f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
jangan asal nikah

Cegah Anak Tantrum dengan The Pause dan Delay Gratification

Menjadi orang tua adalah kontrak seumur hidup antara orang tua dengan Tuhan untuk membesarkan dan mendidik anak dengan baik sampai akhir hayat. Maka, ini bukanlah ‘pekerjaan’ mudah. Perlu persiapan yang matang agar orang tua mampu memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang anak. Tidak hanya perkara finansial, namun juga ilmu terkait pola asuh anak atau parenting.

Ilmu ini tidak hanya diperuntukkan untuk dipelajari oleh ibu atau bapak saja. Perlu sinergi keduanya agar sang anak tidak bingung atas gaya parenting dan aturan yang dibuat oleh orang tuanya. Perlu kekompakan dan konsistensi untuk menerapkan suatu gaya parenting. Keduanya juga harus sadar betul bahwa setiap gaya parenting tentunya memiliki konsekuensi yang berbeda bagi tumbuh kembang anak. Karena sejatinya anak terlahir seperti kanvas putih dan orang tua sebagai tintanya. Merekalah yang punya andil besar untuk mewarnai kanvas putih tersebut.

Anak Meniru Orang Tua

Bicara terkait gaya parenting, saya selalu tertarik dengan hal ini. Bagaimana anak bisa meniru kebiasaan orang tua, hingga bagaimana seorang anak bisa berperilaku sebagaimana orang tuanya memperlakukannya. Saya memang masih mahasiswi berstatus single, tentunya belum memiliki pengalaman membesarkan anak sendiri.

Memang lucu terdengarnya, seorang mahasiswi single yang belum menjadi ibu membicarakan soal parenting. Namun saya sangat dekat dengan keponakan-keponakan saya. Sehingga saya tahu betul bagaimana mereka bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan cerminan orang tuanya. Keponakan saya yang pertama cenderung kalem, lebih banyak menyimpan apa yang ia rasakan. Persis seperti ibunya. Sedangkan keponakan saya yang kedua, sangat aktif dan cenderung mengekspresikan apa yang ia rasakan saat itu juga, persis seperti ibunya. Lucu sekali.

Baca Juga  Narkoba Penghancur Bangsa

Inilah yang membuat saya tertarik untuk mengamati dan membaca baik dari buku maupun internet terkait gaya parenting yang nantinya bisa saya terapkan kepada anak-anak saya. Benar adanya sebuah ungkapan bahwa kita tidak bisa memilih dari orang tua seperti apa kita dilahirkan, namun kita bisa memilih akan menjadi orang tua seperti apa untuk anak kita kelak.

Fenomena Tantrum

Terkait gaya parenting, tentunya saya mengamati dan membuat perbandingan melalui sikap anak, karena sikap anak mencerminkan gaya parenting orang tuanya. Saya seringkali bertemu dengan anak yang guling-guling di toko mainan sambil meraung-raung atau yang biasa disebut dengan tantrum. Tentu saja tujuannya agar ia mendapatkan mainan yang ia mau.

Fenomena ini membuat saya berpikir, apa ya yang membuat anak tantrum sebegitunya setiap menginginkan sesuatu? Bagaimana saya harus menghadapi anak saya kelak jika tantrum seperti ini? Atau bagaimana mendidik anak agar tidak mudah tantrum? Jujur saja, selalu menuruti keinginan anak bukan sesuatu yang ingin saya terapkan kelak dengan pertimbangan perkembangan mental anak. Ke depannya, ia akan menjadi pribadi yang manja dan mengeluarkan jurus yang sama untuk mendapatkan keinginannya saat itu juga.

Akhirnya setelah membaca beberapa sumber, saya menemukan jawabannya. Melalui buku Bringing Up Bebe karya Pamela Druckerman, saya pun menyadari ada perbedaan besar terkait pola asuh anak yang membawa dampak besar juga bagi tumbuh kembangnya. Sebagai seorang ibu asal Amerika yang baru saja pindah ke Paris, Pamela mengamati banyak hal. Termasuk sikap anak-anak Paris. Tentang mereka yang tidak merengek dan tidak meminta sesuatu saat itu juga. It doesn’t come overnight.

The Pause

Mereka mendidik anaknya sedari mereka bayi. Saya pun kaget, bagaimana mengkomunikasikan hal ini kepada bayi? Ternyata mereka membangun kebiasaan yang disebut dengan The Pause. Hal ini diterapkan ketika bayi menangis di tengah malam, sang ibu tidak langsung menghampirinya untuk menenangkan maupun menyusui. Namun ia memberikan jeda sekitar 5-10 menit. Tujuan agar bayi memahami siklus tidurnya, serta memberikan waktu sang ibu untuk memahami apakah tangisan bayi tersebut merupakan bagian dari siklus tidur bayi, popok yang sudah penuh, atau memang pertanda lapar.

Baca Juga  Belajar Parenting Sejak Muda

Ini sejalan dengan pendapat dokter anak setempat yang menyatakan bahwa sebaiknya orang tua tidak langsung memberikan respon ketika bayi menangis. Ini penting untuk memberi bayi waktu menenangkan diri sendiri, bahkan pada kasus bayi baru lahir sekalipun. Ini pula yang membuat bayi-bayi di Perancis bisa tidur sepanjang malam.

Padahal banyak yang saya ketahui, bayi terbangun dan menangis setiap beberapa jam sekali, dan ibunya langsung memberikan respon ketika anak menangis. Entah langsung menggendong, atau menyusuinya. Saya pun melakukan demikian, lebih kepada tidak tega mendengar keponakan saya menangis. Namun ternyata ini berdampak besar dalam tumbuh kembang anak.

Delay Gratification

Kedua, orang tua di Paris melatih kesabaran anak melalui jadwal makan yang akan diterapkan sejak sang anak berusia 4 bulan sampai ia dewasa kelak. Jadi mereka tidak makan apapun di luar jam makannya. Terbukti, saat penulis buku tersebut berkunjung ke rumah salah satu rekannya yang juga seorang Parisian, ia mendapati temannya sedang membuat kue bersama anaknya. Begitu kue matang mereka tidak langsung memakannya. Tapi menunggu jadwal makan berikutnya untuk memakan kue tersebut sebagai afternoon snack.

Begitu pun ketika anaknya membeli permen, sang ibu memberikan pengertian bahwa si anak boleh memakannya ketika sudah datang jam makan berikutnya. Meskipun itu berarti si anak harus menunggu berjam-jam, tapi ia tidak protes sedikitpun. Lalu apa hubungannya dengan tantrum? Tentu dengan mengajarkan anak memasak dan menunggu jadwal makan untuk bisa memakan yang ia inginkan, akan melatih kesabaran anak.

Jadi ketika tumbuh pada usia di mana ia bisa mengutarakan keinginannya, ia sadar betul bahwa ia tidak bisa memiliki apa yang ia inginkan saat itu juga karena ia telah terlatih sehingga mampu mengembangkan sesuatu pada diri untuk mengatasi rasa frustasinya. Bukankah ini menarik?

Baca Juga  Delapan Tips Dongkrak Kecerdasan Anak Sejak dalam Kandungan
***

Melatih kesabaran anak sejak dini dan menerapkan dalam kesehariannya secara konsisten untuk menunggu apa yang ia ingin dapatkan. Jadi sebagian besar anak Paris digambarkan sebagai anak yang bisa mengontrol emosinya. Ketika berkunjung ke rumah teman orang tuanya, ia tidak serta merta merengek meminta pulang (terdengar familiar bukan di sekeliling kita?).

Mereka akan duduk manis atau bermain jika memang disediakan. The pause dan delay gratification yang dilatih sejak dini memberikan dampak yang luar biasa di setiap aspek kehidupan anak. Mungkin cara ini bisa diterapkan untuk para orang tua atau calon orang tua di luar sana, agar anak bisa mengontrol diri dan emosinya sejak dini. Sehingga ini juga bisa mengurangi tingkat stress pada orang tua dalam menjalani parenthood-nya. Selamat mencoba!

Bagikan
Post a Comment