Berprasangka Baik Menjemput Ketenangan Hati
Banyak hal yang sering membuat kita merasa lelah dengan keadaan. Merasa seolah apa yang terjadi pada diri kita sekarang ini tidak adil. Menyalahkan semua yang ada di sekitar kita, menyalahkan orang lain yang ada di dekat kita. Bahkan banyak terjadi pada beberapa orang sampai menyalahkan ketetapan Allah atas hal yang mungkin tidak disukai namun terjadi pada diri kita. Padahal yang sebenarnya harus dipertanyakan adalah diri kita sendiri. Apa yang sudah kita lakukan hingga semua ini terjadi? Sering kali lalai untuk mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan orang lain. Salah satu hal yang membuat kita merasa lelah dan seolah dunia ini tidak adil adalah seringnya berprasangka buruk dan kurang bersyukur atas ketetapan yang dimiliki.
Banyak hal tanpa disadari kita telah berburuk sangka. Contohnya, saat teman kita menjauh, lalu kita berpikir bahwa orang tersebut marah dan benci kepada kita. Padahal faktanya dia membutuhkan waktu sendiri karena sedang menghadapi masalah dengan keluarganya. Selain itu, saat berada pada tempat yang tidak diinginkan seperti mendapat sekolah, kampus, atau tempat kerja yang tidak sesuai dengan impian. Sering kali kita kecewa dan marah lalu menyalahkan keadaan. Berprasangka buruk kepada Allah, bahwa Allah tidak adil dalam memberikan ketetapannya. Padahal sebenarnya kita lupa bahwa semua yang terjadi adalah ketetapan Allah yang paling baik. Karena apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah, sebagaimana yang dijelaskan dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.
Memulai Berpikir Positif
Sebenarnya rasa yang timbul pada diri kita, seperti rasa sedih, marah, kecewa itu muncul dari pikiran yang dibuat sendiri. Jika ingin hidup dengan damai, tenang, dan bahagia pastinya harus membuat pola pikir yang selalu positif dan berprasangka baik pada semua hal yang terjadi. Proses berpikir sangatlah penting karena berhubungan dengan perilaku dan berbagai keberhasilan hidup seseorang (Lyubomirsky dkk, 2005; schweingruber, 2006). Bahkan pola berpikir yang negatif atau prasangka buruk memiliki dampak buruk pula pada kesehatan psikologis manusia. Salah satunya yaitu menyebabkan kecemasan sehingga menyebabkan rasa tidak mempunyai harapan hidup yang baik.
Berprasangka baik mampu membuat seseorang lebih optimis dalam menjalani hidup serta dapat membuat aktivitas lebih ringan untuk dikerjakan. Lain halnya dengan seseorang yang selalu berprasangka buruk, yang akan menumbuhkan kebencian di dalam diri orang tersebut. Hingga membuatnya kesulitan untuk menjalani kehidupan dengan nyaman karena merasa bahwa orang-orang menjauhinya. Dari hal tersebut justru akan merusak pertemanan serta dapat memutus hubungan silaturahmi antar sesama manusia. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan di dalam Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12 “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjingkan satu sama lain.”
Stop Nethink, Stop Gibah be Positive
Berhenti untuk nethink (negative thinking), membatasi pikiran kita untuk tidak berpikir negatif dengan orang lain. Karena dari pikiran buruk tersebut bisa menjadi akar dari banyak persoalan, baik individual maupun sosial. Mengelola pikiran agar selalu positif dan berhati-hati dalam mengambil suatu tindakan dan berbuat baik kepada orang lain. Ketika kita selalu berpikir dan berperilaku positif kepada orang lain maka orang lain pasti akan memperlakukan kita dengan hal yang sama pula. Namun, apabila kita memberikan pikiran negatif kepada orang lain justru akan memunculkan energi negatif pula dalam diri kita. Dari energi itu bisa saja menimbulkan keinginan untuk melakukan hal yang buruk pada orang tersebut yang pastinya akan menyakiti hatinya. Apalagi jika sampai memunculkan pikiran negatif kepada Allah, jangan sampai hal itu terjadi pada diri kita. Untuk itu, perbanyak ibadah dan tawakal, berserah diri kepada Allah atas semua ketetapan-Nya akan membuat hati menjadi lebih tenang dan mampu menghilangkan prasangka buruk di dalam diri.
Menyibukkan diri untuk hal-hal positif akan menjauhkan kita dari buruk sangka, dan berkumpul dengan orang-orang baik yang mampu untuk mengajak kita kepada kebaikan. Sebisa mungkin untuk menghindari gibah, karena sesungguhnya gibah itu dilarang dalam agama. Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 148 “Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Dalam ayat ini menegaskan bahwa Allah Swt. Tidak menyukai perkataan buruk apalagi gibah yang dapat menimbulkan pikiran negatif kepada orang lain. Sebagai umat muslim wajib berhati-hati dalam bertutur kata agar kita terhindar dari bagian orang yang zalim. Tanpa disadari prasangka buruk adalah maksiat yang samar dan terkadang diremehkan oleh banyak manusia.
Maka dari itu, pentingnya untuk membatasi diri serta menjaga pikiran untuk terhindar dari dosa kecil yaitu prasangka buruk. Hidup akan lebih tenang apabila kita selalu ikhlas, sabar, dan bersyukur atas apapun yang terjadi. Baik ataupun buruk, sehat ataupun sakit wajib untuk disyukuri. Menikmati setiap hal yang terjadi tanpa harus mencelanya. Memaknai atas setiap ketetapan Allah adalah sebaik baiknya ketetapan dan yakin bahwa apa yang terjadi saat ini semua akan diberikan jalan kemudahan oleh Allah.
