Mencintai Ibu, Menyayangi Orang Tua
Sebagai seorang remaja, saya merasa prihatin melihat anak sebaya yang sampai hati melawan orang tuanya sendiri. Saya pernah melakukan survei kepada beberapa teman saya. Ternyata perlawanan seorang anak terhadap orang tua sering terjadi karena sifat yang tidak mau diatur dan emosi.
Saya pernah membaca artikel sosial media Instagram, Selasa (21/9/2021). Kasatreskrim Polres Jepara Bapak M Fachrur Rozi memberitakan anggotanya pernah menangkap remaja yang diduga menganiaya ibu kandungnya hingga meninggal dunia. Peristiwa kekerasan fisik terhadap ibu umur 34 tahun terjadi pada minggu 9 September 2021 sekitar pukul 14.00 WIB.
Peristiwanya terjadi ibu menegur anaknya yang kerjanya hanya tidur, menonton TV dan tidak mau bekerja. Ternyata sang anak tidak terima di tegur dan kemudian terjadi cekcok antara anak dan ibu. Sang anak menikam ibunya menggunakan pisau dapur. Akhirnya, sang anak memperoleh hukuman maksimal 14 tahun dan denda maksimal 45 juta.
Kemuliaan Ibu
Kejadian seperti ini sudah sering terjadi, seorang anak tega menyakiti orang tua, terutama kepada ibunya. Padahal, ibu yang telah mengandung dan melahirkan serta merawat kita. “Kasih sayang ibu sepanjang masa,” itulah ungkapan yang sering terdengar dalam kehidupan kita. Sebab, ibu memang selalu menyayangi kita hingga akhir hayatnya. Jasanya tidak terbendung dan tidak terhitung sejak kita lahir ke dunia ini. Ibulah orang pertama yang menyambut kita dengan kebahagiaan dan penuh harapan. Kita bak permata bagi ibu, di setiap doanya selalu tersebut nama kita.
Ibu, kata yang sarat makna. Ribuan puisi mungkin telah banyak dibuat untuk seorang ibu, tetapi setiap makna pasti berbeda. Ada yang beranggapan ibu adalah penyelamat, sahabat, orang yang selalu menemani, orang yang selalu menyayangi, dan orang yang setia mendengarkan. Karena jasa-jasa itulah kita layak memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para ibu di dunia ini. Oleh karena itu, maka ada hari ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember.
Setiap anak memiliki caranya masing-masing dalam menghormati ibu. Lalu bagaimana cara kita menghormati ibu dalam tinjauan Islam? Allah berfirman di dalam (QS: Al-Isra ayat 23-24). “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Perilaku Seorang Anak
Tirmidzi dalam riwayatnya juga memberi tahu perihal berbakti kepada kedua orang tua yang berbunyi: “Ridho Allah itu tergantung ridho kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi). “Bahwasannya ia (Mu’awiyah bin Jahimah) datang kepada Nabi saw., lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin berperang, dan aku datang untuk meminta petunjukmu.” Nabi saw. bersabda, “Apakah engkau memiliki ibu?”, “Iya” “Menetaplah dengannya, karena sungguh surga di bawah kedua kakinya.” (HR. Ibnu Majah, An-Nasa’i, Ahmad, Ath-Thabarani). “Dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Cara saya dalam menghormati orang tua sangat sederhana, yakni tidak berkata kasar kepada orang tua . Kemudian, senantiasa sabar menghadapi orang tua, serta senantiasa meluangkan waktu untuk orang tua. Tujuannya agar kita bisa terus menjalin hubungan orang tua dengan anak, karena jika tidak meluangkan waktu bisa-bisa mis komunikasi sehingga cek cok; Ucapkan terimakasih dan minta maaf jika melakukan kesalahan sebagai rasa hormat kita. Dan balas jasa orang tua yang telah merawat kita. Selain itu, rayakan momen penting dan melakukan hal bersama orang tua seperti acara ulang tahun orang tua, hari anniversary ataupun momen lebaran, sebisa mungkin saat kita libur bisa bertemu dengan orang tua.
Tidak lupa juga bersikap terbuka, bercerita, dan berdiskusi meminta saran saat mengambil keputusan. Semisal keputusan/saran dari orang tua tidak sesuai kehendak, kita tidak mesti memaksakannya. Namun, dengan rasa hormat kita senantiasa menceritakan dahulu dan mendengarkan saran orang tua. Apabila nanti berbeda pendapat maka menolaknya dengan cara baik; Jangan melawan jika ingin berpendapat tunggu orang tua selesai menasihati, terkadang kita sebagai anak suka merasa sakit hati atau merasa tidak suka melihat orang tua memberi nasihat. Tetapi, karena mereka sosok yang harus di hormati, maka kita sebagai anak wajib mendengarkannya. Kemudian, jika sudah pas momennya maka kita menjawab atau berpendapat.
Menyemai Tindakan Afeksi
Dan cara yang terakhir adalah jangan sampai menyia-nyiakan kepercayaan dari orang tua dan jauhkan ponsel saat berbincang dengan orang tua. Biarkan orang tua banyak bercerita, karena cerita-cerita yang di sampaikan oleh orang tua bisa jadi nasihat untuk diri kita di kemudian hari.
Semakin bertambahnya umur orang tua, mereka akan kembali lagi bersifat seperti anak-anak. Selalu ingin diperhatikan dan ingin didengarkan dan ingin disayangi. Sehingga kita sebagai anak yang dahulu semasa kecil mendapatkan hal tersebut, tidak ada salahnya untuk membalas dengan memberikan waktu kita kepada orang tua.
Meski terkadang kita lelah, namun memang harus memberi penjelasan bahwa kita juga memiliki kesibukan. Sehingga, kita juga harus memberikan waktu agar bisa seimbang, yakni tetap menjalankan kewajiban berbakti dan menyayangi orang tua . Jika orang tua kita telah meninggal, maka cara menjalankan kewajiban sebagai anak ialah mendoakan dan menjadi anak yang berguna. Semoga kita terhindar dari hal-hal negatif seperti itu. I love you mom!
Mahasiwi STID Al Hadid Surabaya

Yetti R
Alhamdulillah… yey semangat Zahraaaaa. Belajar, belajar dan terus belajar yaaaaa. Buat bangga kedua orang tua kamu. Fokus dengan cita2 kamu. InsyaAllah kamu bisa menjadi anak yang sukses kelak. Aamiin YRA
Reginazahra
Aamin terimakasih banyak ibu atas doa dan bimbinganya