f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
orang tua keluarga

Menangkal Radikalisme Melalui Keluarga

Aksi individu seorang gadis berusia 26 tahun di siang bolong, dengan menodongkan pistol kapada aparat kepolisian yang berjaga di markas besar (mabes) kepolisian RI, adalah tindakan meresahkan dan meneror keamanan dan kenyamanan masyarakat. Seolah aksi terorisme sudah menyaras siapa saja, baik laki-laki dan perempuan, tua maupun muda. Kalau dilihat dari sisi usia, gadis tersebut harusnya di rumah bersama anak dan suaminya. Kalau dia belum berkeluarga, dia kuliah dan bekerja. Tapi dia malah nekat menebar teror di tempat yang seharusnya aman.

Sebelumnya sepasang suami istri muda juga melakukan aksi yang mirip, dengan melakukan aksi bom bunuh diri di sebuah gereja di Makasar. Keduanya tewas dan untungnya tidak mengakibatkan korban lainnya. Meskipun begitu, ancaman ketakutan sudah berhasil menyelinap di dalam diri warga non Muslim Makasar dan seluruh Indonesia. Fenomena itu kemudian dikenal dengan istilah Wolf Alone, serigala yang kesepian. Para teroris yang melakukan aksi-aksi teror seorang diri untuk menebarkan ancaman dan ketakutan di masyarakat.

***

Menyikapi dua peristiwa tersebut, sebagai warga masyarakat, kita bertanya-tanya, apa yang salah dengan pola asuh di keluarga kita, sehingga anak-anak yang imut, lucu dan menggemaskan itu berubah menjadi monster yang mematikan? Kalau memang letak kesalahan itu ada dalam pola asuh anak di keluarga, maka tanggung jawab kepengasuhan sepenuhnya berada pada orang tua. Tapi benarkah orang tua yang mengajarkan paham kekerasan dan melampaui batas dalam beragama kepada anak-anak.

Bukankah orang tua saat ini, terutama yang tinggal di perkotaan, memasrahkan total anak-anaknya kepada lembaga lembaga pengajaran agama, baik Taman Pendidkan al-Quran (TPQ) dan madrasah diniyah? Apalagi orang tua yang minim paham tentang agama, pasti dia tidak akan intervensi dan cawe-cawe  tentang pembelajaran agama di madrasah dan TPQ.

Baca Juga  Bagaimana Bila Keluarga Bukanlah Rumah Bagi Anak?

Kalau faktanya seperti itu, orang tua yang minim pemahaman agama dan kesibukan yang padat, sehingga tidak ada waktu untuk ngurus anak-anak, apakah lantas kita menimpakan kesalahan itu pada guru ngaji mereka? Saya rasa tidak begitu. Anak-anak, walaupun sudah kita serahkan pendidikan keagamaannya di madrasah dan TPQ, orang tua tidak boleh lepas tangan tidak mau tahu urusan agama anaknya. Bagaimanapun, keberhasilan anak dalam pendidikan, dalam hal ini penanamam paham keagamaan yang moderat juga tanggung jawab orang tua.

Bagi saya, sudah merupakan kewajiban para orang tua menciptakan suasana yang kondusif di dalam keluarga sehingga terwujud suasana yang harmonis. Dan di antara cara mewujudkan rumah tangga yang harmonis adalah;

Jalin Interaksi Yang Intim Antar Anggota Keluarga

Di era industri ini, banyak orang tua yang harus bekerja di luar rumah. Mereka keluar rumah pagi hari ketika anak-anak mereka juga berangkat sekolah dan pulang di waktu sore, bahkan tak jarang pulang malam hari. Pertemuan singkat di rumah antara orang tua dan anak, harus dimanfaatkan dengan sebaik-bainya. Jangan sampai, orang tua tidak meluangkan waktu untuk sekedar menyapa dan mencium kening anaknya.

Anak-anak yang kurang mendapat kasih sayang dari orang tua, biasanya tidak akan memberikan kasih sayang kepada orang lain. Karena dia sendiri tidak tahu bagaiman memberikan kasih sayang itu. Anak-anak kehilangan teladan dalam hidupnya. Dan akibatnya dia akan berubah menjadi anak yang nakal, bertindak kasar dan anarkis kepada teman-temanya.  Dan akhirnya dia pun dijauhi teman-temannya.

Luangkan waktu satu jam atau dua jam untuk anak-anak. Menemaninya bermain, membantu anak mengarjakan tugas sekolah. Dan kalau perlu, ajak anak keluar untuk main di area terbuka. Dengan begitu, kondisi jiwa anak akan stabil dan tidak akan goyah.   

Baca Juga  Delapan Tips Dongkrak Kecerdasan Anak Sejak dalam Kandungan
Bangun komunikasi yang sehat dengan anak-anak ketika di rumah.

Jadikan rumah adalah tempat yang nyaman bagi anak-anak. Bukan hanya kondisi rumah yang nyaman, tapi suasana hati dan pikiran orang tua juga harus rileks dan nyaman ketika bersama dengan anak. Taruh urusan-urusan kantor di kantor, dan jangan sampai dibawa ke rumah.

Terkadang para orang tua membawa urusan kerja ke rumah, dan yang paling memprihatinkan, ia melampiaskan amarah atas urusan yang belum kelar di kantor kepada anak-anak. Dan pada akhirnya anak-anak lah menjadi korban luapan emosi orang tua.

Menghadapi anak-anak memerlukan kondisi jiwa yang stabil dan tidak temperamental. Kondisi jiwa yang rileks akan berbuah komunikasi dua arah yang menyenangkan. Anak akan terbuka terhadap segala permasalahannya, karena orang tuanya sangat mengasikkan untuk diajak bicara.

Selain itu, ajak mereka dialog tentang apa saja. Tanyakan pelajaran yang diajarkan di madrasah dan sekolah. Apakah ada pelajaran yang sulit atau belum dipahami. Nah, di sini orang tua dituntut untuk terus mengembangkan keilmuan dan pengetahuannya. Kalau orang tua tidak tahu juga, bagaimana? Luangkan waktu untuk menemani mereka menjawab soal-soal.

Tidak hanya tentang pelajaran, orang tua juga harus siap mendengarkan curhatan dan keluhan si anak di sekolah. Walaupun terasa membosankan, tapi sikap penerimaan orang tua tentang curhatan anak, akan membuatnya bahagia. Dan si anak tidak akan mencari tempat curhat lain selain orang tuanya.

Dan satu lagi, orang tua juga jangan mendominasi pembicaraan. Beri anak waktu untuk bicara dan apresiasi setiap pendapat anak. Jangan terburu-buru untuk menyalahkan pendapat anak. Hargai setiap pendapat anak. Karena itu akan membuat anak nyaman dan menjadi kebiasaannya untuk menghormati pendapat orang lain. 

Baca Juga  Part 1: Benarkah Surat an-Nisa’ Ayat 34 Melegitimasi Ketidakadilan Gender?
Berhenti Selalu Menyalahkan Anak

Masa anak-anak adalah masa untuk belajar dan berlatih. Wajar, kalau mereka berbuat salah. Tapi tidak jarang oran tua yang menyalahkan anak atas kesalahan tersebut. Bahkan tak jarang ada orang tua yang memaki dan membentak-bentak si anak dan berujung pada kekerasan dalam rumah tangga.

Orang tua harus ingat satu hal. Jiwa anak itu masih rapuh dan lemah, pengalaman hidupnya juga belum banyak. Makian, hinaan dan tindak kekerasan yang sering diberikan oang tua akan mengakibatkan jiwanya stres dan pada akhirnya akan menjadi minder. Takut bergaul dan menjadi anak yang asyik dengan diri sendiri.

Walhasil, dia juga jarang bersosialisasi dan cenderung tertutup. Dia tidak mau terbuka tentang masalah dirinya. Dari sini anak biasanya akan mencari kegiatan apapun yang bisa membahagiakannya. Dia acuh terhadap lingkungan sekitar, yang penting tidak mengganggunya.

Dan pada intinya, orang tualah yang  sejak dini berperan aktif untuk menangkal paham radikalisme dari lingkungan keluarga. Orang tua dituntut untuk menghadirkan suasana yang harmonis dalam keluarga. Suasana rumah yang harmonis, penuh kasih sayang dan welas asih, jauh dari kekerasan, akan membentuk pribadi anak yang penuh kasih sayang terhadap sesama dan jauh dari sikap intoleran.

Tapi tidak usah khawatir bagi para orang tua. Anda tidak sendiri,  kalau memang mengalami kesulitan menghadirkan suasana rumah tangga yang harmonis dan damai, karena kurangnya pengetahuan akan hal itu, bisa ke psikolg, ustadz dan siapapun yang ahli di bidang tersebut, untuk berkonsultasi.

Bagikan
Post a Comment