Pembelajaran Mendalam untuk Transformasi Pendidikan Agama yang Lebih Progresif
“Menjaga lingkungan itu juga maslahat, tetapi juga ada dampak negatifnya.” Ucapan salah satu tokoh agama ini mengandung kontroversial. Beberapa aktivis lingkungan pun turut menyuarakan kegelisahan atas ucapan tokoh agama tersebut. Termasuk AS Rosyid dalam postingan Instagram-nya yang mempertanyakan, “Kenapa ya, umat Islam menaruh perhatian lebih besar pada perkara hukum fikih ketimbang kepada isu lingkungan hidup?”. Pertanyaan ini sejalan dengan thesis statement dalam penelitian ilmiah saya, yang menunjukkan bahwa pendidikan agama tidak memiliki efek langsung terhadap kesalihan lingkungan seseorang.
Pernyataan tersebut mengarah pada pemahaman bahwa ajaran agama menekankan pentingnya menjaga lingkungan. Ini adalah bagian dari amal ibadah. Namun, banyak umat lebih fokus pada ritual. Mereka kurang memperhatikan nilai ekologis agama. Ini menunjukkan ketidakselarasan. Pengetahuan agama belum diterapkan nyata, terutama dalam kepedulian lingkungan.
Pendapat ini sejalan dengan teori filsuf David Hume, yang mengemukakan bahwa pernyataan tentang apa yang ada (fakta) tidak dapat secara logis digunakan untuk menyimpulkan apa yang seharusnya ada (nilai, etika). Hume menjelaskan bahwa terdapat jarak yang tidak langsung antara is (keadaan yang ada, pengetahuan) dan ought (keharusan, kewajiban, aksi/tindakan).
Kita mengajarkan dalil agama tentang menjaga bumi. Namun, ini tak menjamin pengetahuan tersebut akan diterjemahkan ke dalam aksi nyata lingkungan. Ada kebutuhan untuk menjembatani pengetahuan dan aksi. Sebagai pendidik yang peduli lingkungan, saya tawarkan pembelajaran mendalam dan kontekstual yang menghubungkan pengetahuan dan aksi.
Pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM) menawarkan sebuah solusi untuk mengatasi kesenjangan ini. Pembelajaran Mendalam menekankan pada pemahaman yang lebih mendalam dan aplikatif terhadap ajaran agama. Sehingga nilai-nilai agama tidak hanya diterima secara teoritis, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga lingkungan hidup. Dalam kerangka PM, peserta didik tidak hanya diberikan pengetahuan tentang ajaran agama, tetapi juga didorong untuk menerapkan ajaran tersebut secara langsung dalam kehidupan mereka.
Menghubungkan Pengetahuan dengan Aksi
PM memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk lebih mendalami ajaran agama, dengan menghubungkan pengetahuan agama dengan konteks kehidupan mereka. Dalam hal ini, ajaran agama terkait dengan lingkungan hidup dapat dijelaskan bukan hanya sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang harus diwujudkan dalam aksi nyata. Hal ini penting, karena mengajarkan agama tanpa mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan kehidupan nyata hanya akan menghasilkan pengetahuan yang terpisah dari praktik kehidupan.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Piaget (1973), pembelajaran yang bermakna terjadi ketika pengetahuan yang dipelajari dapat dikaitkan dengan pengalaman hidup siswa. Dalam konteks pendidikan agama, ini berarti bahwa ajaran agama tentang menjaga lingkungan harus dipelajari dalam kerangka yang relevan dengan tantangan dan masalah lingkungan yang sedang dihadapi, seperti perubahan iklim, polusi, dan kerusakan alam. Pembelajaran yang mendalam harus membantu peserta didik untuk melihat hubungan antara ajaran agama dan isu-isu ekologis yang mereka hadapi, dan mengajak mereka untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam.
Mengatasi Kesenjangan antara Pengetahuan dan Aksi
Menurut Hume, untuk menghubungkan is dan ought dalam konteks pendidikan agama, kita memerlukan suatu proses yang mengarah pada pengaplikasian pengetahuan dalam tindakan. Dalam hal ini, Pembelajaran Mendalam dapat berperan sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang diketahui (pengetahuan agama) dan apa yang harus dilakukan (aksi terhadap lingkungan). Pembelajaran tidak hanya berhenti pada penyampaian pengetahuan teologis atau fikih, tetapi juga pada penekanan terhadap pentingnya amalan yang berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan.
Oleh karena itu, PM dalam pendidikan agama seharusnya lebih mengutamakan aspek kontekstual yang mengaitkan ajaran agama dengan isu-isu ekologis. Guru diharapkan memberikan ruang bagi peserta didik untuk merenungkan bagaimana ajaran agama mereka dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal menjaga bumi. Pembelajaran ini harus melibatkan pendekatan yang holistik, yang mencakup pemikiran kritis, refleksi, dan aksi nyata di lapangan.
Sebagai contoh pendekatan holistik yang pernah saya laksanakan bersama peserta didik saya dalam pembelajaran kasih sayang terhadap sesama. Peserta didik mengobservasi kebutuhan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di Surabaya. Rupanya peserta didik menemukan kebutuhan LKSA mencakup sandang dan pangan. Peserta didik pun berinisiatif untuk mengumpulkan pakaian layak pakai untuk diberikan kepada teman LKSA untuk memenuhi sandangnya. Mereka juga mengumpulkan donasi berupa uang dan tanaman lokal untuk ketahanan pangan LKSA tersebut.
Pentingnya Pembelajaran yang Menggembirakan dan Berkesadaran
Selain menghubungkan pengetahuan agama dengan aksi, PM juga menekankan pentingnya menciptakan suasana pembelajaran yang menggembirakan dan berkesadaran. Pembelajaran yang menggembirakan akan meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat lebih dalam dengan materi ajar. Dalam konteks agama, ini berarti menciptakan lingkungan belajar yang mendorong siswa untuk memahami dan merasakan kegembiraan dalam mengamalkan ajaran agama, termasuk dalam merawat alam. Sebagaimana pembelajaran di LKSA yang dicontohkan di atas, peserta didik didorong untuk menganalisa dan memenuhi kebutuhan LKSA dengan berpegang pada prinsip reuse serta melestarikan alam dengan donasi tanaman pangan.
Menurut Dewey (1938), pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata akan mendorong siswa untuk berkontribusi pada masyarakat. Dalam konteks ini, menjaga lingkungan adalah kontribusi nyata yang dapat diberikan oleh umat beragama untuk kesejahteraan bersama. Dengan menciptakan suasana belajar yang menggembirakan, PM tidak hanya mengajarkan teori agama, tetapi juga mendorong siswa untuk merasakan kegembiraan dalam menjaga bumi sebagai amanah.
Akhirnya, dalam menghadapi tantangan ekologis dan perubahan zaman, pendidikan agama di Indonesia perlu menerapkan pendekatan yang lebih progresif dan aplikatif. Pembelajaran Mendalam (PM) menawarkan solusi yang relevan dengan menghubungkan pengetahuan agama dengan aksi nyata, serta menciptakan pembelajaran yang berkesadaran dan menggembirakan. Dengan PM, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga mengaplikasikannya dalam tindakan yang positif terhadap lingkungan. Hal ini penting untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berempati dan peduli terhadap kelestarian bumi.

Guru SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Wakil Ketua Bidang Dakwah Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur
