f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pasangan idaman ideal

Pasangan Ideal untuk Relasi yang Sehat

Menyukai seseorang bukanlah suatu kejahatan. Perasaan semacam itu timbul secara naluriyah pada diri setiap orang dan merupakan berkah dari Allah. Sudah sepatutnya kita menyukurinya, bukan menjadikannya sebagai penyesalan atau bahan olokan.

Budak cinta atau akrab dikenal dengan istilah Bucin, nyatanya makin membuat resah seseorang yang sedang menyukai orang lain. Pasalnya, orang yang menyukai atau sedang tertarik dengan orang lain diidentikkan dengan buta sekitar karena cinta yang overload. Padahal, tidak semua perasaan suka sukar dikendalikan.

Walhasil, ketertarikan kepada seseorang dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Hingga tak jarang, banyak orang lebih suka memendam perasaannya dari pada memilih untuk mengutarakannya. Atau bahkan ada alasan lain yang lebih dominan, seperti takut dicap murahan atau takut ditolak.

Well, apa pun alibinya, memiliki rasa suka atau ketertarikan kepada orang lain bukanlah dosa. Akan menjadi dosa jika membuat rugi diri sendiri atau orang lain. Jadi, berhenti untuk menyebut orang lain sebagai Bucin karena rasa ketertarikannya.

Saya yakin, mereka yang mengolok-olok perasaan suka itu pernah merasakan hal serupa. Muskil rasanya kalau tidak pernah memiliki rasa suka kepada orang lain. Toh, Allah memberi manusia hati dengan beribu perasaan di dalamnya.

Ingat, Allah menciptakan makhluk-Nya dengan berpasang-pasangan supaya saling mengenal. Artinya, bukan suatu hal yang menyedihkan untuk menyukai seseorang dan berusaha membuatnya dengan ikhlas untuk menjadi pasangan kita. Dan, tidak ada salahnya bagi setiap orang untuk memiliki kriteria pasangannya masing-masing.

Setiap Kita, Bebas Berkriteria terhadap Calon Pasangan

Urusan menyukai seseorang itu kebebasan, hak pribadi. Pun dengan kriteria pasangan idaman. Setiap dari kita bebas menentukan kriteria pasangan yang sesuai dengan keinginan kita.

Baca Juga  Pendidikan Sebagai Tolak Ukur Seorang Perempuan

Lebay? Tidak. Orang lain bahkan tidak memiliki hak untuk mengintervensi hidup seseorang. Apalagi perihal sesuatu yang memang sifatnya privasi, seperti kriteria pasangan idaman. Boleh untuk memberi masukan, bukan berarti boleh untuk mengatur apalagi memaksa agar sesuai dengan kehendak orang lain.

Semua hamba Allah, percayalah bahwa selain Allah, kita juga memiliki hak atas diri kita sendiri. Ia telah memberi kita hidup di bumi untuk memanfaatkannya dengan baik. Jadi, buat dirimu menjadi baik, sebagaimana telah Allah amanahkan kepadamu. Oleh sebab itu, dirimulah yang lebih tahu apa yang kamu butuhkan dari pada orang lain.

***

Sama halnya dengan kriteria pasangan idaman, setiap orang punya hak untuk menuliskan kriterianya. Tidak perlu malu, karena memang ini bukan komedi. Saya pun akan dengan bangga menulis kriteria pasangan idaman, sebagai berikut.

Pertama, orang yang akan menjadi pasangan saya kelak, ia harus seiman. Bukan bermaksud melanggengkan pemikiran penganut konservatif yang memang harus sederajat dan semartabat. Tetapi perihal keyakinan bukanlah sesuatu yang sepele.

Rasa suka kepada seseorang tentu beda dengan keyakinan. Perasaan suka, kamu berikan kepada makhluk ciptaan-Nnya. Tetapi, keyakinanmu kepada-Nya, hanya kamu berikan kepada-Nya. Orang lain, bahkan orang yang kita suka sekalipun, ia tak berhak mengintervensi keyakinan kita.

Nah, ini yang menjadi alasan utama saya untuk memilih pasangan yang seiman. Saya ingin belajar bersama-sama untuk mengenal lebih dekat keyakinan yang memang sama-sama kita anut. Dengan ini, tidak akan ada intervensi pada salah satu pihak perihal keyakinan yang memang sakral.

Kedua, good attitude. Adab lebih dulu tanamkan pada diri sebelum ilmu apa pun. Namun, bukan berarti beradab tanpa ilmu, ya. Karena keduanya, baik ilmu maupun adab sama pentingnya untuk kehidupan.

Baca Juga  Gerakan Filantropi Kaum Santri

Saya berharap memiliki pasangan dengan moral yang beradab dan cerdas, tentu saja. Karena percuma saja memiliki ilmu setinggi langit, kalu tidak beradab. Ia sama saja dengan berotak besar tanpa isi. Sangat disayangkan.

***

Ketiga, adil. Perihal keadilan bukanlah hal yang mudah. Saya pun percaya, hanya Rasulullah-lah satu-satunya manusia yang mampu berbuat adil. Namun, bukan berarti kita tidak bisa mencontohnya untuk berbuat adil. Sekurang-kurangnya, kalau memang tidak mampu berbuat adil, maka jangan sesekali berpikir untuk berbuat curang.

Keempat, rendah hati. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini hanyalah milik-Nya. Kelimpahan yang didapat tidak sepantasnya untuk disombongkan. Akan menjadi rahmat yang melimpah, seandainya mampu membagi sesuatu yang didapat kepada orang lain. Oleh karenanya, seseorang yang memiliki kerendahhatian, bagi saya sangat amat memikat.

Kelima, cerdas. Akan sangat menyenangkan memiliki pasangan yang cerdas. Ia memiliki wawasan yang luas dan enak diajak berkomunikasi. Sungguh, mereka yang memanfaatkan akal dari-Nya dengan bijak memang sangat mengagumkan.

Keenam, komunikatif. Ini yang menjadi salah satu kunci dalam relasi, komunikasi. Relasi tanpa komunikasi bak makanan tanpa rasa, hambar. Maka dari itu, memiliki pasangan yang komunikatif menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Terakhir, mapan. Banyak orang yang berpikir bahwa cinta saja cukup. Namun, menurut saya itu terlalu naif. Bukan bermaksud untuk materiaslistis, tetapi hidup memang butuh uang untuk bertahan.

Membangun Relasi yang Sehat dengan Pasangan Idaman

Dengan terus terang dan berani, saya tuliskan kriteria pasangan idaman. Semata-mata memang untuk membuktikan bahwa saya memang berhak untuk itu. Namun, terlepas dari semua itu, saya hanya ingin menciptakan relasi yang sehat dengan orang yang saya sukai.

Baca Juga  Urgensi Epistemologi; Pengantar Manusia dan Tuhan

Bagaimana menciptakan relasi yang sehat? Ya, dengan berlandaskan keadilan gender dalam relasi. Jangan dikira keadilan gender hanya menguntungkan perempuan saja, baik laki-laki maupun perempuan yang menganut paham keadilan gender akan sama-sama diuntungkan di sini.

Bayangkan saja, kamu memiliki pasangan yang mampu mengertimu dan kamu pun mengerti dirinya. Siapa yang diuntungkan di sini? Semua pihak akan merasa diuntungkan dalam relasi sehat yang berkeadilan gender.

Namun, pertama-tama yang harus dilakukan adalah menciptakan dialog atau diskusi dengan pasangan. Ini penting untuk menciptakan relasai yang sehat. Diskusikan apa yang kamu dan pasanganmu sukai dan tidak sukai, apa yang ingin dilakukan dan dihindari, apa yang hendak disepakati dalam hubungan kalian, dan lain sebagainya.

Kedua, paham kesalingan. Tidak lucu kalau kamu menuntut pasanganmu untuk menjadi ini-itu, namun kamu sendiri enggan untuk melakukannya. Maka dari itu, dalam hubungan perlu “saling” untuk melakukan apa pun.

Saya kira jelas, mengingat dalam hubungan perlu dialog dan kesalingan. Dan yang paling utama adalah pengimplementasian. Percuma saja, kalau matang di teori, tapi gagal di aksi. Maka dari itu, perlu sering-sering mempraktikkannya dengan pasangan.

Well, bagian pentingnya adalah perasaan suka itu wajar dan bukan dosa. Pun dengan memiliki kriteria pasangan idaman. Karena berelasi atau memiliki hubungan yang sehat adalah keinginan semua orang.

Orang yang baik, akan mendapatkan pasangan yang baik pula. Kemudian, orang-orang baik ini yang nantinya akan menciptakan relasi yang sehat. Dan terus melahirkan orang-orang baik di kehidupan selanjutnya.

Bagikan
Comments
  • Aulia Syifa

    Tulisan yang berani. Keren.

    April 16, 2021
  • Andromeda

    Well, I agree with ur words, Girl. Berani parah. Great-lah.

    April 16, 2021
  • Rangga

    Tulisan menarik nih. Mantab, Kawan.

    April 16, 2021
Post a Comment