f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gerakan hijau

Gerakan Hijau : Meneruskan Tradisi Rasulullah

Nabi Saw. mengkhawatirkan kerusakan dan pengrusakan lingkungan hidup sejak 1400-an silam. Perjalanan dagang Rasulullah sebelum menjadi seorang nabi memberi beliau kesempatan untuk melihat mode produksi dan konsumsi bangsa-bangsa besar kala itu. Wahyu memberinya insight bahwa bumi telah menua; beliau mengingatkan bahwa jarak antara diutusnya ia sebagai nabi dan terjadinya kiamat hanyalah sejengkal.

Cara hidup manusia (baca: mode produksi dan konsumsi) telah mengubah kondisi bumi pelan-pelan, bahkan cenderung mengikisnya. Seharusnya hutan seluas sekian dan makhluk hidup berjumlah sekian, namun bumi berjalan semakin tidak sebagaimana mestinya, dan hukum alam diutak-atik. Kendati demikian, manusia mengubah poin paling dasar: hubungan mereka dengan bumi: tanah, air udara, pohon dan hewan.

***

Akar dari masalah kerusakan dan pengrusakan lingkungan hidup adalah manusia. Saya membayangkan, dengan kecerdasan nubuwat beliau, Rasulullah melirik kembali sejarah sapiens di muka bumi; sapiens yang hadir 70.000 tahun yang lalu dan berkembang menjadi penumpas darah terkemuka di bumi; dan sapiens membantai berbagai homo Eropa, membantai 80% spesies hewan purba di Amerika, menebangi hutan-hutan dan merusak jenis tanaman.

Sapiens mampu menyingkirkan semua homo lain dan mendaulat diri sebagai satu-satunya manusia. Itu adalah konsekuensi dari berkembangnya kecerdasan bahasa dan cara berpikir yang kompleks; semua itu berpengaruh pada kemampuan bekerjasama dan membuat berbagai peralatan untuk melengkapi kekurangan tubuh sapiens (yang lebih kecil dari homo lain, dan tidak memiliki cakar, gigi, atau tenaga besar dibandingkan dengan hewan lain).

Sapiens berkoloni dan sekitar 9000 tahun yang lalu mulai berhenti nomaden. Mereka membangun kota dan pembangunan itu membutuhkan material lebih besar. Kebutuhan itu menuntut eksploitasi. Semakin berkembang kebutuhan suatu kota, area jamah eksploitasi meluas. Kota membutuhkan rumah, benteng, teknologi pertanian, alat perang, jalan, kendaraan, dan hari ini masih berlangsung dengan keanekaan yang tak hingga.

Baca Juga  Tilik, antara Budaya dan Privasi

Bagian tak tampak dalam narasi di atas adalah hilangnya cara-cara lama semasa nomaden, di mana sapiens membangun kemah sederhana cukup menggunakan ranting dan daun bekas, atau memanah rusa dan mengolahnya tanpa sisa: otot menjadi benang, serpihan tulang menjadi jarum dan mata pancing, tanduk menjadi terompet, kulit menjadi pakaian dan sepatu. Mereka mengolah hewan buruan besar selama satu atau dua bulan.

***

Setidaknya pada suatu masa sapiens pernah belajar membuat hukum antar klan sekaligus hukum berburu, demi menjaga keberlanjutan sumber energi. Mereka mengembangkan etika berburu yang kuat: sapiens pernah meminta maaf pada buruan sebelum buruan itu mati dan berjanji untuk memperlakukannya dengan hormat; sapiens pernah memohon izin pada pohon sebelum mengerat kulitnya untuk getah atau keperluan lain. Mereka berbudaya.

Hingga kemudian, sifat-sifat kota menghilangkan sifat-sifat nomadenitas itu. Dengan kota, sapiens memotong putus hubungan sakral antara mereka dari alam. Dengan kota, manusia melihat alam hanya sebagai bahan baku peradaban. Manusia mendapat lisensi untuk mengeksploitasi, mengubah material alam, dan menggunakannya untuk kepentingan yang menguntungkan dari sudut pandang mereka sendiri. Hanya mereka satu-satunya “ada”.

Mungkin, perjalanan panjang itulah yang dilihat oleh Rasulullah. Beliau melihat kebenaran dari apa yang diragukan para malaikat ketika Allah hendak menciptakan manusia: potensi bangsa homo sebagai mufsiduna fi al-ardh (perusak di bumi) dan musfiku al-dima’ (penumpah darah). Namun Allah mengetahui rahasia potensi baik manusia, dan para nabi, hingga Rasulullah, adalah agen yang bertugas memaksimalkan potensi baik tersebut.

Hanya saja, Rasulullah tidak membangun Islam dengan wajah “agama lingkungan hidup”. Kemungkinan besar Rasulullah harus menentukan prioritas, apakah beliau akan memperbaiki manusia dulu atau lingkungan hidup dulu? Islam lahir di era pertanian yang alamnya masih lestari. Etika manusialah yang harus dididik lebih dulu. Sebab, alam lestari karena etika yang kuat. Akhirnya, hari ini Islam lebih dikenal dengan spirit keadilan sosial.

Baca Juga  Daun Emas Tinggal Cerita
***

Hari ini, umat Islam harus bergerak melampaui spirit keadilan sosial, menuju spirit keadilan lingkungan hidup. Kemelampauan ini bersifat wajib, karena kita tengah menghadapi krisis lingkungan hidup berskala planet, yang didorong oleh mode produksi dan konsumsi manusia, yang menciptakan ke-serba berlebih-an dan mengubah cara-cara kerja bumi. Manusia harus mulai mengubah mode produksi dan konsumsinya, secara radikal.

Para pendakwah sangat diharapkan mengubah orientasi dakwahnya dan lebih banyak menyeru pada pemeliharaan lingkungan hidup, menentang destruktivikasi atas nama pembangunan, hingga berupaya merekayasa kelahiran “para penjaga tanah”, “para penjaga pohon”, “para penjaga air”, dan lain sebagainya, dari kalangan muslim. Saatnya mereka meneruskan pilihan kedua yang Rasulullah belum menggarapnya.

Salah satu gerakan yang bisa diusahakan adalah “puasa hijau”. Puasa hijau adalah gerakan etis untuk menyederhanakan konsumsi. Puasa hijau bertumpu pada kesabaran untuk menyederhanakan makan―mungkin sebagaimana telah lama diterapkan para bhikkhu Buddha. Ide puasa hijau juga adalah ide untuk bertanggungjawab pada limbah makanan sendiri, dan berupaya kuat menghindari makanan yang menghasilkan limbah non-organik.

Apapun itu, gerakan hijau harus dilakukan dan dimulai sejak sekarang. Tidak peduli apakah kiamat akan datang 50 tahun lagi atau 1000 tahun lagi, gerakan hijau adalah bidang ibadah yang diwariskan oleh Rasulullah untuk diteruskan oleh umatnya, terutama saat ini, saat bumi sedang sangat membutuhkan balas budi manusia. []

Bagikan
Post a Comment