Kemudahan Tulisan Ilmiah
Tulisan ilmiah bagi mahasiswa bukan lagi istilah asing. Semenjak duduk di semester awal, setiap dosen pasti akan menugaskan untuk membuat tulisan ilmiah, baik berbentuk artikel atau laporan penelitian. Penugasan tulisan ilmiah menjadi kewajaran, mengingat kampus merupakan ruang akademik dengan memiliki tradisi ilmiah yang ketat.
Meski kampus memiliki tradisi ilmiah yang ketat, tetapi nyatanya tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan menulis ilmiah dengan baik. Setidaknya ada dua faktor menjadikan mahasiswa tidak memiliki kemampuan menulis ilmiah dengan baik. Pertama, mahasiswa memiliki literasi dan menulis yang rendah. Kedua, tingkat kesulitan tinggi. Tulisan ilmiah lebih ketat daripada tulisan opini. Tulisan ilmiah harus bersifat objektif melalui posisi metode penelitian, paradigma, dan konseptual teori.
Ketatnya tradisi tulisan ilmiah, menjadikan para mahasiswa gelagapan saat menghadapi tugas menulis tulisan ilmiah dari dosennya. Kendati memang sulit untuk menuliskannya, tetapi pada kenyataannya tidak terlalu sulit seperti yang dibayangkan, selama kita konsisten untuk melatih diri.
Begitu kondisi yang saya rasakan. Pada awal semester sampai semester empat, saya merasakan kesulitan menuliskan tulisan ilmiah. Hingga di semester lima setelah memperoleh gemblengan dari dosen, saya tekun membiasakan diri menulis tulisan ilmiah.
Memulai dari Kesesuaian Diri
Ada banyak hal yang bisa dilakukan agar tidak mengalami kesulitan saat menulis tulisan ilmiah. Hal utama adalah mengambil topik permasalahan yang kita minati. Misalnya, jika memiliki minat lebih pada isu gender, maka lebih afdal untuk mengangkat fenomena penelitian pada permasalahan gender. Dan kita harus mengeksplorasi berbagai persoalan gender di sekitar kehidupan.
Memfokuskan permasalahan pada kehidupan sekitar bertujuan untuk mendapatkan kedalaman data. Misalnya saja, saya sebagai orang Madura. Maka, lokasi penelitian yang saya ambil adalah di Madura. Ini menjadi penting. Kenapa? Pertama, karena keberadaan saya sebagai orang Madura, akan memberikan kemudahan untuk memperdalam data. Kedua, jati diri sebagai orang Madura, akan membuat saya lebih meresapi dan bersimpati terhadap permasalahan. Sehingga, eksplorasi data tidak menjadi dangkal.
Karenanya, jangan sekali-sekali mengambil fenomena yang tidak menjadi minat dan berada di luar jangkauan kita. Sebab, kita tidak akan mendapatkan gairah untuk mencari data dan menuliskan laporannya. Saya pernah kala berkuliah sarjana, meneliti fenomena agama di “kampung teroris” di luar Madura akibat kesepakatan dosen dan ketua kelompok. Akibatnya, saya tidak bergairah dan bersungguh-sungguh saat berada di lapangan dan menuliskan laporannya.
Namun, bagaimana jika mahasiswa yang sedang bimbingan kepada dosennya, kemudian dosennya tidak menginginkan topik yang diangkat oleh mahasiswanya? Padahal, topik penelitiannya sudah sesuai dengan minat dan keresahan? Dari pengalaman saya, kita bisa mengatasinya dengan memberikan argumen rasional dan kuat kepada dosen tentang alasan, keunikan, dan kebaruan dari fokus penelitiannya.
Kekayaan Referensi Sebagai Senjata
Memberikan argumen tentang alasan, keunikan, dan kebaharuan, bukan sesuatu yang mudah. Butuh bacaan kuat untuk bisa melakukannya. Makanya, hal lain yang tidak kalah penting saat menulis tulisan ilmiah adalah mengumpulkan referensi sebanyak-banyaknya. Jika sudah mendapatkan ide, namun tidak mempunyai kekayaan referensi, akan menjadi percuma.
Mengingat, tulisan ilmiah berkutat pada kuatnya tradisi ilmiah. Sehingga, sangat memerlukan referensi yang berkualitas sebagai acuan konsep, data, dan penguat argumen. Saya masih sering menemukan tulisan ilmiah pada bagian latar belakang dan kajian pustaka, sangat minim referensi. Minimnya referensi akan mendapatkan penilaian dari dosen sebagai tulisan opini, lantaran tidak memiliki landasan berpikir.
Selain berfungsi sebagai landasan berpikir, pentingnya referensi di tulisan ilmiah juga berguna untuk menggambarkan posisi kebaruan penelitian. Sehingga, kita bisa meletakkan kekurangan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan.
Fungsi lainnya juga berguna untuk memposisikan grand diskursus dari fenomenanya. Misalnya, mengangkat fenomena tentang minimnya tingkat membaca murid. Banyak sekali aspek keilmuan yang bisa mengkaji fenomena minimnya tingkat membaca murid, bisa dari keilmuan pendidikan, agama, ekonomi. Tetapi, kita mau mengkajinya dari aspek sosiologi kritis. Maka, kita harus memasukkan pemikiran dari Paulo Freire, Antonio Gramsci, dan Michel Apple, misalnya.
Melalui kekayaan sumber referensi yang terkumpul, ada baiknya membuat tabungan literatur untuk memudahkan saat mengutip dan menuliskan sebagai data. Saya biasa menuliskan tabungan literatur terdiri dari konteks dan ringkasan. Konteks berisi identitas referensi, seperti judul, tahun, dan nama penulis. Sedangkan ringkasan berisi rangkuman penting dari bacaan.
Menulis Tanpa Bertele-tele
Setelah ide dan referensi sudah tersedia, selanjutnya menuliskan isi. Yang esensial saat menulis, jangan bertele-tele. Tulisan ilmiah membutuhkan kualitas, bukan kuantitas. Saya masih menemukan, tulisan ilmiah yang bertele-tele. Seperti, tulisan mengangkat topik kesenian di Surabaya, namun di pendahuluan masih membahas jumlah suku di Indonesia dan jenis-jenis seni di Indonesia. Tulisan bertele-tele akan menjadikan isinya tidak komprehensif. Pun berdampak pada kejenuhan pembacanya.
Tidak kalah penting saat menulis adalah memfokuskan pada bagian hasil dan diskusi. Pada bagian hasil dan diskusi, bukan sekadar menuliskan data di lapangan, melainkan memberikan analisis yang komprehensif. Analisis komprehensif bisa terlihat dari keruntutan interpretasi-kritis, serta mampu menunjukkan realitas dari sebuah fenomena.
Agar mampu menghasilkan analisis dengan baik, saya biasanya menuliskan semua data dari lapangan di catatan lapangan. Kemudian, membacanya secara berulang-ulang. Setelah membaca secara berulang, lalu memetakan data yang relevan dan yang tidak relevan dengan tujuan penelitian. Selanjutnya, menginterpretasikan sesuai konsep teoritis.
Dengan demikian, sebenarnya menulis tulisan ilmiah bukan momok menakutkan, selama mampu menyederhanakan fenomena sesuai dengan kegemaran dan kegelisahan. Terlebih lagi rutin menulis tulisan ilmiah dengan baik. Bagaimana caranya? Caranya sederhana, yakni setiap mahasiswa mendapatkan tugas dari dosen, maka mahasiswa harus serius mengerjakannya.
Jangan pernah menuliskan mepet deadline. Apabila menulis mepet deadline, tulisan ilmiah tidak akan berkualitas. Karena, mahasiswa tidak memiliki waktu cukup untuk merenungkan fenomena, mengumpulkan literatur, mengumpulkan dan menganalisis data, menuliskan data, dan menyunting tulisan.
Dan yang terpenting lainnya, jangan sekali-sekali menggunakan jasa joki. Selain merugikan secara ekonomi, juga merugikan diri sendiri. Kita tidak bisa mengambil manfaat ilmu selama berkuliah. Ingat kata Aristoteles, “pendidikan mempunyai akar pahit, namun buahnya manis.” Lantas, bisakah kita membiasakan diri menulis tulisan ilmiah dengan serius dan baik?

Mahasiswa Sosiologi dan penulis konten Arena Sosial
