Sebab, yang Serius Ngajak Nikah, Belum Tentu Serius Menjalaninya
Judul ini sebenarnya saya ambil dari kalimatnya Mbak Lya Fahmi di story Instagramnya. Bagi yang belum tahu, Mbak Lya merupakan penulis sekaligus psikolog. Saya mulai mengikuti beliau setelah membaca bukunya yang berjudul, “Sebelum harimu bersamanya”. Sebuah buku persiapan untuk menikah yang cukup bikin saya terkagum-kagum.
Kekaguman saya tak berhenti sampai sana, saya kembali dikagumkan dengan sudut pandang beliau saat memberi komentar di salah satu postingan Instagram @warungsastra yang kurang lebih begini, “Sudah pacaran lama, terus ada orang baru mau ngelamar, bertahan atau terima orang baru, ya?”
Pertanyaan semacam itu sebenarnya sudah malang-melintang di beberapa timeline sosial media. Sebuah isu yang selalu diperdebatkan dari masa ke masa. Atau bisa dikatakan isu ini adalah isu yang tak lekang oleh zaman.
Tentu, sebagaimana isu lainnya, dalam isu ini pun ada dua kubu. Pertama yang memilih bertahan. Kedua, yang memilih berpaling pada orang yang serius ngajak nikah meski baru dikenal.
Awalnya saya kurang percaya ada orang yang punya pemikiran seperti kubu kedua. Sebab, bagaimana mungkin pikiran seperti itu hinggap pada pasangan yang sudah lama menjalin hubungan? Tapi, saya baru ingat, teman saya pun ada yang bernasib demikian. Ia mengakhiri sebuah hubungan sebab pasangannya memilih untuk berpaling pada orang yang sudah siap untuk menikah. Modyar.
Menyikapi pertanyaan tersebut, Mbak Lya mengatakan, kalau targetnya sekadar terjadi pernikahan, ya nggak salah punya pikiran kayak gitu. Tapi kalau yang diinginkan adalah pernikahan yang bertahan lama (sustain), pengambilan keputusannya sudah pasti tidak sesederhana sama yang serius ngajak nikah saja.
Beliau menambahi, “soalnya yang serius ngajak nikah belum tentu serius menjalaninya”. Sungguh komentar yang menohok sekali. Saya pun setuju. Sebab, teman saya si A pernah cerita kalau punya teman yang ngebet untuk nikah, tapi sebulan setelahnya, mereka bercerai.
Teman saya si B juga pernah bilang, kalau temannya ada yang nikah umur 20 tahun. Sayangnya suasana riang itu umurnya singkat. Dua tahun kemudian, mereka bercerai, padahal sudah dikaruniai satu anak.
Ini bukan berarti saya menertawai nasib mereka. Bukan. Saya hanya menggarisbawahi bahwa menikah itu bukan garis finish. Melainkan permulaan untuk menjalani hidup dengan orang baru. Karena, ya gimana, setelah menikah pun masih ada kemungkinan untuk berpisah.
Dan percayalah, kamu bisa melupakan banyak kejadian penting dalam hidupmu, tapi tidak untuk perpisahan. Kenangan pahit itu akan selalu tinggal. Maka, seyogyanya standar pasangan hidup bukan hanya yang paling siap menikah duluan, tapi yang memang benar-benar cocok. Sebab seumur hidup itu lama sekali, Bestie.
Oiya, selain perpisahan, kemungkinan buruk lain dalam pernikahan adalah KDRT. Ini bukan berarti saya menyumpahi. Bukan. Saya hanya ingin untuk selalu mawas diri, sebab sekali lagi, menikah bukan garis akhir. Perjalanan masih sangat panjang.
Belum lagi soal perselingkuhan. Iya, isu yang cukup menggedor-gedor dinding kepercayaan pada pasangan. Tak terhitung berapa banyak kasus perselingkuhan yang menjadi pembicaraan hangat di media sosial. Yang terbaru tentu saja kasus perselingkuhan via gojek. Sungguh media perselingkuhan yang sangat anti mainstream.
Masalahnya, tak ada indikator pasti tentang orang yang mustahil selingkuh. Saya pernah menyimak sebuah konten di TikTok, yakni sebuah video yang intinya mengatakan kalau mencari pasangan itu carilah yang rajin salat. Namun, di salah satu komentar, ada yang mengatakan, “Bapakku rajin sholat, eh nyatanya punya 2 simpenan”. Edyan.
Kemungkinan buruk ketika menikah tentu cukup pelik. Nah, salah satu upaya untuk menghadapinya adalah memilih dan memilah pasangan yang paling bisa kita percayai. Dan upaya tersebut tentu perlu waktu, nggak bisa baru kenal beberapa minggu kemudian langsung ngajak nikah.
Dalam satu sesi bincang-bincang, Mbak Lya juga pernah mengatakan kalau mengenal pasangan itu hal yang krusial. Ia juga mengatakan perlu adanya deep talk dengan pasangan sebelum menikah. Tema pembicaraannya pun tentu saja seputar pernikahan. Mulai dari tujuan menikah, apa yang ingin dicapai, dan sebagainya.
Memang, dalam beberapa kasus, ada yang baru ketemu seseorang dan langsung klik, kemudian menikah dan bertahan lama. Tapi itu hanya sebagian kecil. Upaya mengenal pasangan dengan intens pun tidak memastikan pernikahan akan langgeng. Memangnya di dunia ini apa sih yang pasti?
Upaya saling kenal ini hanya untuk memperbesar kemungkinan pernikahan berjalan langgeng. Sebab, ketika kita mengenal pasangan lebih jauh, kita akan paham kekurangannya. Sekali lagi, dalam urusan keseriusan berhubungan, bukan sekadar siapa yang duluan ngajak nikah, tapi ia yang benar-benar kamu yakini tidak akan pernah meninggalkanmu seumur hidupnya.
Mahasiswa salah satu kampus Islami daerah Jogja. Dapat dihubungi lewat akun instagram @aduib07
