Mencintai dengan Benar dan Proporsional
Cinta adalah keajaiban, pembebasan, kemustahilan yang termungkinkan, adalah dunia dalam genggaman, kekuatan tak tertandingi, cahaya yang menerangi hati, puisi yang paling abadi, segala keindahan. Sebab cinta, seseorang rela menunggu dan menunggu, padahal menunggu adalah hal yang membosankan. Karena cinta seseorang rela menghabiskan uang, untuk apa saja yang kekasih hatinya senang, untuk pulsa dan kuota demi menelepon seharian. Sebab cinta, seseorang bahkan bisa membangun seribu candi dalam semalam, atau mengerat senja dan mengirimkannya bersama surat untuk pacarnya yang manis, paling manis, dan akan selalu manis. Begitu dahsyat daya sesuatu yang oleh peradaban manusia diberi nama cinta itu. Namun, apakah itu membuat cinta menjadi sesuatu yang mutlak sempurna?
Nyatanya, cinta pun bisa membuat seseorang menjadi buta mata-akal-hati, kehilangan arah hidup, hingga lenyaplah kesejatiannya sebagai manusia. Benarkah itu salah cinta? Atau kesalahan ia yang mencintai? Ia yang tak mampu mengendalikan cintanya yang begitu menggelora?
Pada cinta, seseorang mesti bijaksana. Bukan saja karena cinta itu dapat membinasakan, tetapi juga karena cinta harus diperlakukan dengan segala cara yang suci. Bukankah cinta adalah kesucian itu sendiri?
Tentang cinta, semua orang merupakan pembelajar. Hanya mereka yang mengembara dalam dunia keilmuan cinta dengan sungguh-sungguh akan menemukan kemurniannya, keasliannya. Dengan begitu, tidak akan ada pencinta yang mengelola cintanya dengan salah, memaksakan cintanya sehingga cinta itu menjadi cinta yang membelenggu, cinta yang menyakiti, cinta yang menghadirkan tragedi, sengsara, bencana, malapetaka.
Menjaga Cinta
Cinta memang hidup di dalam hati, tetapi ia mesti dijaga dan dikelola oleh akal. Sebab hati dekat dengan nafsu, sedangkan akal tempat bersemayamnya ilmu dan kebijaksanaan.
Para pencinta punya keharusan untuk menghidupkan akal dan menjalankannya. Akal senantiasa menimbang antara benar dan salah, baik dan buruk, indah dan jelek—dan selalu mengambil pilihan yang pertama, tentu jika akalnya itu sehat. Pencinta yang demikian bakal mengetahui hal-hal yang terbaik baginya dan yang ia cintai. Ia akan tegar menghadapi gangguan nafsu yang selalu saja mengarahkan pada yang hina. Nafsu hanya ingin menjebak para pencinta pada kenikmatan sementara yang akibatnya tiada lain adalah derita.
Seorang pencinta yang berhasil mengendalikan cinta dan seluruh gejolaknya dengan segenap kemampuan akalnya pastilah bisa menghindari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, tercela di hadapan kemanusiaan yang beradab, dan diharamkan agama. Jika seseorang yang arif mencintai seseorang yang lain, ia akan menghadiahkan cintanya itu dengan cara yang benar dan mendapatkan restu semesta. Begitu cinta itu hadir dalam hatinya, ia segera tahu apa yang mesti ia lakukan. Apabila kecintaannya itu serius, ia akan segera menyiapkan diri untuk melamar yang ia cintai, bukan justru mengekang dalam hubungan penuh ketidakpastian, yang biasa kita sebut pacaran. Oh, pacaran, apa untungnya?
Para pencinta yang akalnya berkuasa atas cinta akan dapat memperhitungkan ke mana ia mesti melangkah bersama cinta. Cinta tidak akan bisa menghentikannya pada kefanaan dunia semata, melainkan akan terus mengajaknya mencapai keabadian surga.
Memberi Cinta
Para pelaku cinta mesti memahami bahwa cinta adalah tentang memberi, bukan meminta. Ditemukannya kebahagiaan mencintai bukan dari mengambil, tetapi dari mempersembahkan. Cinta yang memberi ialah cinta yang hidup dalam laku pengorbanan yang terjiwai oleh segala ketulusan yang setulus-tulusnya, bukan cinta dalam keegosentrisan, yang hanya mengeruk keuntungan pribadi belaka lalu meninggalkannya begitu saja.
Barang siapa yang mencintai dengan orientasi memberi, ia akan senantiasa berpikir untuk memperbaiki, melengkapi, dan memperkaya diri. Bukan saja soal materi, tetapi lebih-lebih perihal pengetahuan, keterampilan, dan kebatinan. Memberi adalah pembuktian sang pencinta bahwa ia mampu, ia punya. Jika tidak begitu, apa yang akan bisa diberikan oleh seseorang yang tidak memiliki apa-apa dalam dirinya?
Pencinta yang demikian tidak akan membiarkan yang ia cintai berhenti pada “apa adanya”. Ia akan selalu berupaya untuk membuat yang dicintainya berkembang menjadi versi dirinya yang lebih baik dan terus-menerus lebih baik. Sebab cinta yang sejati membawa para pencintanya menuju kesempurnaan diri.
Memberdayakan Cinta
Untuk mencapai kesejatian cinta yang membawa para pencintanya menuju kesempurnaan diri, dibutuhkan unsur-unsur esensial yang mesti ada dalam hubungan antara pencinta dan yang dicintai.
Pencinta yang memberdayakan cinta adalah pencinta yang perhatian terhadap yang ia cintai. Perhatian yang serius, mendalam, konsisten, bukan perhatian yang main-main. Perhatian pada peri kehidupan, segenap perkembangan, kemajuan, dan semua yang berkaitan dengan kedirian yang ia cintai. Jika benar sang pencinta itu perhatian, ia akan berusaha menjalankan seluruh keinginan dan meninggalkan seluruh keengganan yang ia cintai. Semata-mata demi kebaikan keduanya.
Pencinta yang memberdayakan cinta adalah pencinta yang bertanggung jawab, bukan pencinta yang terperangkap pada pola “Aku, ya, aku! Kamu, ya, kamu!”. Pencinta yang sungguh-sungguh bertanggung jawab ialah pencinta yang terlibat dalam semua upaya menuju kebahagiaan dan kesejahteraan yang ia cintai. Bertanggung jawab dengan tepat. Bukan bertanggung jawab yang berlebihan sehingga menjelma dominasi atau kuasa sekehendaknya saja terhadap yang ia cintai.
Pencinta yang memberdayakan cinta adalah pencinta yang menjunjung kehormatan dan menghargai sosok yang ia cintai sebagaimana adanya. Tidak memaksakan untuk mengubah yang ia cintai sesuai keinginan sang pencinta tanpa memperhatikan keunikan dan keaslian jati diri yang ia cintai. Apabila tidak ada penghargaan dan penghormatan, tidak ada cinta di antara keduanya.
Pencinta yang memberdayakan cinta adalah pencinta yang sepenuhnya berpengetahuan tentang yang ia cintai. Pencinta yang menerima dan menjalani kehidupan cinta dengan yang ia cintai berdasarkan segenap pengetahuan. Pengetahuan itulah yang membuat cinta menjadi utuh. Sehingga bagaimana pun gejolak yang akan datang menerpa, kedua insan yang mencintai itu tidak mudah terombang-ambing menemukan jalan keluar.
Lantas, sudah siapkah engkau menjadi pencinta yang mencintai dengan benar?
Mahasiswa PBSI Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif juga di Komunitas Literasi Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta.
