f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan dalam foto

Perempuan dalam Foto

Caption foto merupakan hal yang penting bagi saya. Selain memberikan konteks dan keterangan mengenai foto itu diambil; biasanya caption juga membubuhkan makna penting bagi kita tentang tanggapan penting atas peristiwa yang terjadi di foto tersebut. Sebegitu lekatnya kaitan foto dengan caption, tak jarang jika ada seorang kawan yang  bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memberikan caption foto yang pas tiap kali ia mengunggah foto akun media sosialnya. Baginya semua harus presisi dan indah, untaian kata sebaiknya menggambarkan diri dan peristiwa itu; sehingga setiap pembaca akan turut membara bahagia ataupun sedih, bahkan merasa kocak dalam satu caption. Rumit bukan?

Sementara kita tinggalkan sejenak kerumitan itu. Sebagai pengangguran yang bersahaja selama tiga bulan ini, pagi ini saya punya waktu luang jalan-jalan ke beberapa akun Facebook yang sudah lama tidak saya singgahi. Saya berhenti pada sebuah akun yang seluruh dinding Facebooknya hanya terisi kaos olah raga dan berbagai posenya membawa bola. Sesekali ada beberapa foto tim yang terpampang sambil memberikan tawa tiga jari. Genah sekali, mereka berbahagia bermain di lapangan rumput hijau yang terhampar luas.

***

Saya berhenti di sebuah foto, si pemilik akun yang lelaki ini berpose bersama 3 perempuan. Mereka semua masih mengenakan baju olah raga dan berbaris menjadi satu. Berpose wajar sambil diberi caption : mbak ini pokoknya aku yang pertama, mbak ini yang kedua, mbak ini manut yang keberapa aja. Saya mendadak males : Mereka jelas baru selesai bermain di lapangan, kenapa malah memberi caption yang jauh dari itu?

Saya jelas senang jika perempuan dan lelaki berada dalam satu ‘forum’ yg sama untuk berolahraga. Tapi perkara caption ini mengganggu saya; sebetulnya apa tujuannya mengajak perempuan bermain bola bersama timnya jika ia tak fokus memberikan apresiasi pada 3 perempuan yang bermain bersama mereka?

Baca Juga  Kritik Hadis Misoginis Fetima Mernissi Part 2

Perempuan ini pasti menjadi kaum minoritas yang teguh mau bersenang-senang menggocek bola; mereka mencurahkan tenaga dan konsentrasi yang sama di lapangan hijau sebagaimana pemain laki-laki. Sayangnya satu atau dua lelaki yang bermain bersama mereka luput fokus pada eskalasi permainan dan strategi mereka di lapangan hijau. Saya tak berpikir panjang, saya mengumpulkan keberanian dan menjapri pemilik akun. Memberi tahunya bahwa memberi caption yang tepat akan menghindarkannya dari perilaku tidak adil. Caption bisa saja memberi tahu kami siapa kamu dan bagaimana kamu melihat perempuan secara keseluruhan.

Apakah Sikap Saya Berlebihan?

Entah, tapi rasanya tidak. Saya hanya perempuan yang ingin perempuan dilihat sebagaimana adanya. Saya hanya ingin dunia yang biasa saja. Dan saya hanya ingin memberikan pilihan kepada pemilik akun tadi, bahwa alih alih memberikan caption demikian kamu bisa mengapresiasi cara mereka bermain dan berucap terima kasih karena sudah berkenan menyisihkan waktu bersama mereka di lapangan. Atau ceritakan bagaimana mereka bertiga sebagai tim yang menyenangkan di lapangan meskipun terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Jika khayalan akan nomer 1 dan seterusnya tak bisa dibendung, simpan khayalan itu untukmu sendiri. Bukan kamu jadikan caption dan membuat yang lain turut berkomentar serupa di kolom komentar. Sebab saya juga akan melakukan hal yang sama kepada laki-laki yang kelak bekerja sama dengan saya di manapun itu. Saya berusaha, memberikan caption yang deskriptif sebagaimana saya bekerjasama dengan lelaki ini dan memberikan komentar apresiatif.

Saya berkomitmen, apapun yang saya khayalkan terhadap lelaki ini akan saya simpan dalam dalam dan tidak akan saya nampakkan. Demi apa? Tentu tak hanya menjaga image, demi keadilan dan penghargaan setinggi-tingginya terhadap apa yang tidak nampak dan kerja kerasnya memenuhi isi otak. Meskipun si pemilik akun bersikeras yang dilakukan tidak salah, ia berjanji tidak akan mengulanginya. Saya juga merasa ia mungkin akan lupa terhadap janji yang ia tulis di jari whatsapp itu, jika ia lupa maka saya akan ingatkan lagi.

Baca Juga  Muhadjir Effendy dan Pernyataan Keluarga Miskin
***

Perkara caption ini saya tak melihatnya sebagai kejahatan yang keji. Melihat bagaimana dialog ini dibangun pagi ini, saya merasa setiap kekeliruan bisa diobrolin ulang sembari haha hihi – ya meskipun saya agak serius si, tapi berupaya santai dengan menyelipkan emot uwu dan stiker kocak – . Semoga setiap kekeliruan menjadi sarana edukasi yang merantasi sekabehane.

Saat saya menulis ini, saya juga berharap dan mengingat apakah saya pernah melihat seorang lelaki berdasarkan ketertarikan saya secara fisik belaka, memaksanya secara paksa dalam khayalan saya dan menjadikan itu satu-satunya cara saya melihatnyaa?

Semoga tidak, dan seterusnya akan tidak. Semoga saya tetap dan akan terus  melihat seorang bakul cilok dari ciloknya yang enak dan sambelnya yang tetap pedas meskipun harga cabai 1 kg mulai tidak terjangkau bagi kebanyakan orang.

Bagikan
Post a Comment