f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sekufu

Menimbang Standar, Sekufu, dan Rasa Insecure dalam Memilih Pasangan Hidup

Memilih pasangan hidup merupakan salah satu keputusan terpenting dalam perjalanan manusia. Keputusan ini bukan sekadar soal rasa cinta atau ketertarikan semata, melainkan tentang membangun ikatan jangka panjang yang sarat dengan tanggung jawab, pengorbanan, karakter dan visi misi hidup bersama. Dalam proses ini, muncul berbagai istilah yang kerap menjadi perbincangan, seperti standar, sekufu, dan belakangan juga rasa insecure. Ketiganya sering kali saling berkaitan, namun tidak jarang justru saling bertabrakan dalam benak seseorang yang sedang mempersiapkan pernikahan.

Dalam Islam, memilih pasangan hidup bukanlah perkara remeh. Rasulullah Saw. memberikan tuntunan yang jelas agar umatnya tidak tersesat dalam pertimbangan yang keliru. Namun di era modern, banyak nilai tersebut tertutup oleh standar sosial yang tinggi, perbandingan tanpa henti, serta rasa tidak percaya diri yang tumbuh subur di tengah maraknya standar sosial yang diperoleh dari sosial media. Oleh karena itu, memaknai kembali standar dan sekufu dengan kacamata Islam menjadi sangat penting agar proses memilih pasangan tidak diliputi kegelisahan dan ketakutan yang berlebihan.

Istilah standar dalam konteks memilih pasangan sering dimaknai sebagai kriteria ideal yang harus dipenuhi calon pasangan. Standar ini bisa berupa pendidikan, pekerjaan, penghasilan, kecerdsan, penampilan fisik, hingga latar belakang keluarga. Pada dasarnya, memiliki standar bukanlah sesuatu yang keliru. Islam pun mengajarkan umatnya untuk menggunakan akal dan pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk pernikahan. Namun, persoalan muncul ketika standar tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi sosial dibandingkan kebutuhan hakiki dalam membangun rumah tangga.

Dari sinilah lahir perasaan insecure. Seseorang merasa dirinya tidak cukup baik, tidak cukup mapan, tidak cukup cerdas, atau tidak memenuhi standar yang berlaku di masyarakat. Rasa insecure ini bisa membuat seseorang menunda pernikahan tanpa alasan yang jelas, atau sebaliknya, memaksakan diri mengejar standar yang tidak sesuai dengan kapasitas dan kepribadiannya. Padahal, Islam tidak pernah menjadikan kesempurnaan duniawi sebagai syarat utama dalam pernikahan. Berbeda dengan standar yang cenderung subjektif, konsep sekufu dalam Islam memiliki makna yang lebih mendalam dan objektif. Sekufu berarti kesepadanan atau kesetaraan antara calon suami dan istri dalam aspek-aspek fundamental kehidupan.

Baca Juga  Mengomunikasikan Kepedulian Guru kepada Siswa

Para ulama menjelaskan bahwa sekufu mencakup kesamaan dalam agama, akhlak, nilai hidup dan kesiapan menjalani peran dalam rumah tangga. Sekufu bukan berarti harus sama dalam segala hal, melainkan sejalan dalam arah dan tujuan hidup. Rasulullah Saw. menegaskan pentingnya agama dan akhlak dalam memilih pasangan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعِ : لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرُ بِذَاتِ الدَيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Yang artinya: “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa standar duniawi boleh dipertimbangkan, tetapi tidak boleh mengalahkan nilai-nilai keimanan dan akhlak. Ketika seseorang terlalu fokus pada standar duniawi, ia berisiko kehilangan esensi sekufu. Banyak pernikahan yang secara sosial terlihat ideal, namun rapuh karena tidak dibangun di atas kesamaan nilai dan visi. Sebaliknya, pernikahan yang sederhana namun dilandasi kesekufuan dalam iman dan akhlak sering kali lebih kokoh menghadapi ujian kehidupan. Rasa insecure juga dapat muncul ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain. Media sosial pun memperparah kondisi ini dengan menampilkan potret pasangan ideal, pernikahan mewah dan kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.

Padahal, Rasulullah Saw. mengajarkan kesederhanaan dan kejujuran dalam berumah tangga. Pernikahan beliau dengan Khadijah misalnya, dibangun atas dasar kepercayaan, akhlak mulia, dan dukungan moral yang kuat, bukan semata-mata status atau penampilan. Rasulullah Saw. juga memberikan teladan dalam memperlakukan pasangan dengan penuh kasih sayang dan penghormatan. Beliau membantu pekerjaan rumah, mendengarkan pendapat istri-istrinya, dan menunjukkan empati dalam kehidupan sehari-hari. Teladan ini menunjukkan bahwa kualitas pernikahan tidak ditentukan oleh standar materi, melainkan oleh akhlak dan komitmen bersama.

Baca Juga  PP Tunas sebagai Instrumen, Pengasuhan sebagai Jantung Perlindungan Anak

Dalam konteks ini, insecure seharusnya tidak dijadikan penghalang untuk menikah, tetapi menjadi bahan muhasabah diri. Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan, dan pernikahan adalah ruang untuk saling melengkapi. Sekufu bukan berarti bebas dari kekurangan, melainkan kesiapan untuk tumbuh bersama dalam iman dan kesabaran. Generasi muda Muslim perlu menyadari bahwa standar yang sehat adalah standar yang membawa kepada ketenangan, bukan kegelisahan. Standar yang Islami akan mengarahkan seseorang untuk bertanya: apakah calon pasangan ini membantu saya mendekat kepada Allah? Apakah kami memiliki nilai yang sejalan dalam memandang kehidupan? Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting dibandingkan sekadar memenuhi ekspektasi sosial.

Pada akhirnya, memaknai standar dan sekufu dalam memilih pasangan hidup harus selalu dikembalikan pada nilai-nilai Islam dan teladan Rasulullah Saw. Pernikahan bukan ajang pembuktian diri atau pencapaian status sosial, melainkan ibadah panjang yang membutuhkan niat lurus dan kesiapan batin. Dengan menjadikan iman dan akhlak sebagai fondasi, rasa insecure dapat dikelola dengan bijak, dan proses memilih pasangan menjadi lebih tenang dan bermakna.

Rasulullah Saw. telah memberikan contoh bahwa rumah tangga yang diberkahi tidak dibangun di atas kesempurnaan duniawi, tetapi di atas keikhlasan, kesetiaan, dan ketakwaan. Maka, siapa pun yang sedang berada dalam proses memilih pasangan hidup, hendaknya menimbang standar dengan bijak, memahami sekufu secara mendalam, dan mengelola rasa insecure dengan keimanan. Sebab, pernikahan yang diridhai Allah bukan tentang siapa yang paling sempurna, melainkan siapa yang paling bersungguh-sungguh menjaga amanah cinta dalam bingkai ibadah.

Bagikan
Post a Comment