Makhluk Pencinta Kerumitan
“Dapatkan hunian mewah dan ekslusif dengan panorama danau, terbatas!” Demikian yang tertulis pada sebuah papan reklame di tepi jalan.
Bak sales, Ia seolah mewartakan dan menawarkan kepada setiap orang yang lewat. Ukuran raksasanya tak akan membuatnya luput dari pandangan mata pengendara. Ia mengingatkan saya pada sebuah brosur yang pernah saya dapat tentang tawaran apartemen mewah yang lokasinya dekat Mall.
Rumah mewah, bohong jika saya tak tergoda. Ada bayangan kepuasan sekaligus kebahagiaan seandainya saya memilikinya. Seolah ada kepercayaan diri tinggi dan semua itu bisa jadi kebanggaan saya di hadapan orang-orang. Apalagi saya seorang perantau, kadang muncul godaan untuk pamer, sebab ukuran materi sering menjadi sorotan sanak dan orang-orang di kampung.
Tapi, tentu semua itu harus saya sesuaikan dengan kewajaran dan kepantasan saya, yang paling jelas adalah kepantasan soal penghasilan. Saya mungkin dapat memilih berhutang demi mendapat hunian idaman seperti itu. Kredit ke bank dengan tenor yang Panjang. Pinjam sana sini. Tapi jelas hidup keluarga saya akan mengab-mengab setelahnya. Maka saya pun memilih rumah second di perumahan dekat perkampungan dengan harga sesuai kemampuan. Tak mewah, tak ekslusif, juga tak ada pemandangan danau. Dan rupanya saya nyaman-nyaman saja di sana.
***
Tapi, keputusan sebaliknya pernah saya lakukan saat kuliah. Saat itu, saya memaksakan diri meninggalkan kampus untuk masuk ke perguruan tinggi lain yang lebih favorit. Saat itu saya merasa menjadi mahasiswa universitas ternama rasanya sungguh membangggakan dan membuat percaya diri. Akhirnya, saya harus belajar lagi, mengumpulkan persyaratan lagi, repot-repot ikut ujian masuk lagi dan tentu biaya ini itu lagi.
Tapi, rupanya usia kebanggaan itu hanya sebentar, setahun setelahnya semua terasa biasa saja. Dan tentu keputusan saya itu membuat gelar sarjana saya tertunda setahun. Lagipula, setelah saya banding-bandingkan menjadi mahasiswa di kampus favorit tak menjamin pekerjaan setelahnya. Sama-sama susah cari kerja dan harus nganggur dulu. Bahkan, tak sedikit kawan di kampus lama yang lebih sukses.
Pada saat itu saya gagal menyadari mana yang benar-benar esensial. Padahal, segala yang esensial itu sangat sederhana. Inti dari kuliah adalah belajar, maka belajar pun tak harus menjadi rumit oleh status sekolah atau kampusnya, yang penting ya menjalani proses belajar itu dengan baik. Dan kita pun tahu banyak orang mengorbankan banyak hal, bahkan memaksakan diri menjual ini itu dan berhutang demi sebuah gengsi pendidikan.
***
Kita hidup di dunia yang penuh atribut-atribut sosial sehingga dalam mengambil keputusan seringkali bias faktor-faktor tak penting: apa kata orang, gengsi, pamer, kebanggaan, hingga status sosial. Atribut-atribut itu menyebabkan segalanya menjadi tak sederhana. Banyak hal kita paksakan dan akhirnya jadi rumit.
Saya ambil beberapa contoh. Banyak perantau di Jakarta malu jika pulang mudik tidak dengan mobil sendiri. Ada kekhawatiran orang kampungnya akan menganggap sia-sia sudah bekerja jauh-jauh. Akhirnya, mereka rela menyewa mobil saat mudik dengan harga mahal. Padahal, biaya yang keluar justru akan menguras kantong. Justru sepengalaman saya mudik lebih irit dengan transportasi umum.
Seorang kawan pun pernah mengatakan bahwa mudik merupakan momok. Sebab, ia harus mengeluarkan banyak uang untuk kendaraan, bagi-bagi uang, membawa berbagai barang-barang kota untuk diberikan pada para kerabat, mentraktir keluarga makan dan berwisata. Ketika kembali ke Jakarta, ia seolah mulai dari nol lagi.
Contoh lain. Di kampung tempat saya tinggal saat ini ada kebiasaan mengadakan pesta pernikahan anak secara besar-besaran demi menunjukan eksistensinya pada kawan, kerabat dan tetangga-tetangganya. Salah satunya yang “wajib” adalah menyelanggarakan dangdutan. Seorang warga bahkan sampai menggadaikan ini itu, pinjam sana sini demi membuat mimpi acara dangdutan terealisasi. Padahal di tempat lain, saya beberapa kali menghadiri pernikahan yang sangat sederhana. Ijab kabul berlangsung di KUA dan mengundang kerabat dengan jamuan secukupnya. Pernikahan tersebut pun tetap sah secara negara dan agama.
***
Bahkan, soal asmara pun banyak yang rumit. Misal yang pernah dialami salah seorang kawan. Suatu hari dia nampak sangat sedih. Rupanya hubungan dengan pacarnya bermasalah. Dia terancam diputus, padahal kawan saya ini sudah cinta mati dengan kekasihnya.
Sepengalaman saya, juga cerita-cerita orang, pacaran dengan bumbu cinta mati sering kali menjadi rumit. Ada yang menderita berbulan-bulan, terpuruk hingga mempengaruhi sekolah atau pekerjaan, kawin lari atau sampai bunuh diri. Padahal, putus, pisah, marah, sakit hati, patah hati, adalah hal lazim dalam sebuah hubungan. Menurut saya, pacaran hanyalah momen saling mengenal satu sama lain dan menemukan kecocokan, tak perlu sampai ada cinta yang mati-matian didalamnya.
Demikian juga dalam pekerjaan, tak jarang keinginan-keinginan untuk mencapai karir dan uang tanpa henti membuat orang memaksakan dirinya sendiri. Kerja mati-matian melebihi kewajaran, menjilat pimpinan hingga menyikut rekan kerja. Dan yang lebih parah lagi kalau sampai melakukan korupsi atau suap demi mendapatkan jabatan atau proyek. Menurut saya, itu semua adalah perbuatan yang sudah kelewatan sebab akan menyusahkan serta merugikan diri sendiri dan orang lain.
Padahal, banyak orang yang hidup samadyo (secukupnya) tetap bisa bahagia. Gaji pas-pasan tapi tetap bisa menikmati hidupanya, penghasilan tak menentu tapi masih bisa tertawa ria. Kalaupun mengharapkan lebih, maka cara yang digunakan pun sewajarnya saja. Tak perlu memaksakan diri jika tak bisa apalagi sampai berbuat tercela.
Saya jadi ingat nasihat yang paling sering disampaikan ibu saya, “Ojo ngoyo”, jangan memaksakan diri. Dalam hal apapun. Maksud nasihat itu adalah agar saya tahu batas diri saya sendiri, tahu kemampuan diri. Sebab segala yang di luar kewajaran dan dipaksakan pasti jadi rumit dan berakhir tak baik. Kalau bahasa almarhum Lord Didi, bisa-bisa malah jadi Ambyar!
Bekerja di Direktorat Jenderal Kebudayaan. Minat pada kajian sosial budaya.

Agus Sarkoro
Sangat inspiratif. Sebuah kekonyolan yang hampir setiap orang melakukannya.