Menguatkan Kepribadian dengan Menjaga Akhlak dan Menegakkan Budi
Dalam Islam, hal yang berkaitan dengan budi ataupun akhlak termasuk poin yang penting bagi manusia; karena dengan memiliki budi pekerti yang mulialah akan menjadikan kehidupan sosial manusia yang bermoral. Budi, akhlak maupun etika menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan resistensi terhadap suatu bangsa dan negara.
Budi berasal dari bahasa sansekerta, yang kadang berarti sebagai akal. Lebih dari pada itu, budi juga bermakna kesadaran. Kita dapat mengartikan budi sebagai akal yang sadar. Sehingga, budi pekerti berarti sesuatu yang dilakukan dengan kesadaran.
Budi dan akhlak tentunya saling berkaitan dan memilki makna yang seragam. Akhlak berasal dari bahasa Arab jamak dari kata khuluk yang berarti tingkah laku, perangai, atau tabiat. Secara terminologi, akhlak yaitu tingkah laku seseorang yang terdorong oleh sesuatu keinginan secara mendasar untuk melakukan suatu perbuatan.
Menelaah Budi dan Akhlak
Baik budi pekerti maupun akhlak yang baik merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang. Untuk menjadi seseorang yang berkembang tentunya keidealitasan seseorang juga menjadi poin.
Sejatinya idealis itu bukan berarti hal yang selalu buruk. Untuk mengawali hidup, sikap ideal itu perlu kita tanamkan, agar hidup menjadi berkembang dan menjadi lebih baik. Bahwa ideal tidak sepenuhnya tidak mengandung masalah. Di situlah peran manusia untuk mengupayakan dan menerjemahkannya dengan penuh.
Berbicara tentang budi, tentunya kebanyakan dari kita telah mengetahui mengenai hakikat budi itu sendiri tanpa mempelajarinya terlebih dahulu. Bisa jadi itu merupakan fitrah kita sebagai makhluk yang paling sempurna atas penciptaanNya.
Timbul pertanyaan, mengapa topik ini selalu dibicarakan? Baik oleh para alim ulama, cendekiawan, tokoh masyarakat selalu mengakaji hal ini; padahal hal ini sudah sering menjadi perbincangan kebanyakan orang.
Misalkan sikap jujur, berbuat baik, hal ini tentunya sudah kita ketahui, meskipun sikap ini belum kita pelajari, itulah namannya fitrah. Akan tetapi yang namanya manusia, terkadang telah mengetahui sesuatu, tetapi sering lupa, khilaf, dan ada juga yang cuek. Oleh karena itu, mengapa ilmu budi, akhlakul kharimah selalu diulang-ulang, atau monoton?.
Sebenarnya untuk mengingatkan pribadi masing-masing dan menguatkannya lagi. Kebanyakan dari kita mungkin ada yang telah sudah tahu akan tetapi tidak operatif, tidak menjalankannya. Mungkin ada juga yang masih melanggarnya.
Maka di dalam Al-Qur’an ada kata indzar dan tahdzir yang berarti peringatan. Peringatan pun bukan sesuatu yang baru, sudah ada sejak dahulu, maka itu fungsi dari indzar dan tahdzir, sejatinya untuk selalu mengingatkan kita sebagai manusia akan sesuatu yang telah Allah tetapkan.
*
Seperti kata Dr. Fahruddin Faiz, “Mengapa nasihat para tokoh zaman dahulu selalu relevan dengan zaman sekarang? Bisa jadi itu bukan nasihat itu yang selalu relevan, melainkan karena hidup seseorang itu yang tidak berkembang sejak dahulu, selalu melakukan kesahalan yang sama, sehingga nasihat-nasihat tersebut selalu relevan sampai hari ini.”
Oleh karena itu, di situlah letak ilmu budi pekerti, akhlakul karimah yang sangat perlu disampaikan dan terus diamalkan.
Dalam Islam, parameter keislaman seseorang salah satunya kita lihat dari akhlak. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. “Innama bui’tstu liutammima makarimal akhlak” di mana tugas Rasulullah Saw untuk memperbaiki akhlak umat muslim.
Dewasa ini, mungkin telah kita sadari bahawasannya sudah banyak terjadi kerusuhan massa, hal ini merupakan bukti nyata di mana seseorang tidak lagi memperdulikan moralitas dan akhlak. Pengamalan budi dan perilaku baik yang semakin merosot.
Keeksistensian suatu bangsa, keberadaan suatu negara akan selalu ada jika akhlak yang baik tetap diamalkan. Hal ini juga pernah oleh Syauqi Bey syairkan, “Sesungguhnya keberadaan bangsa-bangsa itu karena akhlaknya, kalau akhlak lenyap maka lenyap pula bangsa tersebut.” Dengan demikian, prihatinkanlah dan mencari solusi jika itu memang ada, kelestarian manusia tergantung pada akhlak, kepunahan manusia tegantung pada akhlak.
Buya Hamka pernah menuliskan di dalam salah satu bukunya yang berjudul “Lembaga Budi”, tentu maksudnya sama dengan hal tadi. “Tegak rumah karena sendi; Runtuh sendi rumah binasa; Sendi bangsa ialah budi; Runtuhlah budi runtuhlah bangsa.” Oleh karena itu, perlu kita renungi lagi apakah akhlak yang baik itu masih melekat? Apakah eksistensi moral masih hidup sampai saat ini? Yang di mana sendi suatu bangsa tergantung pada akhlak dan moralitas yang tetap dijaga dengan hasrat yang kuat pula.
Lemahnya Budi dan Akhlak
Manusia yang lemah pikirannya adalah manusia yang akal budi nya lemah, di mana orang-orang demikian tidak bisa membedakan antara baik dan buruk. Orang yang sempit lapangan hidupnya kurang peduli pada keadaan orang lain. Menurut para ahli budi, sebab timbulnya suatu dosa atau kesalahan ialah karena sempitnya tempat manuusia tegak di dalam hidupnya.
Sikap egoistis untuk terus mementingkan kebutuhan pribadi semata. Lantaran kejahatannya karena tidak memperhatikan dampak buruk atas perbuatannya; mengakibatkan kerusakan pada masyarkat tanpa disadari. Mengedepankan maslahat diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain, masyarakat ataupun umatnya.
Akan tetapi, bagi orang yang berpandangan jauh bahwa kepentingan umat salah satu prioritas bagi dirinya, dia menyadari dengan membantu umat, menolong orang yang membutuhkan, maka akan terpenuhi juga maslahat yang ada pada dirinya.
Dengan membantu satu sama lain, sikap tolong menolong yang di mana hal ini menjadi tanggungjawab bersama. Karena telah menyadari bahwa kita memiliki satu tali yang terangakai dengan umat untuk bersatu dan tidak dapat diceraikan.
Untuk itu, dengan ber-akhlakul karimah, berbudi pekerti yang menjiwai keislaman akan menjadikan pribadi-pribadi yang mulia, dihormati, dan saling memuliakan satu sama lain. Wallahu a’lam bishshawaab.
Mahasiswa Ilmu Hadits Universitas Ahmad Dahlan dan aktif juga di IMM
