan mengumpulkan. Keren! Tak semua siswa bahagia ketika tidak diberi tugas. Jadi, berilah tugas pada siswa yang membutuhkan.

Apakah pengalaman di atas menunjukan partisipasi siswa seratus persen online saat belajar? Tidak sesempurna itu, Kawan.

Pekan pertama sudah beruntung setengah kelas bisa online, itu pun ada yang satu WA dipakai untuk dua orang. Mereka bersaudara, atau hanya tetangga. Bahkan ada yang lebih dari itu.

Di daerah saya, masih banyak anak SMA yang nggak difasilitasi HP atau android oleh orang tua mereka.

Biasanya, tagihan kepada mereka mengirimkan kolase foto catatan dan foto diri. Nah,  mereka yang tidak memiliki HP, atau ada HP tapi tidak punya kuota, pengiriman dipending atau nebeng ke saudara, bahkan ada yang menebeng tetangga. Dikirim ke temannya, lalu oleh teman sekelas dikirim ke group. Sungguh! Perjuangan heroik bagi mereka.

“Bu, maaf saya terlambat, harus naik ke bukit dulu, mencari sinyal yang bagus.” Ada pula permohonan seperti ini. Tidak satu orang.

Terbayang, mereka membawa tas, naik bukit, pakai masker. Semoga tidak sampai harus naik pohon.

Beberapa siswa mengaku, penggunaan handphone bergantian dengan orang tua. Ia bisa meminjam saat sore sampai malam hari. Tentu setelah orang tua mereka pulang bekerja. Bahkan, ada yang dibatasi hanya dua jam paling lama.

Otomatis, saya, sebagai guru tidak bisa seperti mengajar di kelas saat tatap muka langsung. Jika saat itu terlambat lima menit saat masuk kelas bisa dikenai sanksi, saat ini tentu tidak bisa.

Apa benar alasan yang dikemukakan siswa? Jangan-jangan hanya alasan saja. Bisa ya bisa tidak. Saya tidak mau ribet memupuk prasangka buruk. Lebih baik percaya saja kepada mereka. Jika mereka berbohong, toh, bukan saya yang berhak memberi label dosa.

Baca Juga  Nir

Hal yang dapat saya lakukan, saat pembelajaran daring, memberikan cerotan-cerita inspiratif tentang kejujuran terlebih dahulu.

Tentunya juga sebagai seorang guru tidak boleh memberikan tekanan, apalagi menuduh mereka berbohong.

Nah, sebagai seorang guru kita hanya dapat memberikan kepercayaan penuh kepada mereka, tentu hal ini jika dilakukan secara akan membawa mereka lebih berbuat jujur.

Guru sebaiknya tidak terlalu merasa bahwa dirinya sebagai pahlawan saat belajar daring. Ya, memang banyak pengorbanan, waktu, kuota, dan penggunaan perangkat elektronik pribadi digunakan.

Pada waktu di sekolah, perangkat pembelajaran difasilitasi sekolah. Saat pembelajaran jarak jauh, kebutuhan kuota jauh berlipat ganda. Bahkan bila dokonversi dari uang ongkos pun akan jauh berlipat ganda.

Tentu, hati kecil saya, juga teman-teman guru lain berharap ada penggantian kuota dari pihak sekolah, itu telah diperbolehkan juga oleh kementrian melalui dana BOS. Namun, bila tidak, ya, guru harus legowo, rela mengorbankan pundi rupiah yang dialokasikan untuk pembelajaran daring.

Toh, siswa pun berjuang payah menggunakan kuota untuk pembelajaran mereka.

Semua pihak berjuang sesuai kapasitas dan peran masing-masing. Guru, bukan satu-satunya pejuang pembelajaran daring saat wabah corona merajalela. Bagi saya, para siswa lah pejuang sejati untuk memperoleh hak-hak mereka, dengan menaklukan segala kendala dan tantangan.

*Penulis adalah Guru fisika di SMAN 1 Sariwangi Kab. Tasikmalaya Jawa Barat.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment