Air Mata dalam Kelas
Pagi hari cuaca cerah, langit dengan gagah memperlihatkan dirinya dengan warna kebanggaannya, biru. Suatu waktu saya masuk ke kelas rendah. Pada saat itu saya telah membuat rencana pembelajaran tentang pengalaman bersama anggota keluarga. Malam hari sebelumnya saya telah menyiapkan kertas kosong berwarna putih.
“Selamat pagi anak-anaaaaaak…” Saya menyapa dengan gembira.
“Pagiiiiiii… Paaak!” Mereka menjawab secara bersama-sama.
“Apa kabar hari iniiiii….?”
“Baiiiiiiik.” Anak-anak menjawab lagi dengan kompak.
“Alhamdulillah. Oke, anak-anak pagi ini kita akan menggambar ”
“Yeeeeeeeeeee….” Semua anak yang berada dalam kelas tersebut tampak gembira dan ceria.
“Eeeetttsss…. Tunggu sebentar. Apakah kalian semua membawa pensil warna?”
“Bawa Paaak….” kali ini tidak dijawab dengan serempak.
“Pak Guru, saya tidak bawa pensil warna, tetapi bawa crayon, boleh Pak?”
“Tentu sangat boleh dong.”
“Yeeeeeeeee….” Semua kembali ceria.
“Dengarkanlah dulu ya anak-anak.” Mereka langsung duduk manis dan menaruh kedua tangan meraka di atas meja masing-masing.
***
“Kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Kita memiliki ayah, mempunyai ibu, kakak, adik, kakek dan nenek. Ayah tugasnya adalah bertanggung jawab mencari nafkah. Sementara ibu selain membantu ayah juga mengasuh anak-anaknya. Paham anak-anaaaaak?”
“Iya Pak Guruuu.”
Kemudian saya menggambil kertas kosong warna putih di meja saya lalu membagikan kepada mereka.
“Baiklah duduk yang rapi, Pak Guru akan membagikan kertas ini kepada kalian.”
“Paaaak biar saya saja pak yang membagikan.” Pinta seorang siswa laki-laki yang rambutnya ikal. Namanya Degam.
“Oke. Sini maju, Degam. Minta tolong dibagikan ke teman-teman ya.”
“Iya, Pak.”
Degam anaknya tidak pandai-pandai amat. Akan tetapi dia sangat rajin berangkat ke sekolah. Dia anak yang tertinggal. Maksudnya nalar berpikirnya dalam materi pelajaran ketinggalan daripada teman-temannya. Beberapa saat kemudian Degam telah selesai membagikan kertas kosong warna putih.
“Terimakasih ya Degam?”
“Iya pak.”
“Apakah semua siswa sudah mendapatkan kertasnya?” Saya memastikan lagi tidak ada siswa yang belum kebagian.
“Sudaaaah.”
“Sekarang, ceritakanlah pengalaman keluarga kalian masing-masing dalam bentuk gambar. Jadi kalian menggambar bebas, akan tetapi harus ada anggota keluarga, baik ayah, ibu, kakek, nenek, kakak ataupun adik. Sekehendak kalian ingin menggambar apa. Boleh saat makan bersama keluarga, boleh juga saat kalian bepergian ke suatu tempat bersama keluarga, atau yang sederhana kalian menonton TV bersama keluarga.”
“Pak pak…, saya mau menggambar pergi ke rumah nenek waktu liburan. Boleh, Pak?”
“Iya boleh.”
Kemudian anak-anak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka bermain imajinasi di alam pikiran mereka sendiri-sendiri. Menemukan ide dengan caranya. Ada yang saling meminjam pensil warna, saling meminjam crayon. Meminjam penghapus. Semua berjalan dengan tertib. Tidak ada keributan.
Sementara saya menunggui mereka duduk di kursi meja guru. Di depan sisi pojok kanan anak-anak. Di meja guru terdapat vas bunga yang terbuat dari bahan bekas. Yaitu botol yang telah diberi cat warna dan dihias sedemikian rupa sehingga menjadi vas bunga yang cukup bagus. Vas bunga dari botol bekas tersebut adalah hasil dari karya siswa yang paling bagus di kelas.
***
Waktu berjalan dengan seperti biasa. Detik berjalan tidak melambat juga tidak mempercepat diri. Waktu menggambar telah selesai.
“Anak-anaaak, waktu menggambar telah selesai.”
Lalu mereka semua mengangkat kedua tangannya tanda sudah berhenti dari menggambar.
“Sekarang hasil gambar kalian kumpulan ke depan taruh di meja Pak Guru.”
Semua siswa berbondong-bondong menuju ke depan, tidak ada yang saling dorong. Mereka berjalan dengan membawa kertas berwarna putih yang semula kosong kini penuh dengan warna dan gambar yang dihasilkan oleh mereka. Ketika hasil gambarannya mereka sudah terkumpul di meja tertata dengan rapi. Saya meminta satu siswa agar mengambil satu gambar hasil mereka secara acak. Kali ini yang maju ke depan adalah Kinara, anak perempuan yang memiliki mata bulat.
***
“Kinara, Pak Guru minta tolong. Kinara ambil satu gambar hasil karya teman Kinara. Pilih mana saja.”
Kinara menjalankan arahan dari saya dengan cepat.
“Ini pak,” katanya sambil menyerah satu gambar kepada saya.
“Terimakasih ya Kinara, silakan Kinara kembali ke tempat duduk.”
Saya beberapa saat mengati gambar tersebut. Cukup menarik. Di kertas tersebut pada sisi pojok kanan atas tertera nama Hardiana.
“Hardianaaa….” Saya menyebut nama itu.
“Saya Pak.”
“Ayo sini maju, Nak. Ceritakan gambar ini kepada teman-temanmu di depan kelas ya….”
Kemudian Hardiana maju ke depan kelas untuk menceritakan hasil gambarnya.
***
“Gambar ini adalah saya ketika berliburan ke Yogyakarta bersama ayah dan ibu juga kakak. Di sana saya mengelilingi kota Yogyakarta menaiki becak. Jadi di gambar ini saya naik becak duduk di samping ibu. Kakak saya duduk di samping ayah. Menaiki dua becak yang berbeda. Dengan dua becak tersebut saya bersama keluarga keliling kota Yogyakarta.”
Sedari tadi saya berdiri di samping Hardiana.
“Waaah bagus sekaliii,” ucap saya. Kemudian anak-anak memberikan tepuk tangan untuk Hardiana.
“Oke selanjutnya Hardiana silakan pilih satu gambar.” pinta saya kepadanya.
Hardiana mengambil satu gambar hasil karya siswa. Gambar tersebut hanya ada dua orang. Tidak begitu bagus dan jelas gambarnya. Akan tetapi masih dalam gambar tersebut ada keterangan yang dia tulis dengan pensil. Dalam gambar tersebut ada meja, tempat tidur, dapur, kamar mandi dan warung. Pada sisi pojok kanan atas tertulis Cakrawala.
***
Kemudian saya memanggil siswa yang bernama Cakrawala. Dia maju ke depan kelas dengan percaya diri. Kemudian dia menjelaskan hasil gambarnya sendiri. Saya menepi berdiri di dekat meja guru.
“Ini adalah ayahku.” Dia sambil menunjuk gambarnya. “Ayahku setiap pagi memandikanku sebelum berangkat ke sekolah. Kemudian ayah juga memakaikan seragam sekolah untukku. Ayah kalau bangun tidur selalu pagi-pagi. Kemudian ayah memasak di dapur membuatkan bekal untukku. Pekerjaan ayahku di rumah menjaga warung.”
Semua anak sempat terdiam. Dengan cepat saya memecah keheningan mereka.
“Beri tepuk tangaaan.” Semua siswa bertepuk tangan.
“Waaah ayah Cakra hebat ya, Naaak.” Saya memberikan pemahaman kepada mereka. “Ayah Cakra ayah yang hebat. Menjadi superhero buat Cakra. Iya kan anak-anaaaak?”
“Iya Paaak. Hebat. Kalau saya dimandikan sama ibu. Lalu berangkat ke sekolah diantar ayah,” kata Wardah.
Saya merespon Wardah hanya mengajungkan jempol untuknya.
“Baiklah anak-anak. Kita masih punya waktu. Ini yang terakhir ya. Kira-kira siapa yang akan maju ke depan berikutnyaaaa ya….”
***
Semua siswa kecuali Hardiana dan Cakra, wajahnya tampak serius. Tidak sabar menunggu giliran siapakah yang akan maju berikutnya. Kali ini saya menata hasil gambar siswa dengan cara menumpuk. Lalu meminta Cakra agar menarik satu gambar lagi. Sesudah dia menarik satu gambar lalu diberikan kepada saya. Cukup membuat saya heran setelah mengamati gambar tersebut. Tidak diwarnai dan gambarnya pun simpel. Di sisi pojok kanan atas tertulis sebuah nama, Dharma.
Setelah Dharma saya panggil dia berdiri dari tempat duduknya. Dia duduk di bangku paling belakang. Semua siswa menoleh ke kepadanya. Setiap sapasang bola mata memandanginya. Dia berjalan ke depan kelas. Semuanya diam. Hanya suara sepatu yang dikenakan Dharma saat dia berjalan bergesekan dengan ubin lantai. Kakinya melangkah di antara lorong-lorong meja kursi.
Sesampai di depan saya menyerahkan hasil gambarnya agar dia menceritakan gambarnya. Dharma berdiri di depan kelas persis di tengah papan tulis. Tepat dengan gambar garuda lambang Pancasila yang diapit dua gambar berdasi dan berpeci yaitu foto presiden dan wakilnya.
Dharma pertama-tama memegangi hasil gambarnya itu dengan kedua tangan. Lalu kedua bola matanya menatap gambar tersebut beberapa saat. Semua siswa diam. Menunggu cerita dari pengalaman hidup Dharma dengan keluarganya. Saat semua menunggunya bercerita justru Dharma memeluk gambarnya sendiri. Dia peluk gambar itu dengan kedua mata terpejam. Kemudian mengalir bulir-bulir air bagaikan kristal keluar dari kedua sudutnya. Saya langsung mendekatinya dan memeluk Dharma. Tanpa aba-aba semua siswa ikut mendekati Dharma dan kami saling memeluk.
Pengajar di Kota Semarang
