f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan

Dehumanisasi Perempuan dan Tajusalatin Industrialisme

Dari beberapa tulisan saya yang pernah Rahma.id publikasikan, khususnya yang membahas terkait keperempuanan, saya hanya ingin menjelaskan lebih radikal lagi bahwa sebetulnya dalam hal merefleksikan eksploitasi perempuan. Yang kita butuhkan bukanlah diskusi untuk merumuskan kenapa sedemikian jauh kaum perempuan ini dieksploitasi (dan mengeksploitasi) keperempuanannya serta direduksi (dan mereduksi) hakikat kemakhlukannya oleh dinamika industrialisme.

Di Indonesia, tidak kurang pakar yang intelektualitasnya sarat dengan diskursus tentang hak-hak prerogatif dan konsep-konsep ethics of care terhadap perempuan. Sangat banyak pakar untuk dengan mudah mengungkapnnya. Atau, bahkan barangkali kita tidak begitu perlu ahli-ahli untuk mengungkapnnya sebab hal seperti itu cukup gamblang dipersepsi hanya dengan naluri dan common sense setiap orang.

Urgensi yang lebih primer untuk didiskusikan adalah kenapa semakin banyak lapisan masyarakat kita yang tidak memiliki kesadaran, tekad, dan keseriusan untuk menanggulanginya. Kenapa kebudayaan dan manusia seperti tenang-tenang saja membiarkan—bahkan memacu proses bunuh diri kemanusiaan (yang seolah-olah “enak”) ini.

Bisa jadi ini merupakan pertanyaan pragmatis. Tetapi mungkin saja menyangkut problem yang paling substansial dan radikal dari realitas kemanusiaan, filosofi, moralitas, religi, juga manajemen sistem-sistem pengatur dinamika peradaban sebuah masyarakat.

Target kegelisahan kita hari ini semestinya tidak pada “kenapa hal itu terjadi”, namun pada “ada tidaknya kesediaan untuk mengatasi”. Poin terberat yang menjadi kecemasan kultural hari ini tidak pada menghimpun informasi, pengetahuan, ilmu, dan analisis terhadap realitas tersebut. Namun pada pertanyaan kenapa ada semacam “kematian” dalam kesadaran pikiran dan hati nurani masyarakat kita untuk “ora tenanan” tergetar menyingkapi malapetaka ini. Kenapa kegelisahan tentang masalah ini berlangsung lokal belaka, baik secara sosiologis maupun psikologis.

***

Baik, saya tidak begitu mengerti bagaimana istilah akademisnya. Tapi sebut saja dua kemungkinan: manusia dengan gerak pasang, serta manusia dengan gerak surut. Atau kalau pakai istilah yang lebih sosiologis lagi yaitu manusia dengan dinamika plus serta manusia dengan dinamika minus.

Tentang istilah yang kedua—“surut atau minus”—merupakan suatu posisi di mana manusia menyurutkan, mengurangi, atau melokalisasi dirinya dari keutuhannya sebagai manusia menjadi atau menuju “lingkar primordialitas” tertentu, baik karena fungsi, profesi, ras, atau gender.

Manusia menjadi “belum tentu” manusia karena dia adalah laki-laki, perempuan, anak Dayak, insinyur, birokrat, santri atau maling. Mereka tidak bisa mengelakkan atau justru membutuhkan primordialitas ini karena sosialitas manusia memerlukan tatanan, aturan nilai, pembagian kerja, serta identifikasi lokal lainnnya masing-masing.

Baca Juga  Victim Blaming : Beban Ganda Perempuan setelah kekerasan seksual

Namun begitu, dinamika minus atau gerak surut ini justru adalah cara dan saluran untuk mengolah kemungkinan yang pertama, yakni gerak pasang atau dinamika plus.

Hakikat keperempuanan seorang manusia bisa termasuk sumber bagi peningkatan derajat kemanusiaan, umpamanya melalui bakat kearifan dan kelembutan yang berada pada posisi superior daripada laki-laki. Dengan menyadari kesundaan atau kejawaannya, seorang manusia bisa justru menemukan jalan untuk mempertinggi kualitas kemanusiaannya. Serta dengan menjadi seorang insiyur, sastrawan, atau santri, juga dengan kedudukan sebagai rektor, dekan, atau staf tata usaha univeritas bisa justru terbuka peluang bagi manusia pelakunya untuk memperjuangkan nilai plus bagi derajat kemanusiaannya.

Oleh karena itu, meskipun menjadi perempuan, pelukis, pastor, pedagang kamper, atau tukang cukur, merupakan gerak penyempitan kemanusiaan—belum tentu merupakan proses dehumanisasi.

Itulah bedanya dengan jika kita berbicara mengenai betapa perempuan harus (diharuskan, mengharuskan diri, diseret, menyeret diri) menjadi seorang penari striptease, penyanyi dangdut yang sengaja menyodorkan betis dan pahanya untuk disuap ramai-ramai oleh penonton. Atau segala macam profesi perempuan lainnya yang “ideologi bisnis”nya memang adalah memancing sensualitas dan seksualitas.

Sebab dimensi keperempuanan yang disosialisasikan terbatas hanya pada kedangkalan kebinatangan, maka posisi “surut” atau “minus”-nya sebagai perempuan membuat kemanusiaannya terkikis. Dalam bahasa kesenian, dia kehilangan misteri sehingga rendah mulutnya. Dalam bahasa agama, robek penutup auratnya, atau nilai rahasia keagungan ilahiahnya, sehingga kemakhlukannya sebagai manusia merosot ke tingkat batu bata. Dan efek sosial budayanya adalah menyempitnya cakrawala keindahan pergaulan, menurutnya moralitas lingkungan, serta kacaunya hakikat dan struktur nilai kemanusiaannya itu sendiri.

Sangat ironis bahwa justru di tengah peradaban ilmu yang sudah sedemikian tinggi dan luas ini, juga di tengah kecanggihan teknologi untuk menciptakan begitu banyak kemudian bagi penyejahteraan manusia—justru dalam modus-modus budaya hiburan modern. Kaum perempuan justru dipandang dan diperlakukan tidak hanya tidak sebagai manusia, bahkan juga tidak sebagai perempuan, melainkan sebagai segumpal benda lunak yang begitu murah harganya.

Baca Juga  Peacekeeper Woman dan Literasi Toleransi
***

Saya tidak menyebut “industrialisasi”, melainkan “industrialisme”, karena mekanisme industri beserta seluruh kontribusi, pengaruh dan arah rekayasanya terhadap nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat manusia sudah menjadi substansi kebudayaan dan peradaban yang sedang berlangsung. Tidak saya katakan bahwa kita sudah menjadi “manusia industrial”, namun jelas kita merupakan masyarakat konsumen yang wajah kita dilukisi sedemikian rupa oleh hasil-hasil industri.

Pun saya menyebutnya “tajusalatin”, karena industrialisasi dan realitas industrialisme sudah menjadi raja dalam kondisi psikis dan konsep rasionalisasi masyarakat. Ia bekerja sama sekali tanpa kendali dari dimensi-dimensi lain yang tersedia dalam perspektif kemanusiaan kita. Bahkan, tidak sekadar tanpa kendali: terbukti dengan kita yang tidak pernah cukup serius mendayagunakan dimensi-dimensi nilai lain untuk mengantisipasi gejala-gejala industrialisme.

Kita punya kecenderungan mental untuk tidak bersedia menjadi medan perang antara—misalnya—materialisme dan spiritualisme, agama dan takhayul, konsumtivisme dan kewajaran kebutuhan, hedonisme dan konsep puasa atau antara eksplorasi dan eksploitasi seks yang pada akhirnya salah orientasi dengan batas sehat kesejahteraan dan keindahan seks.  

Yang kita lakukan adalah mendamaikan mereka. Kita menyangka bahwa terus-menerus kita akan bisa tenang-tenang saja melakukan dua pekerjaan yang akan membunuh salah satunya. Di satu pihak kita omong besar tentang pembangunan manusia seutuhnya atau mengembangkan nilai moralitas dan agama, di lain pihak mendirikan niteclub, pentas aurat serta segala macam modus untuk memanjakan keliaran seksual kita.

Mengenai pembangunan manusia seutuhnya atau kedaulatan perempuan sebagai orientasi persoalan dehumanisasi perempuan sebenarnya kitalah pakar pencanangannya sekaligus pendekar pemecahnya. Kitalah yang dengan seribu buku merumuskan dan merekomendasikan rumusan-rumusan paling indah tentang budi pekerti, moralitas dan keindahan makhluk Tuhan. Kemudian kita pulalah yang menyusun proposal proyek, SK, DIP, juklas-juknis perusakan manusia, penjerumusan generasi muda ke dalam jurang neraka dunia.

Baca Juga  Ketika Al-Qur’an Memuliakan Derajat Perempuan

Jadi, tidak perlu menggantungkan intelektualitas seseorang, gelar seseorang, atau apapun entitas materil seseorang untuk mengatasi dehumanisasi terhadap kaum perempuan, yang kita semua butuhkan adalah derap-derap kemanusiaan yang serius mengabdi pada sila pertama dan kedua Pancasila. Hanya dengan itu, industrialisme tidak menjadi kiblat bahkan “raja” atas urusan segala sesuatu. Termasuk ruang untuk menempatkan perempuan secara tidak wajar.

Bagikan
Post a Comment