f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menjaga iman

Menjaga Iman yang Fluktuatif

Tidak seperti biasanya saya terhenyak dengan kalimat yang juga sering saya dengar sebelumnya “kondisi iman itu naik dan turun”. Yang lebih membuat saya terhenyak adalah lanjutan kalimatnya, “naik dengan ketaatan dan turun dengan kemaksiatan”.

Khatib muda lulusan Al-Azhar Mesir ini tampak tenang menjelaskan dua penggalan kalimat tersebut. Katanya, kalau mau naik ya paksakan diri dengan ketaatan dan paksakan diri jauhi kemaksiatan. Saya renungi kalimat tersebut dengan mencoba lebih dalam.

Jadi, kalau selama ini saya berharap iman saya tiba-tiba naik lalu diikuti dengan ketaatan ternyata itu adalah pemahaman yang keliru atau salah persepsi. Yang benar adalah paksakan diri taat maka iman akan naik. Dengan naiknya iman, maka ketaatan juga akan semakin tumbuh.

Pun sebaliknya, semakin tenggelam dengan kemaksiatan maka iman akan semakin terjerembab. Jadi, kata kuncinya adalah ketaatan dan kemaksiatan.

Saya tidak ingat dengan penjelasan lanjutan penceramah tarawih Ramadan tersebut karena saya kemudian berimajinasi sendiri atas dua penggalan kalimat pertamanya. Saya langsung melongok pada kalimat-kalimat perintah kepada orang-orang beriman yang berkali-kali termaktub dalam sebaran lembaran kitab suci.

Karena di bulan Ramadan, tentu saja ingatan saya langsung tertuju pada ayat perintah berpuasa, “Hai orang-orang beriman telah diwajibkan atas kalian untuk berpuasa”. Puasa adalah jenis ibadah yang unik. Ibadah yang menuntut pelakunya untuk jujur. Satu-satunya ibadah yang orang bisa saja berkata berpuasa padahal sebenarnya dia tidak berpuasa. Puasa adalah ibadah rahasia. Ganjaran puasanya pun rahasia.

Saya juga langsung teringat dengan perilaku beberapa teman sebaya beberapa waktu lalu yang mengendap-endap di waktu siang di bulan Ramadan. Ada yang keluar dari warteg dan ada pula yang masuk ke warung padang. Saat coba ditanya dengan nada bercanda, yang bersangkutan senyum-senyum salah tingkah. Mungkin, saat magrib mereka akan turut buka bersama dengan anak dan istrinya di rumah. Berpura-pura haus, lapar, atau lemas ala-ala orang yang berpuasa.

Baca Juga  Kebejatan Seksual dan Hal-Hal yang Tidak Terungkap

Lagi-lagi, ibadah puasa memang ibadah kejujuran. Maka, di kesempatan lain pada bulan Ramadan lalu, saat saya masuk ke salah satu ruangan di sebuah kantor, ternyata seisi ruangan sedang asyik makan pizza di siang bolong. Saat saya diajak bercanda untuk turut makan, saya pun berseloroh dengan nada bercanda, “Puasa itu memang diwajibkan untuk orang beriman”. Saya lantas pergi meninggalkan pesta pizza agar mereka tidak terganggu dengan kehadiran saya.

Saya kemudian mencoba kembali mengeja apa sih iman itu. Bukan untuk mencari definisinya, tapi mencari agar diri ini merasakan maknanya. Bukan sekadar memahami bahwa iman itu berarti percaya terhadap enam rukum iman yang telah dideras sejak sebelum sekolah formal. Tapi ini soal merasakan hadirnya Tuhan di sisi-sisi kehidupan.

Tetiba saya mencoba mengingat-ingat akan hak orang lain yang belum ditunaikan. Saya terkenang terhadap prasangka dan sikap salah terhadap orang lain. Di tengah-tengah puluhan jamaah sholat tarawih itu, saya terpojok pada diri yang kurang beramal. Rasanya malu saat kotak amal berdenyit-denyit lewat di hadapan.

Jika selama ini ada banyak keluh dan kesah atas apa yang didapat, ternyata itu karena rasa percaya yang kurang terhadap ketetapan Tuhan yang dianggap tidak baik. Padahal satu dari rukun iman adalah percaya dengan takdir yang baik dan takdir yang buruk. Perilaku keluh kesah adalah perilaku yang hanya cocok untuk orang biasa, bukan orang beriman. Lagi-lagi, saya terpojok dengan diksi orang beriman.

Rasanya, bukan hanya nikmat Tuhan mana lagi yang kerap saya dustakan, tapi nikmat Tuhan mana lagi yang layak saya dapatkan karena sudah teramat banyak rahmat dan nikmat yang saya rasakan. Ada bagian syukur yang selama ini saya abaikan.

Baca Juga  Merawat Iman dengan Hidup Bersih dan Sehat

Saya lalu tersenyum syukur. Tersenyum betapa sempurnanya Tuhan memberikan banyak jalan atas tiap-tiap kesulitan. Merasakan kehadiran Tuhan adalah kenikmatan yang tiada terhingga. Ooh, mungkin inilah yang disebut halawatal iman sebagaimana disabda Nabi Saw. dari Anas bin Malik. Mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan taat kepadanya dan lalu membuktikan cinta tersebut dengan menebarkan kasih sayang kepada umat manusia dan seluruh alam.

Imajinasi saya semakin liar saat sadar dengan posisi diri sebagai pegawai pemerintah. Bekerja di bawah sumpah pegawai dan sumpah jabatan. Masih lekat ingatan saat kitab suci berada di atas kepala. Bekerja dengan gaji dari negara. Bekerja dengan tantangan menjaga nilai integritas dan profesionalisme. Rasanya berat.

Jebakan-jebakan korupsi yang menggila di negeri khatulistiwa ini memang tak sedikit. Bayangkan, sepasang adik-kakak yang bergantian menjabat sebagai bupati di Jawa Barat ditangkap karena persoalan nilai integritas. Bayangkan, jika terbukti di pengadilan, demi predikat hasil audit BPK mencapai norma Wajar Tanpa Pengecualian. Bupati dan jajarannya yang berkelindan dengan penilai audit BPK adalah contoh sempurna orang-orang yang tidak merasakan manisnya iman.

Selepas Ramadan, di bulan Syawal ini saya berdoa, semoga para pengelola negeri ini merasakan manisnya iman agar tetap menjadi pelayan rakyat yang berintegritas. Semoga doa yang dilantunkan di setiap membaca ayat “ihdinas-shirootol mustaqiim” diijabah oleh pemilik hidayah. Agar imannya yang fluktuatif terjaga kenaikannya. Agar tingkat percayanya kepada rukun-rukun iman berimplikasi terhadap kebaikan kepada umat manusia.

Iman yang fluktuatif memang perlu dijaga. Di antara caranya adalah berteman dengan orang-orang baik, orang-orang yang mempunyai integritas dan nilai-nilai kebaikan. Saya jadi teringat dengan kalimat sederhana lain “mari beriman sejenak”. Ajakan orang beriman kepada kaum beriman.

Bagikan
Post a Comment