Dari tahun ke tahun pertumbuhan pesantren dan santri meningkat setiap tahunnya. Dikutip dari Republika bahwa pada tahun 2016 terdapat 28,194 pesantren yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia dengan total santri mencapai 4,290,626 santri. Dan angka itu akan terus meningkat setiap tahunnya.
Saat ini banyak dari para orang tua memercayakan pendidikan anaknya kepada pondok pesantren. Jika dulu pondok pesantren sering dianggap sebelah mata oleh masyarakat, namun kini tidak. Bahkan saat ini, orang yang masuk pondok pesantren termasuk orang yang memiliki privilege.
Namun dibalik semakin meningkatnya pertumbuhan pesantren dan santri, ada sebuah realita yang sering saya jumpai. Realita ini berkaitan dengan orang tua yang anaknya sedang menempuh pendidikan di pesantren. Realita ini saya ambil dari pengamatan waktu saya masih menjadi santri, pengurus, dan pengajar di pondok pesantren.
***
Dari pengalaman saya melihat berbagai macam orang tua yang memasukan anaknya ke pesantren, ada orang tua yang sangat memercayakan anaknya ke pesantren. Dan ada pula orang tua yang kurang memercayakan dengan pesantren.
Kebanyakan dari mereka yang memercayakan sepenuhnya kepada pesantren, mereka jarang menghubungi anaknya. Menghubungi anaknya hanya menanyakan kabar lewat perantara ustadnya. Ini memang tidak salah. Memang keinginan pesantren adalah orang tua memercayakan sepenuhnya pendidikan anak kepada pesantren.
Namun, bukan berarti karena sudah memercayakan sepenuhnya kepada pesantren, orang tua tidak memperhatikan perkembangan anak langsung dari anaknya itu sendiri. Yang sering saya jumpai biasanya karena memiliki kesibukan dan pekerjaan yang super padat, orang tua biasanya menitipkan sejumlah uang kepada ustadnya untuk memenuhi keperluan anaknya di pesantren.
Jika ingin menanyakan kabar anaknya biasanya melalui perantara ustadnya, tidak menanyakan kabar langsung kepada anaknya. Ini tidak sepenuhnya salah, karena mereka pun kerja untuk memenuhi kebutuhan anaknya di pesantren.
Namun, anak pun terkadang ingin rasanya ditanya kabar oleh orang tuanya, sekedar bertanya kegiatan-kegiatan seputar di pesantren atau seputar kabar anaknya di pesantren. Bagi mereka itu saja sudah cukup.
Meski kelihatannya hal yang remeh, namun dampaknya cukup besar. Dengan melakukan hal-hal seperti itu, akan membuat sebuah hubungan emosional yang kuat.
***
Mungkin saat di rumah karena masih sering bertemu kedua orang tua, jarang sekali mengobrol seputar kegiatan sehari-hari. Maka dengan masuk pesantren karena jarang bertemu, hal-hal seperti itu merupakan sesuatu yang berharga sekali. Maka manfaatkanlah waktu-waktu berharga seperti itu, meski terlihat seperti hal yang remeh.
Kalau santri baru terutama yang baru menginjak SMP memang masih sering ditanya seperti itu. Namun biasanya yang sudah cukup lama di pesantren, hal-hal remeh seperti itu sudah jarang dilakukan oleh para orang tua. Mereka menganggap anaknya sudah betah dan mereka cukup memenuhi kebutuhannya saja. Padahal tidak sepenuhnya begitu.
Para ustad di pesantren selalu menganjurkan para santri untuk menanyakan kabar dengan menelepon orang tua duluan. Padahal para santri pun ingin rasanya ditelepon terlebih dahulu oleh orang tuanya masing-masing. Terlebih santri yang sudah cukup lama.
Maka dari itu, meski orang tuanya sudah memenuhi kebutuhan anaknya di pesantren, orang tua tetap harus memantau perkembangan anaknya secara langsung. Nggak hanya datang saat pembagian rapot. Minimal melihat perkembangannya langsung selama satu bulan sekali. Namun kalau sekiranya jauh atau benar-benar sibuk, bisa menanyakan kabar perkembangannya melalui si anaknya langsung dan juga ustadnya. Agar seimbang.
Maka jangan salahkan sang anak bila saat waktu penjengukan itu tiba, sang anak lebih fokus bermain ponsel daripada mengobrol bersama orang tuanya. Karena sang anak merasa orang tua hanya memenuhi kebutuhan primer saja saat di pesantren. Ini jika peran orang tua hanya memenuhi kebutuhan primernya saja, tanpa bertanya kabar pada anaknya.
Namun tidak semua orang tua seperti itu. Dari pengalaman saya sebagai pengurus, ada pula orang tua yang perhatian sekali kepada anaknya. Saking perhatian kepada anaknya, sampai-sampai bisa mengintervensi pesantren.
***
Pernah suatu ketika ada santri baru yang cukup nakal. Namun saking percaya kepada anaknya, saat pesantren memberi tahu kenakalan anaknya, malah orang tua kurang percaya terhadap pesantren. Biasanya ujung dari masalah seperti ini si santri bermasalah tersebut pindah sekolah.
Maka dari itu jika ingin memasukan anak untuk masuk pondok pesantren, antara anak dengan orang tua harus memiliki komitmen yang sama. Maksudnya antara anak dan orang tua sama-sama siap jika sang anak nantinya masuk pondok pesantren. Harus siap lahir dan batin.
Misal jika hanya salah satunya yang ingin masuk pesantren, itu bakalan kacau. Ada kasus waktu dulu si anak ingin masuk pesantren, orang tuanya setuju-setuju saja. Namun dalam hati orang tuanya masih tidak rela. Maka ujungnya si anak itu pindah karena orang tuanya selalu merasa sedih karena ditinggal sang anak yang masuk pesantren.
Begitupun jika hanya orang tua yang ingin anaknya masuk pesantren dan anaknya tidak setuju alias tidak mau. Biasanya sang anak bakalan membuat banyak masalah sehingga ia bisa dipindahkan oleh orang tuanya, atau paling parah dikeluarkan dari pondok pesantren.
Untuk masuk sebuah pondok pesantren memang dibutuhkan komitmen antara anak dan orang tua. Mereka harus saling bersinergi.
Biasanya jika keduanya berkomitmen, kehidupan di pesantren akan baik-baik saja. Tapi masalah-masalah itu pasti ada. Tapi jika keduanya saling bersinergi dan berkomitmen, masalah seperti itu hanya seperti batu kerikil. Bisa dengan mudah dihadapi dan dilewati.
Jika kalian bertanya bagaimana cara bersinergi antara orang tua dan anak itu. Salah satu caranya tentunya adalah dengan memenuhi kebutuhan anaknya, dan juga mendoakan sang anak itu sendiri. Salah satu doa yang mustajab yakni doa dari kedua orang tua, apalagi mendoakan anaknya yang sedang belajar agama di pondok pesantren.
***
Maka bersikaplah tawasuth. Bersikap tengah-tengah. Orang tua serahkan pendidikan anaknya sepenuhnya kepada pesantren, tapi orang tua pun jangan lupa memantau perkembangan anaknya melalui anaknya langsung dan dari ustadnya. Dan doakanlah selalu anaknya yang sedang belajar agama di pesantren.
Lalu jangan terlalu memanjakan anaknya yang di pesantren, karena itu akan menjadi sebuah malapetaka yang akan terlihat di waktu yang akan datang. Ajarkanlah anak untuk belajar hidup sederhana dan mandiri saat di pesantren.
Karena jika sudah terbiasa hidup seperti itu di pesantren, maka itu akan menjadi sebuah kebiasaan baik yang akan terus terbawa hingga tua nanti.
