f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
janda

Dongeng, Akar Kemajuan Sebuah Bangsa?

Taukah anda dongeng ternyata bertanggungjawab atas situasi Indonesia saat ini? Dongeng yang saya maksud adalah segala bentuk kisah untuk anak. Di era digital dongeng  bermetamorfosa menjadi kisah, film dan tayangan yang divisualisasikan melalui TV dan youtube. Mudah mengaksesnya kapan saja dan masif. Tayangan tersebut pada akhirnya berkontribusi mempengaruhi karakter anak.

David C McClelland sejak lama telah meneliti dongeng yang tersebar di seluruh dunia. Tentang korelasi dongeng dalam membentuk etos bangsa. McClelland membandingkan pesan moral yang di tanamkan secara lisan dari masa ke masa dan membentuk etos sebuah bangsa.

 Ia menyebutnya sebagai kebutuhan untuk meningkatkan diri atau sebagai Virus N-Ach (Need of Achievement); karena karena sifatnya mirip “virus”.  Mudah menular dan menyebar dengan sosialisasi intensif. Itulah mengapa dalam satu negara biasanya memiliki etos yang sama.

Di negara Korea masyarakatnya mengkonstruksikan pentingnya bekerja keras. Etos itu tergambar dalam kisah populer anak berjudul perempuan penakluk Harimau. Dongeng tersebut mengisahkan perempuan yang masuk hutan mencari kumis harimau. Konon itulah resep menundukkan watak suaminya yang kasar.

Yap anda benar, bukan kumis harimaunya yang ajaib tapi lika-liku perjuangan untuk mendapatkannya. Pesan moral kisah ini adalah perjuangan dan kerja keras. Jika harimau saja bisa takluk apalagi manusia.

****

Indonesia kaya dengan kisah serba ajaib tapi ternyata keajaiban itu justru menjadi sumber persoalan. Alih-alih menghasilkan manusia ajaib yang ada justru mengajari anak tidak bertanggung jawab atas masa depannya. Cukup mengandalkan pada keberuntungan saja.

Dongeng tentang telur emas, sepatu ajaib, ikan ajaib, semuanya serba ajaib. Lalu peran manusia ngapaian? Lebih nyesek lagi tempat-tempat yang indah dan megah semisal Candi Prambanan, Gunung Tangkuban Perahu, Danau Toba semua menjadi kisah yang terjadi karena accident. Pelampiasan emosi tingkat tinggi. Hadeuh…

Baca Juga  Ketika Layangan Putus, Beli Baru Atau Perbaiki Layangan Lama?

Benar bahwa dongeng perlu bumbu yang bernama keajaiban sebagai pemanis. Tidak salah, tapi kebanyakan pemanis jelas tidak bagus. Bergantung pada keajaiban memadamkan kreatifitas dan logika. Padahal logika itu penting ditempatkan sesuai porsinya.

Mari kita lihat sebentar kisah Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi patung. Ini jelas mengaburkan sejarah. Wangsa Sanjaya mendirikan candi Prambanan dengan tujuan untuk monumen cinta raja pada permaisurinya. Setidaknya itu yang saya dapat dari buku sejarah SMU. Lah kok seenaknya dongeng mengkalim sebagai produk jin suruhan Bandung Bondowoso. Pake nyumpahin mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung pula.

Lagi pula sah saja Roro Jonggrang menolak menikahi pria yang telah membunuh ayahnya. Menurut logika bisa jadi  Roro Jonggrang pantas kita bela sebagai protagonis yang berbakti pada orang tua.

Selanjutnya kisah Malin Kundang. Sejahil apapun perilakunya, kita pantas bertanya kenapa seorang Ibu memilih mengutuk daripada menggunakan keajaiban doa untuk menyadarkannya? Kita bisa saja nyinyirin kisah-kisah lainnya yang serba super, tapi tidak akan menghasilkan pencerahan apapun.

Jadi saya fokuskan mencermati sisi mana dongeng perlu mendapat perbaikan. Mungkin bukan dongeng  yang keliru tapi pesan moralnya yang kurang jelas dieksplorasi.

***

Saat mengisahkan keajaiban kita mengaburkan moralitas tertentu sebagai syarat terjadinya keajaiban. Padahal menurut Nasrullah, ahli Kimia yang juga seorang pendakwah, logika bisa menjelaskan keajaiban. Keajaiban itu sejenis formulasi kimia yang untuk terjadinya memerlukan syarat tertentu. 

HP secara ajaib bisa menghubungkan kita, tapi tanpa komponen, kuota dan sinyal tak akan membawa keajaiban. Begitulah sederhananya. Aspek inilah yang harus dibuat terang benderang. Tanpa metafora tanpa bumbu hiperbola. Logika tetap harus diberikan sesuai porsinya.

Pengaburan korelasi moralitas dan keajaiban menyebabkan penyerapan nilai dan norma pada anak tidak sempurna. Selain itu, anak-anak berada pada usia belum memiliki nalar kritis. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja mudah termakan hoax.

Baca Juga  Pesan Putus di 21 September 2017

Ada satu contoh dongeng bagus yang menggambarkan keterkaitan moral dan keajaiban. Bangsa Indonesia sebelum merdeka punya mitos bahwa perjuangan harus punya ruh suci. Kala itu kemerdekaan masih sebatas dongeng tapi akhirnya jadi kenyataan.

Bangsa kita berhasil mengusir penjajah dengan bersenjata bambu runcing. Itu adalah hal yang ajaib, tidak logis karena musuh kita punya meriam dan kecanggihan alat perang. Lawan kita pakar diplomasi tingkat tinggi

Ketidaklogisan itu bisa dijelaskan dengan dibungkus “mitos-mitos” sakral. Semua perjuangan yang lakukan dengan all out memberikan energi maskimal. Moral pejuangnya dibersihkan. Anti pamrih kebendaan, anti dosa besar, semisal perzinaan. Para pejuang meyakini mendekati perzinaan adalah tiket untuk mati konyol menjadi mangsa peluru nyasar. Tak heran meski kondisi memaksa lelaki perempuan tidur di barak yang sama tapi semua taat pantangan.

Setiap orang menjunjung nilai-nilai kesucian itu. Sampai-sampai veteran perang yang berhak pensiunan justru malu mengklaim tunjangan pahlawan. Mereka berjuang maksimal dan bukan untuk uang atau penghargaan. Kisah-kisah semacam inilah yang seharusnya tampil ke layar kaca. Menjadi solusi bangsa.

***

Negeri kita memang ajaib dalam segala aspeknya. Ajaib kekayaannya, ajaib keindahannya, ajaib orang-orangnya. Tak heran dongeng kita mengabadikan beragam keajaiban agar pesan moral itu sampai ke generasi selanjutnya.

Hingga hari ini, jika negeri ini belum maju mungkin karena kekeliruan kita.  Makna pesan leluhur tentang formula keajaiban yang mensyaratkan standar moral telah kita reduksi dalam tuturan hiperbol. Pesan utama telah hilang.

Kita mengakui keajaiban tapi bukan menuhankannya. Kita butuh dongeng yang membuka peluang logika bertanya. Dongeng yang berani menyajikan realitas dan memilihkan respon terbaiknya.

Anak-anak kita butuh kisah yang membuat mereka bahagia meraih impian. Bukan kutukan bukan pula dininabobokan dengan kisah melenakan. Kita butuh narasi  untuk anak-anak kita kisah yang positif afirmatif. Dongeng dan kisah yang mengajarkan problem solving.

Ingin mengubah peradaban bangsa, Rahmania? Ubah dulu dongengnya.

Baca Juga  Setelah Ramadan, Mari Berburu Keajaiban Pagi

Bagikan
Comments
  • Kharisma resvita

    Bagus Bu 👍👍

    Februari 13, 2021
  • Kharisma resvita

    Bagus juga Bu dongeng nya asik banget Bu dongeng nya walaupun libur juga tetep baca dongeng dong Bu 😊

    Februari 13, 2021
  • Lily

    Masya Alloh Tabarokalloh bu Wiji.. sungguh tulisan yang menggugah.. mencerahkan dan membantu menyadarkan banyak pihak ada upaya yang mereduksi makna dongeng selama ini .

    Jazakillah ya bu Wiji inspirasi dan pencerahannya. Barokallohu fiik ibu😍💐

    Februari 13, 2021
Post a Comment