f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
celengan

Celengan Terakhir

Di sudut serambi masjid terdapat seorang remaja yang sedang bermunajat kepada Tuhan penguasa alam. Ia mengenakan pakaian serba putih, kecuali alas tempat duduknya yang berwarna hijau rumput. Selepas Isya hingga pertengahan malam, ia masih beri`tikaf di dalam masjid. Duduk bersila, tangannya terus menengadahkan ke atas, sambil terus bermunajat agar doanya terkabul. Ia menginginkan balasan setimpal kepada seorang yang telah mendzoliminya; merampas celengan terakhirnya.

Sahal adalah seorang anak laki-laki yang berasal dari Madura. Ia sedang menuntut ilmu jauh dari pelukan hangat kedua orang tuanya. Ia merupakan putra sulung dari 6 bersaudara semuanya laki-laki termasuk dirinya. Ayahnya seorang nelayan dan ibunya seorang ibu rumah tangga biasa.

Ia dipondokan dimulai semenjak lulus sekolah dasar, kedua orang tuanya menaruh harapan yang besar agar anak pertamanya bisa sukses dan berhasil, tidak seperti kedua orang tuanya yang hidup pas-pasan sebagai nelayan biasa.

Sudah 6 tahun lamanya ia menuntut ilmu, sekarang adalah 2 pekan terakhir baginya berada di pondok; hari kelulusan sudah di depan mata.

Untuk menyambut hari kelulusan nanti, Sahal menyibukkan diri bersama teman-temanya yang lain untuk mempersiapkan berbagai acara. Salah satunya membuat pentas seni yang menampilkan drama, musikalisasi puisi, adu pantun dan masih banyak penampilan lainnya. Karena acara perpisahan ini hanya satu tahun sekali, maka acara ini dibuat semeriah mungkin agar memiliki kesan dan tidak mudah dilupakan.

***

Acara perpisahan, merupakan acara paling  bergengsi bagi setiap angkatan. Ia memiliki daya tarik tersendiri ketika para alumnus datang untuk menyaksikan. Dalam setiap tahunnya memilki keunikan tersendiri. Ada inovasi terbaru di setiap  penampilan. Akhirusannah nama acara ini, ia merupakan puncak kegiatan di akhir tahun sesuai dengan namanya.

Baca Juga  Rumah untuk Siwi

Kemudian, selang 3 hari menuju hari pelaksaaan, ketika semua penampilan sudah disiapkan dengan sangat matang. Konsep acara sudah terbentuk tinggal eksekusi, Sahal mengalami musibah. Selama 3 tahun terakhir, sebenarnya ia sudah menabung. Mengumpulkan sisa uang jajannya, guna ia pakai nanti setelah lulus dari pondok. Alih-alih ia  merasa senang karena tabungannya sudah terkumpul banyak dan sebentar lagi ia akan lulus, namun semuanya raib dan hilang.

Celengan ayam jago berwarna merah, yang ia beli dekat area pondok sekarang raib entah ke mana, bukan perihal celengannya yang lucu dan menggemaskan, namun isi yang berada di dalamnya. Rencana tabungan menjadi modal usahanya nanti  ketika sudah lulus kini sudah raib, hilang entah kemana. Ada perasaan sedih dan kehilangan dalam benak hatinya.

***

Ia mulai mencari tahu siapa orang yang  telah mencurinya, mengambil celengan terakhir miliknya. Bermula dengan mengumpulkan seluruh anggota kamar dan melakukan interogasi. Menanyakan setiap orang pukul berapa mereka sedang berada di kamar.

Setelah dua satu jam berlalu, ia mendapatkan cerita dari salah satu temannya, “Aku melihat Danu tiba-tiba datang ke kamar dalam keadaan sepi, ia mengendap masuk,” tuturnya.

Sahal awalnya tidak percaya bahwa Danu pelakunya, ia kenal dekat dengannya. Ia seorang teman yang baik di matanya. tetapi akhir-akhir ini Sahal jarang bertemu dan bersua, Ia terlampau sibuk dengan persiapan acara. Terlebih Danu juga kelihatannya jarang ada di pondok.

Perkataan temannya terkuak  di saat siang yang terik, seluruh santri sedang berkegiatan di luar kamar, ada yang sedang makan siang, jajan di warung-warung, berolahraga melatih tubuh. Termasuk Sahal yang baru saja berolahraga, ia ingin beristirahat di dalam kamarnya mengambil air minum dan meluruskan tubuhnya walau sejenak.

Baca Juga  Nasihatmu Membangkitkan Semangatku, Bu (2)

Sesaat sebelum dirinya sampai di kamarnya yang terletak paling ujung, ia tidak sengaja melihat seseorang dengan gerak-gerik mencurigakan, kepalanya menilik ke luar jendela. Seperti sedang mengintai sesuatu.  Untungnya ia tidak melihat Sahal yang berada di luar kamar.

Diliputi rasa penasaran, Sahal berjalan mengendap. Mencoba mencari tahu siapa gerangan  orang yang terlihat mencurigakan itu.  Ia melihat seseorang sedang menggeladah lemari. mengacak-ngacak setiap sekat, seperti mencari sesuatu.

 Karena posisinya membelakangi, Sahal tidak melihat jelas siapa gerangan yang sedang beraksi di dalam.barulah setelah lima menit berlalu, seseorang itu membalikan wajahnya dan terlihat jelas seseorang yang sangat ia kenali. “Jadi ternyata kamu,” pekiknya.

***

Hari pelaksanaan pun tiba, semua santri dan tamu undangan berkumpul di lapangan yang telah panitia persiapkan. Panggung dan deretan kursi yang siap diduduki. Serta pedagang asongan yang berjualan di sekitar ikut meramaikan suasana.

Sederet acara telah dilaksanakan dengan cukup meriah, pagi saat acara pembukaan menampilkan tari tradisional, diiringi musik gambus dan terus berlanjut hingga malam setelah isya. Acara puncak yaitu wisuda kelulusan berikut pengumuman peringkat yang diperoleh dari jerih payah setiap santri.

Sesaat sebelum acara puncak berlangsung, terjadi keributan di tengah kursi para tamu undangan. Seorang perempuan paruh baya berteriak histeris, suaranya sayu-sayup mengalihkan perhatian sekitar. Seperti seorang yang mengutarakan kekecewaan.

Terlihat dari kejauhan, perempuan itu sedang bersimpuh di hadapan seorang remaja laki-laki. Wajahnya beruarai air mata. Isak tangisnya tertahan, membuat suasana pilu di sekitar. Seluruh pandangan mata tertuju pada mereka.

“Mengapa kamu melakukan itu nak?” Seru suara perempuan yang sedang terisak.

Remaja laki-laki di depanya hanya diam membisu, pandanganya tertunduk ke bawah.

Baca Juga  Merayu Tuhan di Surau Kakek
***

Kemudian, seorang remaja itu dikawal maju oleh dua orang ustadz senior yang sedari tadi berada di sampingnya. Berjalan di tengah, membelah para tamu undangan. Mendadak ia naik panggung dan mengalihkan perhatian dari para hadirin.

Tangannya bergetar, menggenggam mikrofon. Suaranya terbata-bata ketika mengucap salam. Raut mukanya tampak grogi dan menahan malu. Keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya dan ia mulai membacakan surat pernyataan.

“Saya Danu, dengan ini menyatakan kesalahan. Bahwa saya telah mencuri uang dari lemari teman-teman. Atas dasar pertimbangan dari para asatidz saya harus dikeluarkan dari pondok agar menjadi pembelajaran di kemudian hari”

Semua mata tertuju padanya. Ada raut muka tak percaya melihat sosoknya yang lugu. Tak sedikit pula yang menatap jijik dan kesal akibat perbuatannya. Sorak sorai datang dari orang-orang yang merasa dirugikan atas ulahnya. Seberondong cacian dan hujatan samar-samar terdengar bersahutan. Seperti merayakan kemenangan, Entah siapa yang mengawali. mendadak suara tepuk tangan ikut menghiasi.

Seorang remaja lelaki itu  langsung turun dari panggung, dengan langkah gontai ia pergi melenggang hilang dari pandangan.

“Inikah jawaban dari Tuhan?” Gumam Sahal di dalam hatinya.

Bagikan
Post a Comment