Relasi Sehat, Relasi Setara
Terlahir ke dunia sebagai seorang manusia adalah sebuah takdir. Begitu pula, terlahir sebagai perempuan adalah kodrat pemberian Sang Pencipta. Tetapi, sungguh tidak mudah menjalani peran sebagai perempuan yang seringkali dianggap sebagai liyan lekat dengan banyak stigma. Bahkan seakan-akan terkungkung dan terbatasi geraknya. Padahal, tidak satupun dari manusia bisa meminta terlahir sebagai apa dan siapa. Sehingga, merendahkan hal yang telah menjadi takdir adalah juga merendahkan Sang Pencipta.
Pengalaman sebagai seorang perempuan sangat kompleks dan cukup berat. Sungguh sebuah ironi, terlahir sebagai perempuan nampaknya adalah sebuah takdir yang buruk. Harus tunduk untuk mengikuti stigma masyarakat yang justru tidak memberikan keadilan dan hanya berusaha mengontrol kehidupan perempuan. Seakan hidup sebagai perempuan dan memiliki tubuh sebagai perempuan bukan milik sendiri, tetapi milik seluruh manusia.
Apalagi ketika perempuan masuk ke ruang publik. Benar-benar harus survive. Ruang publik yang terdominasi oleh laki-laki, ini seringkali dianggap sebagai hal yang lumrah dan sudah sepatutnya. Tetapi, ketika perempuan berkiprah di ruang publik langsung mendapat cap sebagai perempuan yang egois, hanya mementingkan diri sendiri. Bahkan parahnya, ada juga yang menganggap tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.
Budaya Patriarki Masih Kental di Masyarakat
Hidup dalam dunia masyarakat patriarki, yang menempatkan derajat laki-laki lebih tinggi ini mengharuskan perempuan berusaha lebih keras untuk mendapatkan kesetaraan peran. Mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi sampai politik. Memang hari ini, perempuan hampir mendapatkan kesetaraan dalam ruang-ruang itu. Tetapi, itu tidak membuat diskriminasi terhadap perempuan terhapus begitu saja. Dalam masyarakat modern hari ini, problem yang timbul justru semakin rumit karena ada ketidaknyamanan ketika berada di ruang publik. Kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi terus meningkat, dan mayoritas korbannya adalah perempuan.
Selain itu, apakah ketika perempuan berperan hanya dalam lingkup domestik atau di rumah saja, bisa menghapus ketidakadilan yang diterima oleh perempuan? justru kita tidak boleh menutup mata, bahwa kekerasan dan ketidakadilan yang perempuan alami terjadi di mana saja bahkan tempat yang katanya aman ‘rumah’. Kekerasan domestik juga terus meningkat tiap tahunnya. Tidak terkecuali dalam masa pandemi ini.
Kultur patriarki yang masih membebani perempuan dengan tanggung jawab mengurus rumah tangga secara penuh, seringkali jadi momok bagi perempuan. Sebab ketika terjadi sesuatu yang buruk, maka perempuanlah yang akan terkena imbasnya. Padahal sejatinya, relasi rumah tangga adalah tanggung jawab suami dan istri. Peran ganda yang harus ditanggung oleh perempuan membuat perempuan menjadi pusat kesalahan atas perilaku yang ditimbulkan, yang sering kali dibenarkan oleh masyarakat.
Berbicara realita hari ini, dalam masa pandemi yang sebagian besar aktivitas kita beralih kepada dunia maya (online), ternyata tidak juga menghadirkan ruang aman bagi para perempuan. Sebab , sekarang mulai marak kasus pelecehan dan kekerasan di dunia maya atau melalui media sosial yang kita kenal dengan istilah kekerasan berbasis gender online (KBGO). KBGO ini menyasar para pengguna media sosial yang aktif dengan berbagai cara, seperti mengirimkan gambar seksualitas tanpa konsen, atau bahkan menyebarkan privasi seseorang.
Bagaimana Menciptakan Ruang Aman bagi Perempuan?
Lantas sebenarnya, kenapa kekerasan seksual ini selalu terjadi di setiap tempat? seakan tidak ada tempat yang aman untuk perempuan. Apakah kekerasan seksual ini terjadi karena korbannya adalah ‘perempuan’ yang dianggap lemah dan tak berdaya sehingga pantas untuk mendapat pelecehan? lalu bagaimana sebenarnya ruang yang aman bagi perempuan?
Pertama, ruang aman berasal dari pola pikir manusia itu sendiri untuk menuju kepada kesetaraan relasi. Mulailah untuk tidak membebankan peran ganda bagi perempuan. Perempuan dan laki-laki seharusnya membagi peran melalui komunikasi asertif dan prinsip kesalingan yang membawa kemaslahatan untuk keduanya. Contoh: istri mencari nafkah, suami mencari nafkah, pekerjaan domestik bisa dilakukan berdua dengan membagi tugas dan menjadi tanggung jawab suami dan istri.
Kedua, ruang aman berasal dari cara pandang untuk melihat perempuan sebagai subjek yang utuh bukan sebagai objek. Sebagai manusia yang dibekali akal dan hati, seharusnya kita bisa mengkombinasikan keduanya dalam perbuatan yang baik dan memanusiakan manusia. Perempuan kerap dipandang hanya sebagai alat atau objek pemuas seksual tanpa pernah mendapat konfirmasi atas tindakan terhadapnya. Apakah perempuan menikmati hubungan seksual itu? atau ingin berhubungan intim seperti apa. Pengalaman hubungan seksual perempuan kerap tidak mendapat pertimbangan dan sering terabaikan. Seakan tugas perempuan hanya melayani kepuasan laki-laki. Padahal prinsip kesalingan adalah mencapai keadilan bersama termasuk dalam ranah seksualitas.
Relasi Perempuan dan Laki-Laki adalah Relasi yang Sehat
Ketiga, berhentilah melekatkan stigma-stigma negatif kepada perempuan. Perempuan yang keluar malam misalnya, yang selalu tercap negatif oleh masyarakat membuat ruang gerak perempuan seakan terbatasi. Padahal, ketika laki-laki yang keluar malam selalu mendapatkan kewajaran. Sehingga, banyak kasus kekerasan seksual dengan menyalahkan korban karena perempuan yang keluar malam.
Victim blaming atau tindakan menyalahkan korban ini membuat perempuan masuk ke dalam ruang-ruang sempit dan tidak mendapatkan kesetaraan layaknya laki-laki. Seharusnya, kita sebagai manusia berakal dan berhati nurani memberikan keamanan dan kenyamanan bagi setiap manusia apalagi bagi perempuan yang harus keluar atau pulang malam karena urusan pekerjaan, kuliah, atau lain-lain.
Melalui tulisan sederhana ini, saya mengajak kepada seluruh rahmania untuk lebih mengedepankan sifat kemanusiaan dalam memperlakukan manusia. Sudah seharusnya relasi perempuan dan laki-laki dalam publik maupun domestik adalah relasi yang sehat yaitu relasi yang setara. Saatnya ciptakan ruang aman bagi perempuan baik di rumah, ruang publik, hingga di media sosial.
Editor: Andi Eka Nur Wahyu
Seorang perempuan muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan s1 di UIN Sunan Ampel bidang studi PAI. saat ini aktivitas saya sebagai aktivis perempuan di IMM sebagai Sekbid IMMawati dan anggota dibeberapa komunitas keperempuanan dan feminis.

Al
Ntap