f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak kdrt ibu tunggal

Menyikapi Permasalahan Anak di Sekolah Bagi Ibu Tunggal Pasca Perceraian

Beberapa hari berselang, saya sengaja bersilaturahmi ke rumah teman yang menjadi ibu tunggal karena KDRT, kebetulan saya sedang ada pekerjaan di kota yang sama. Nadya sebut saja namanya begitu, memutuskan untuk kembali ke kota asalnya, Malang.

Dulu, di Bali kami tinggal di kompleks yang sama. Delapan tahun tetanggaan, bukan waktu yang sebentar untuk mengenal Nadya dan keluarga kecilnya. Seorang ibu dengan dua orang anak.  Kami mengalami masa lalu yang sama. Menjadi ibu tunggal karena  KDRT walaupun berbeda kasus.

Kepindahan Nadya dipicu permasalahan anak terbesar, yang pada akhirnya tidak diterima di semua sekolah di Bali, baik sekolah umum ataupun sekolah privat, pun home schooling. Apa pasal? Karena selalu tinggal kelas, entah karena malas, bodoh atau kombinasi keduanya. Selain itu  ditambah dengan perilaku anak yang tidak menghargai guru, bahkan sejak usia masih kecil.

Bagaimana saya bisa tahu? Karena Nadya kerap menitipkan anaknya di rumah saya.   Dari situ saya bisa menilai bagaimana sang anak berinteraksi dengan guru. Tanpa segan anak Nadya meledek guru sambil membuka celana untuk melihatkan pantatnya terus ngeloyor pergi. Atau berbahasa seperti tokoh kartun Tazmania, blaablaablaablaa (seperti itu) jika ada pertanyaan yang diajukan. Jelas proses belajar mengajar gagal total.

Contoh lain, ketika sang anak masuk ke sekolah privat.  Nadya sering dipanggil wali kelas karena si anak tidak bisa mengikuti pelajaran dengan wajar. Selalu membuat keributan, dengan tidak mengerjakan seluruh pelajaran.

Alih-alih mendengarkan laporan sang guru, biasanya Nadya memilih mengajak perang sekolahan untuk membela anaknya, dan memindahkan ke sekolah lain dengan kata-kata yang justru memojokkan guru sekolah tersebut. Kejadian seperti itu terus berulang.

Nadya berkeras, jika sekolah privat, karena relatif mahal harusnya punya perhatian ekstra dan dapat memaklumi semua sikap, sifat murid, ketidakwajaran, termasuk jika si anak berulah, mogok sekolah, harus ada pemakluman. Kekerasan sikap Nadya berujung  tidak ada satu sekolahpun yang mau menerima sang anak. Dari situ Nadya memutuskan kembali ke kota asalnya.

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Apakah dengan kepindahannya membuahkan hasil? Ternyata tidak, hanya sekedar same shits different city. Berita terakhir yang saya dengar, anak Nadya masuk ke penjara anak-anak karena kasus pencurian sepeda motor.

Imbas KDRT bagi Anak

Cerita-cerita serupa dengan berbagai variasi kenakalan anak di masa sekolah,  tidak sedikit saya jumpai di antara teman-teman sekitar yang tidak beruntung menjadi single parent setelah mengalami KDRT.

Perlu kita pahami bahwa KDRT tidak hanya merusak ibu, biasanya juga berimbas pada anak. Peran ganda sebagai  pencari nafkah sembari menyembuhkan luka, terkadang membuat penilaian ibu terhadap sikap anak menjadi bias. Hal paling mudah dilakukan ibu  adalah meyakini bahwa anaknya baik-baik saja.

Nadya cenderung menyangkal/denial semua berita tidak baik menyangkut anaknya, karena yakin bahwa anaknya jujur dan selalu benar. Ketika saya sarankan untuk menemui psikolog, Nadya marah dan menentang habis-habisan, anakku ngga gila, begitu katanya.

Berbeda dengan Nadya, bagi saya, terapi psikologis tidak berarti anak kita gila, tapi lebih kepada kemampuan menggali sisi psikologis anak, sejauh mana imbas KDRT melekat pada jiwanya. Seberapa merusak mental dan bisa mengantisipasi efek-efek yang lebih parah dengan metode-metode tertentu, tentu tergantung kasus pada masing-masing anak.

Ucapan saya  cukup beralasan. Di usia anak saya menginjak 7 tahun, saya memutuskan untuk membawanya  ke  psikolog dan mengikuti terapi rutin.

Hal ini saya lakukan setelah menerima info dari salah satu orang tua murid, bahwa anak saya menarik diri dari teman-temannya, terutama saat istirahat makan siang. Dia memilih jongkok, bengong di salah satu sudut taman. Tatapannya nanar, kejadian ini ternyata sudah berlangsung beberapa saat lamanya.

Ada juga saat ananda  menolak mengerjakan semua PR dan ulangan sekolah. Reaksi awal saya jelas tidak percaya. Dalam keseharian di rumah, anak saya adalah anak yang ceria, hangat, banyak cerita, ceriwis, supel bergaul dengan teman-teman di kompleks.

Baca Juga  Persiapan Memiliki Anak, Hindari Lakukan Hal Ini

Antara percaya dan tidak, saya memutuskan untuk mengintai di sekolah setiap hari selama seminggu. Ternyata berita tersebut memang benar, betapa hancur hati ini, melihat ekspresi anak semata wayang itu. Beberapa kali tiap ada kesempatan di rumah, saya meluangkan waktu mencoba mengorek cerita, hasilnya nihil belaka.

Mendapat Bantuan dari Psikolog

Apabila anda menerima berita apapun tentang anak anda, langkah awal adalah menerima dengan kepala dingin kemudian meneliti kebenarannya, sehingga anda bisa berpikir dengan jernih.  

Jika belum mampu berpikir jernih, karena anda sendiri sedang memerlukan pertolongan, carilah pertolongan lain, dengan menghubungi orang yang kompeten di bidangnya, lebih cepat  lebih baik.

Buat alasan tanpa harus menyebutkan ke anak bahwa dia perlu terapi psikologis; diajak ketemu tante/om dokter buat nemenin ngobrol misalnya, sehingga anak berasa nyaman dan tidak diposisikan sebagai anak bermasalah.

Psikolog akan memandu anda bagaimana sebaiknya menyikapi sang anak. Selain itu ada baiknya menunjang pengetahuan dengan membaca buku-buku tentang psikologi anak. Jika memungkinkan, kita juga bisa membawa ke psikolog lain untuk meminta second opinion, sebagai pembanding, dengan demikian anda tenang memperoleh info yang akurat.

Dengan panduan psikolog, anda mendapatkan hal-hal yang harus dan tidak boleh dilakukan terkait dengan tumbuh kembang anak. Menggali akar permasalahan, menemukan jalan keluar,  menetapkan terapi yang sesuai, dan anakpun memiliki tempat mengadu yang tepat.

Anak saya dalam pengawasan psikolog selama 4 tahun. Sampai  kelas 6 SD (usia 11 tahun). Terapi yang dijalani tidak formal, dalam artian tidak melulu dilakukan di ruang praktek dengan waktu yang fleksibel.

Penting untuk menjalin kesepakatan dengan psikolog, kapanpun anak saya ingin ngobrol, bisa diatur, tidak harus satu kali atau dua kali seminggu.

Di sekolah, jangan sungkan menghubungi walikelas untuk meminta kerja sama mereka. Ceritakan situasi yang sedang dihadapi anak (bahwa orang tuanya berpisah). Jika ada hal-hal terkait terapi yang bisa dilakukan selama pembelajaran di sekolah, pihak sekolah bisa diminta membantu sehingga terbentuk situasi kondusif.

Baca Juga  Kekerasan Merusak Mental Anak
Menjadi Ibu Tunggal Tidak Mudah

Dalam kasus saya, terungkap akar permasalahan ananda adalah merasa tidak percaya diri. Ada kemarahan terhadap situasi pengasuhan yang memang bergantian antara ayah dan ibu yang tidak mampu diungkapkan. Juga merasa dia bodoh dan tidak berarti.

Jangan memusuhi sekolah ya moms. Jadikan sekolah sebagai mitra anda membentuk dan mengembangkan karakter anak. Saya sebut mitra, karena porsi terbesar adalah kita, peran sebagai ibu. Perilaku ibu sebagai individu, sebagai orang tua di rumah, suri tauladan harus dijaga ketat. Nilai-nilai kehidupan dan perilaku yang ditetapkan ke anak, harus secara disiplin diterapkan lebih dahulu oleh sang ibu.

Jangan libatkan anak dengan kesedihan, kesumpekan, kefrustasian anda menjalani hidup. Hak anak adalah menjalani kehidupan dengan gembira, hapus air mata, kesedihan selama bertemu anak di rumah. Anak akan tumbuh hebat jika diasuj ibu yang ceria dan bahagia.

Libatkan anak dalam aktifitas anda. Sesekali diajak ke lingkungan anda bekerja, kenalkan dengan teman-teman anda. Komunitas yang anda ikuti, entah olahraga, kebaktian, santian, pengajian atau apapun, bahkan sekedar jalan-jalan menemani anda ke pasar, terlihat sepele tapi berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Meningkatkan kepercayaan diri, juga menjalin kedekatan antara anak dengan ibu secara nyata.

Sudah 7 tahun berselang sejak saya melewati masa-masa berat itu. Kini anak saya 18 tahun, telah tumbuh menjadi anak dewasa berkepribadian hangat, ceria, banyak teman, sopan dan bertanggung jawab, siap menyongsong masa depannya.

Moms, menjadi ibu tunggal yang mandiri dan bertanggung jawab memang tidak mudah, melelahkan, tetapi bukan hal yang tidak mungkin. Lebih baik lelah daripada menyesal di kemudian hari.

Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita selalu bisa memulai sesuatu yang baru dengan nilai yang jauh lebih baik.

Bagikan
Post a Comment