Passport Bros; Untuk Dia yang Tidak Percaya Diri
Passport Bros adalah istilah yang digunakan oleh pria di Amerika yang mencari pasangan wanita di wilayah Asia. Pria Amerika merasa lebih menyukai wanita Asia daripada wanita di negaranya sendiri. Pria Amerika mencari wanita Asia yang dapat mengayomi mereka. Menurut mereka, wanita di wilayah Asia lebih penurut dan menghormati pasangannya.
Passport Bros bukan hanya dipakai dan diterapkan oleh white man saja tetapi juga oleh black man. Menurut black man, black woman itu tidak cantik, terpandang suka marah-marah, memiliki karakter yang terlalu maskulin, dan dianggap sebagai cewek matre. Begitu juga dengan white woman. Menurut white man, white woman adalah cewek matre dan hanya memikirkan seks saja dalam setiap hubungan.
Asal mula lahirnya istilah Passport Bros ini adalah karena paham feminis di negara bagian Eropa semakin meluas. Paham feminis yang membuat wanita di negara bagian Eropa memiliki prinsip yang kuat sehingga tidak bisa diperlakukan oleh pria yang menerapkan paham patriarki. Semakin banyak wanita yang menerapkan paham feminis membuat pria di Amerika merasa tidak ingin memilih wanita Eropa sebagai pasangan hidup. Pria Amerika merasa bahwa wanita yang mengerti paham feminis akan menjadi wanita yang sombong, liar, dan tidak bisa diatur.
Campaign yang digaungkan oleh Pria Passport Bros adalah menggaungkan perceraian yang semakin meningkat kepada masyarakat luas terutama kepada wanita di negara bagian Asia. Mereka percaya bahwa perceraian meningkat tinggi karena adanya paham feminis. Paham feminis ini membuat para wanita tidak tunduk patuh kepada pasangannya yang menerapkan paham yang tidak bisa dibiarkan dalam suatu hubungan yaitu paham patriarki.
Semakin banyak perempuan yang menemukan suara mereka sendiri. Sehingga mata dan pikirannya sudah terbuka. Para perempuan di negara bagian barat semakin paham bahwa nilai-nilai tradisional patriarki tidak bisa diterapkan lagi di zaman yang sudah maju ini. Banyak perempuan dari negara bagian Eropa sudah mengerti bahwa tidak ada nilai yang menguntungkan bagi mereka dari perlakuan patriarki tersebut. Hal ini yang mengakibatkan Pria di negara bagian barat merasa takut tidak memiliki pasangan. Dari rasa takut tersebut, pria Amerika menerapkan Passport Bros untuk mencari pasangan dari negara bagian Asia.
Para pria Amerika datang ke negara-negara Asia bukan karena mereka cinta terhadap wanita Asia dengan personalnya yang bagus, tetapi mereka melihat wanita di negara bagian Asia sebagai objek. Hal ini sangat berbahaya karena mereka tidak peduli bagaimana wanita tersebut dan bagaimana budaya di negara Asia. Pria Amerika percaya bahwa dengan mereka memiliki passport saja mereka sudah bisa menikahi wanita Asia. Padahal di negara mereka sendiri, mereka bukanlah apa-apa. Mereka hanya pria yang menyerah dalam mencari cinta, dalam mencari pasangan hidup, sehingga mereka memilih untuk pindah negara.
Pria Passport Bros memiliki strategi juga untuk membuat wanita merasa takut jika tidak memilih untuk menikah. Pria Passport Bros membuat wanita berpikiran bahwa wanita tidak akan bahagia jika tidak memiliki pasangan. Selain itu, mereka juga membuat wanita berpikiran bahwa wanita tidak akan berharga jika tidak menikah dan tidak memiliki anak. Cara ini biasanya diterapkan oleh Pria Passport Bros kepada wanita yang tidak ingin memiliki anak jika sudah menikah.
Orang barat di negara bagian Asia dianggap sebagai orang kaya. Penduduk negara bagian Asia beranggapan bahwa jika ada wanita yang menikah dengan orang barat (Bule) artinya mereka adalah keluarga kaya. Wanita Asia juga memiliki pandangan bahwa menikah dengan pria dari negara bagian barat akan mengeluarkan mereka dari kemiskinan. Oleh karena itu, Passport Bros menjadi salah satu cara wanita Asia untuk menaikkan tingkat status sosial mereka di masyarakat.
Strategi tersebut dipakai untuk membodoh-bodohi wanita di negara bagian Asia sehingga mereka mau menikah dengan Pria Amerika. Pada kenyataannya adalah tidak semua Pria Amerika itu kaya dan tidak semua wanita yang menikahi pria barat akan menjadi kaya raya. Alih-alih ingin meningkatkan status sosial dan keluar dari kemiskinan, wanita Asia yang memilih untuk menikah dengan pria Amerika malah masuk ke hubungan yang toxic.
Hubungan tersebut menjadi toxic karena pria Passport Bros pasti menerapkan paham patriarki. Bagaimana tidak? sejak dari awal tujuan mereka mencari pasangan di negara Asia saja merupakan bentuk penolakan mereka terhadap wanita barat yang memiliki paham feminis. Sejak dari awal mereka menerapkan istilah Passport Bros saja karena bentuk jiwa patriarki mereka yang tidak bisa menerima wanita berpaham feminis.
Wanita di negara berkembang dianggap sebagai wanita penurut dan pengayom. Hal ini yang menjadi pria Passport Bros lebih menyukai wanita Asia. Namun, pada kenyataannya sekarang banyak juga wanita Asia yang menolak nilai-nilai tradisional patriarki. Banyak wanita Asia yang memiliki prinsip dalam memilih pasangan hidup. Memang benar kenyataannya wanita Asia lebih sopan dan santun karena budaya sopan santun yang diterapkan di negara bagian Asia sudah dibiasakan sejak usia dini dan bukan diajarkan kepada anak perempuan saja. Tetapi bukan berarti wanita Asia bisa dikontrol oleh pria yang memiliki paham patriarki.
Wanita di negara berkembang sudah sering dieksploitasi dari zaman penjajahan. Oleh karena itu, wanita di negara berkembang dianggap “mudah” untuk dinikahi. Para pria Amerika mencari wanita Asia yang “gampang” untuk dinikahi karena label wanita Asia yang mudah dieksploitasi semenjak zaman penjajahan.
Memahami interaksi antar budaya adalah suatu hal yang penting. Setiap negara memiliki budaya masing-masing. Kita perlu memahami budaya negara lain jika ingin berinteraksi dengan negara tersebut. Sehingga akan berjalan dengan baik dan tidak akan melahirkan paham yang berbeda. Jangan sampai dengan adanya sejarah eksploitasi wanita di zaman penjajahan dijadikan sebagai strategi untuk menguasai dan mengontrol wanita Asia.
Di dalam suatu hubungan yang paling penting adalah saling menghargai dan saling empati. Bukan saling merasa tinggi, karena ingin dituruti. Bukan saling menghakimi, karena tidak ingin disalahi. Dan bukan saling menakut-nakuti, karena tidak ingin ditinggal pergi.
Mahasiswi Semester 5 Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah. Ketua Bidang KeIslaman Laboratorium Perkaderan Asrama Putri IMM Ciputat. Kader Pimpinan Komisariat Fakultas Dakwah dan Komunikasi IMM Ciputat. Instagram: fathnyrzyn TikTok: fathnyrzyn Twitter: fzeyinn Facebook: Fathny Rezany Zeyin.
