f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
uang

Kebahagiaan Hakiki Terletak pada Hati, Bukan Melulu Uang yang Kita Miliki

Ungkapan seperti “uang bisa membeli segalanya” adalah ungkapan yang sering kita dengar di sekitar kita. Bahkan ungkapan tersebut ada yang meyakini dan mempercayainya. Sehingga yang meyakini itu terobsesi untuk mengejar dan menghabiskan umurnya hanya untuk mencari uang. Apakah tindakan seperti itu salah? Sebenarnya tidak salah hanya kurang tepat saja. Karena pada hakikatnya uang hanya sebatas benda mati yang tidak patut untuk terlalu kita pikirkan hingga melupakan segalanya.

Banyak dampak yang timbul kalau seseorang hidup hanya berorentasi mengumpulkan harta. Permusuhan, perpecahan, pertengkaran bahkan pembunuhan yang terjadi di dunia ini, banyak terjadi karena alasan utamanya adalah uang. Ketika seseorang salah mengartikan makna dari uang maka kehidupannya akan dikendalikan oleh dunia.

Dan saat dunia telah mengendalikannya yang kita dapat hanya kesengsaran dan kekecawaan karena dunia hanya sebatas tipuan belaka. Allah SWT Berfirman ; “Kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan belaka, karenanya jangan sampai kalian ditipu oleh kehidupan dunia.” QS. Al Ankabut 64.

***

Tuhan yang Maha Kuasa menganugrahi manusia masing-masing satu otak oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Di mana otak adalah wadah bagi akal pikiran manusia tersebut. Uniknya otak bekerja hanya dengan satu tujuan, satu rasa, satu pemikiran, satu perbuatan dalam satu waktu yang sama. Tidak mungkin seseorang bisa melakukan dua pekerjaan atau lebih dalam waktu yang sama. Seperti contoh; ketika kita melihat ke depan tidak mungkin dalam waktu yang sama kita melihat ke belakang. Atau pada saat kita sedang sedih tidak mungkin kita bahagia dalam waktu yang sama.

Maknanya adalah ketika seseorang sudah menjadikan uang sebagai tujuan dari hidupnya. Maka di waktu yang sama dia telah lupa, bahwa dia adalah manusia yang memiliki fitrah yang mulia di hadapan Tuhannya. Derajat antara manusia dan uang sangatlah berbeda, manusia makhluk sempurna yang dengan kehendak. Sedangkan uang hanyalah benda mati yang tidak kuasa akan dirinya. Lalu pantaskah seseorang mengorbankan waktu dan umurnya semata – mata hidup di dunia hanya untuk mencari uang?  Sedangkan hal tersebut tidak bisa melakukan apa-apa saat amal perbuatannya dipertanggungjawabkan di kehidupan sebenarnya yaitu akhirat.

Baca Juga  Hukum Imam, Khatib, dan Muazin Perempuan

Memang uang itu sangat menyilaukan dan menggiurkan, saat bersandingan dengan segala keinginan kita. Seakan – akan semua keinginan kita bisa terpenuhi dan tercapai. Bahkan ada sebagian orang membuat kesimpulan uang bisa membeli segalanya tidak terlepas juga bisa membeli kebahagiaan dengan uang. Ketika akal dan pikirannya sudah terjebak dengan silaunya maka norma-norma yang ada dalam diri secara perlahan terkikis. Tidak bisa kita pungkiri lama – kelamaan dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang tersebut. Karena apa yang dia inginkan dan capai telah berwujud menjadi uang.

***

Uang dan kebahagiaan tidak bisa bersandingan karena keduanya termasuk dalam segmen yang berbeda. Tetapi ketika uang kita sandingkan dengan kesenangan maka itu adalah pengertian yang tepat. Kesenangan merupakan perasaan senang atau gembira yang seseorang dapatkan dari respon luar, durasinya sesaat sesuai dengan kejadian apa yang tengah mempengaruhi. Sedangkan kebahagiaan muncul karena adanya dorongan dari dalam diri atau pikiran yang merasakan respon senang atau gembira durasinya lama sesuai dengan kondisi diri.

Ketika seseorang memiliki uang belum tentu dia bahagia begitu juga dengan seseorang yang tidak punya belum tentu dia tidak bahagia. Kalau kita perhatikan peristiwa yang terjadi banyak juga orang yang memiliki uang tetapi akhir hayatnya bunuh diri. Begitu juga sebaliknya orang yang tidak punya uang hidupnya baik – baik saja. Hal yang paling mendasar dari kebahagian adalah rasa “syukur” di mana seseorang berterima kasih atas yang apa yang telah ia dapatkan. Dan menerima dengan setulus hati apapun pemberian itu. Bisa kita pastikan seseorang yang selalu bersyukur akan selalu bahagia baik dia mempunyai uang atau tidak.

Baca Juga  Pemuda Sebagai Solusi dalam Pencegahan Covid-19

Seperti contoh kisah berikut : Pada zaman Nabi Musa AS hiduplah seorang yang miskin tetapi mempunyai ilmu agama yang mumpini. Beliau bernama Qarun sepupu Nabi Musa AS. Qarun memohon kepada Nabi Musa AS untuk merubah kondisi ekonominya. Karena Nabi Musa memandang Qorun adalah ahli agama, Nabi Musa langsung menyetujuinya lalu berdo’a kepada Allah SWT.

***

Allah SWT mengabulkan doa Nabi Musa AS, Qarun hidup dengan bergelimang harta. Ribuan gudang yang ia miliki penuh dengan emas dan perak. Namun, sayang keberuntungan yang ia dapat membuatnya gelap mata dan berlaku sombong. Sehingga Qorun merasa bahwa hartanya semata-mata karena kepandaiannya melupakan bahwa Allah SWT yang telah memberi.

Bahkan para Muslimin pada masa itu pernah menasehati Qarun untuk bersyukur atas nikmat yang telah Allah Swt. berikan. Tapi, dia malah tidak mengindahkan nasihat tersebut. Karena perbuatannya itu Allah Swt. murka dan Ia menenggelamkan Qorun ke bumi.

Cara yang tepat dalam memperlakukan uang adalah memahami dengan tepat apa uang itu. Uang adalah benda yang masyarakat umum terimasebagai alat tukar dalam kegiatan ekonomi. Uang hanya sebatas benda tidak lebih. Jadi kita juga harus memperlakukannya layaknya benda berharga karena ada nilai untuk keperluan tukar menukar. Maksudnya adalah jadikan uang hanya sebatas di tangan saja jangan sampai masuk ke dalam hati. Atau jadikan uang hanya sebagai alat, atau kendaraan kita di dunia saja jangan sampai uang menjadi tujuan dalam hidup kita. Apabila kita menganggap lebih akan makna itu maka akan berdampak buruk bagi diri kita sendiri.

Ketika seorang manusia memilih untuk menjadikan uang sebagai tujuan hidupnya maka kurang tepatlah apa yang menjadi tujuannya itu. Karena pikiran akan terus terfokus pada uang menjadikan dirinya lupa akan arah dan tujuan hidup manusia yang sebenarnya. Sedangkan Allah SWT dalam firmanNya telah menjelaskan bahwasanya tujuan hidup manusia yang sebenarnya adalah beribadah.

Baca Juga  Terburu-buru Menikah? Pikir Lagi!
***

Dengan menanamkan dalam hati tujuan hidup adalah beribadah maka kehidupan ini akan terkendali. Apa yang kita lakukan dan perbuat akan berdasarkan dari perintah dan laranganNya. Tidak semena – mena dan tidak melampaui batas tentang anggapan kita menilai sesuatu termasuk menilai uang. Seseorang itu akan tercegah dari dikendalikan oleh uang dan dunia. Bahkan dia sendiri yang mengendalikan uang dan dunia dengan akal pikirannya. Mudah-mudahan Allah SWT akan Ridho terhadap hamba-hambanya yang berusaha untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sehingga berkah dan bahagialah orang tersebut baik di dunia maupun di akhirat.

Bagikan
Post a Comment