Melihat dengan Mata, Mencintai dengan Hati
Cinta.
Saya merupakan seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir. Sebagai sarjana yang akan segera paripurna; berbagai saran dari orang sekitar telah banyak saya renungkan. Mulai dari melanjutkan kuliah S2, mencari pekerjaan, sampai menikah menjadi tiga garis besar dari banyak opsi yang dapat saya pahami.
Tentu saja orang boleh berbagi saran, namun keseluruhan keputusan akan kembali kepada diri kita sendiri. Karena pada akhirnya mereka hanyalah pemberi saran, selebihnya kitalah yang menjalani.
Membahas tentang rencana pernikahan jenjang mahasiswa menjadi semacam topik tersendiri yang tetap menarik bagi untuk saya amati. Banyak mahasiswa, khususnya rekan-rekan satu kos saya yang masih malu-malu kucing ketika harus mencurahkan isi pikiran mereka tentang pernikahan.
Padahal obrolan kami sederhana, hanya saling berbagi pandangan tentang gadis seperti apa yang kiranya cocok menjadi tambatan hati. Reaksi yang saya dapatkan pun beragam. Dari mulai kemolekan wajah hingga harus lulusan pesantren; menjadi dua kriteria yang secara umum disepakati oleh rekan-rekan saya sebagai kriteria pasangan yang ideal. Harap maklum, mahasiswa masih identik dengan darah muda, bukan sekedar enerjik ketika berdemo, namun juga bersemangat kala membahas asmara.
*
Sebagai mahasiswa, mengamati telah menjadi suatu kebiasaan. Ada banyak sekali kasus-kasus dalam pernikahan di Indonesia yang telah saya saksikan disekitar lingkungan saya. Pada masa kanak-kanak, fenomena pernikahan dini maupun pernikahan atas dasar perjanjian kedua orang tua merupakan fenomena yang masih membudaya dalam masyarakat.
Namun, seiring berjalannya waktu, pemahaman masyarakat yang semakin mendewasa sekaligus berbagai organisasi atau gerakan mampu mengikis berbagai fenomena tersebut. Ya, dengan meningkatnya kualitas pendidikan, tentu mempengaruhi pola pikir masyarakat.
Dari sekian banyak pengamatan saya, ada satu pengamatan yang menarik tentang persepsi pasangan ideal. Saya sering menemukan beberapa pasangan yang berbeda dalam hal rupa (dalam pandangan umum); si suami memiliki wajah yang tampan luar binasa, sedangkan si istri tidak terlampau cantik.
Begitu juga sebaliknya, saya sering bertemu dengan seorang istri yang cantiknya luar dalam, sedangkan suaminya biasa-biasa saja. Beberapa dari pasangan-pasangan tersebut pernah sekali saya coba tanya tentang nostalgia pertemuan mereka sampai mereka dapat bersanding dalam satu rumah dengan tujuan yang sama.
Ada perasaan haru, menggebu, seperti tidak bisa melupakan kenangan dalam ruang waktu yang telah membuat mereka menjadi satu. Namun, ketika sebuah pertanyaan saya desain dengan berbagai pola hanya untuk menanyakan: mengapa bisa ada ikatan yang tumbuh, padahal kalian berdua jauh berbeda? jawabannya hanya satu, yang tentu sudah saya duga namun masih belum saya pahami; karena cinta.
*
Lain lagi dengan cerita salah seorang sahabat karib ibu saya. Beliau dulu merupakan salah satu teman sekelas ibu saya, yang tanpa persiapan, langsung dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing dengan kekasih yang sudah dipilihnya.
Awal kehidupannya benar-benar berat. Menikah saat waktu dini dengan posisi keuangan yang masih bergantung pada orang tua, sementara ia sendiri memiliki tanggungjawab untuk menjaga anak orang bukanlah sebuah perkara mudah.
Tahun-tahun pertama pernikahan memang sulit, namun sesudahnya mereka dapat saling memahami. Ibu saya sering berkaca-kaca ketika menceritakan itu, menandakan bahwa temannya tersebut telah menjalani kehidupan yang berat. Namun, kenyataannya keduanya masih tetap mempertahankan pernikahan mereka; bahkan sudah mendapat karuniai berupa anak-anak yang telah beranjak dewasa, beberapa tahun lebih tua dari saya.
Berbeda keadaan ekonomi tentu berbeda kisah. Salah seorang rekan saya, menikah pada usia muda dengan keadaan ekonomi keluarga yang cukup mapan. Namun, meskipun keadaan keluarganya cukup mapan, ia tetap memilih bekerja untuk menafkahi pasangannya dengan mencari pekerjaan sambilan.
Pasangannya juga mencoba untuk memahaminya dengan senantiasa mengingatkannya akan perkataan dan perbuatannya kalau-kalau salah. Berkat kesalingan di antara keduanya, pernikahan mereka langgeng, bahkan sampai mendapatkan seorang buah hati. Sesekali rekan saya tersebut berkunjung ke rumah, sambil mengobrol tentang keluarga kecilnya yang bahagia itu.
*
Semua cerita tentang pengalaman orang-orang yang telah mengarungi kehidupan rumah tangga tersebut saya tampung guna menjadi pelajaran. Pelajaran tentang kenyataan bahwa cinta memang tidak pernah mengenal batasan gambaran umum masyarakat.
Masyarakat kita selama ini memandang keseluruhan tatanan “percintaan” yang ada dalam lingkup interaksi sehari-hari merupakan sebuah pandangan umum yang pasti benar.
Tentu, semua pandangan yang membenarkan tersebut lahir dari cara pandang kita yang berkelanjutan terhadap fenomena maupun segala sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan. Sehingga, dari pandangan atas, dari kebiasaan itulah proses pembenaran muncul. Dan menjadi salah satu dasar bagi kita untuk membenarkan atas apa yang dilakukan masyarakat.
Padahal, jika kemudian kita menelusuri lebih jauh, dan lebih banyak melakukan perenungan atas berbagai hal yang terjadi dalam lingkup interaksi masyarakat; maka kita akan merasakan bahwa banyak sekali pandangan masyarakat yang perlu untuk kita lakukan tinjauan lebih jauh. Terlebih dalam masalah rumah tangga.
Cinta yang hanya berdasar pada keputusan orang tua maupun pandangan masyarakat tentang cinta yang harus setara; seperti kedua pasangan harus sama-sama mapan ekonominya, sama-sama anggun paras wajahnya, dan berbagai keharusan untuk ‘setara’ yang lainnya merupakan sebuah pandangan yang perlu kita luruskan kembali.
*
Semua cara pikir tersebut tidak semata-mata untuk menegaskan makna cinta belaka, melainkan juga untuk menekan berbagai kemungkinan lain yang tidak dikehendaki. Seperti kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, atau yang lebih buruk lagi, perceraian.
Penting bagi setiap orang untuk menekankan tentang cara pandang cinta yang tidak sama sebagaimana kita memandang sesuatu dengan mata kita. Jika kita memandang cinta sebagaimana kita memandang sesuatu dengan mata, maka kita hanya akan melihat cinta yang dapat kita pandang sebagai sesuatu yang memang kita cinta, hanya sebatas itu.
Namun, jika kita menggunakan hati untuk memandang cinta, maka segala pesona fisik akan hilang, berganti pandangan akan ketulusan kasih sayangnya, pengorbanannya, ikhtiar yang dipergunakannya untuk dapat mempertahankan cinta yang telah terjalin.
Pendek kata, hanya dengan menggunakan hati untuk memandang cinta, maka segala pesona yang tampak mata akan sirna, berganti dengan segala bentuk kesempurnaan yang tidak akan pernah dapat dilihat orang lain, kecuali hanya kita yang melihatnya semata-mata dengan cinta.
Namun, meskipun berbagai ikhtiar telah dilakukan, selalu ingat akan Allah Swt selaku Dzat yang maha membolak-balikkan hati. Segala perbuatan memang kita yang menjalani, namun segala bentuk keputusan akan sampai seperti apa akhirnya ada ditangan Allah Swt.
Karena itu, tetap prioritaskan pasangan yang shaleh, yang senantiasa dekat dengan Allah Swt, agar kiranya semua kita jalani mendapatkan restu darinya. Selamat mendewasakan pribadi.
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya
