Seekor Kolibri di antara Angin
Mertuaku bercerita dengan bahasa Indramayu di balik telepon, yakin bahwa apa yang dilihatnya di alam mimpi adalah kenyataan yang melukai batinnya.
“Mimi ku ndeleng, si Nok ndase dicokot kucing, dicakar-cakar! Pak! Pak! Anake Haris karo Dena, ndase dicokot kucing…!”[1]
“Aman, Mi. Insya Allah aman. Iki Syaveena lagi nyusu karo mbok e,”[2] ujar suamiku menenangkan, meski aku menangkap bayangan panik di balik suaranya. Tatapannya tertuju pada bayi mungil kami yang baru berusia tiga minggu.
Sambil menyusui Syaveena di ruang TV, wajahku memantulkan sisa takut. Cerita mimpi itu mengendap di benak, membentuk cemas yang tak terucap. Mataku tertuju pada seekor kucing berbulu hitam-putih yang tidur di pojok pintu luar rumah—kucing yang kami tolong dua bulan sebelum kelahiran Syaveena.
“Masa iya kamu sejahat itu, Cing?” batinku lirih.
Dua tahun setelah percakapan itu, aku duduk di depan ruang endoskopi sebuah rumah sakit besar di Jakarta. Lorong itu sempit, baunya menusuk hidung, lampunya menyilaukan mata. Suara roda kursi, tabung oksigen, dan langkah-langkah tergesa menjadi musik kehidupan kami. Aku duduk bersama Haris di kursi besi dingin, menunggu nama Syaveena dipanggil.
Hari-hariku penuh bising pikiran, tapi sunyi di dalam jiwa. Naluri manusiawiku muncul: menyalahkan diri sendiri, menyalahkan keadaan. Jam dinding menunjukkan pukul 14.47. Kami sudah lama menunggu, tapi belum juga terdengar suara dokter.
Di kepalaku, suara-suara dari masa lalu ikut menyerbu.
“Di rumah pelihara kucing, ya, Bu?”
“Waktu hamil sering megang kucing, ya?”
“Neng, jangan marah, mungkin ini semua karena kucing.”
“Siapa suruh pelihara kucing!”
Argh, lagi-lagi kucing! Seolah semua orang butuh kambing hitam atas sesuatu yang tak mereka mengerti. Padahal hatiku tahu, tak sesederhana itu.
Aku kembali ke hari-hari awal, ketika dokter menyampaikan diagnosis pertama.
“Bu, kepala anak ibu kecil. Kita sebut microcephaly. Dari hasil MRI kemungkinan penyebabnya infeksi saat dalam kandungan. Salah satunya bisa karena Cytomegalovirus. Berdasarkan hasil PCR, virus masih aktif. Kita perlu terapi antivirus meski itu obat keras.”
Kalimat itu seperti palu godam menghantam jiwaku. Sejenak aku ingin tuli. Rasanya lebih baik tidak mendengar sama sekali daripada menerima kenyataan sekejam itu. Aku menatap Haris. Ia menunduk, menahan sesuatu yang jelas mengguncang dadanya.
Sejak itu, dunia berubah. Orang-orang menambah garam di luka kami. Ada yang menyalahkan kebiasaan memelihara kucing, ada yang berkata, “Ini mungkin karena dosa-dosa kalian.” Kalimat-kalimat itu menohokku, membuatku merasa gagal sebagai ibu. Padahal aku tahu, aku sudah melakukan yang terbaik. Tapi tuduhan itu menempel di dadaku, menjerat setiap napas.
Bukan hanya ucapan orang. Sistem pun terasa tak ramah. Mengurus terapi, mencari rujukan, mendaftarkan BPJS, menunggu antrean—semua bagai labirin panjang. Pernah, Syaveena tertolak dari rumah sakit besar dengan alasan, “Antivirus hanya untuk dewasa, bukan bayi. Negara tidak meng-cover biaya ini. Silakan cari rumah sakit lain.”
Aku keluar dari gedung itu dengan langkah goyah. Di luar, panas menyengat. Syaveena terbaring diam di pelukanku, tubuhnya masih berperang dengan virus. Air mataku jatuh, bukan hanya karena lelah, tapi karena dunia terasa tak memeluk anakku.
Malam datang tanpa janji pagi. Tubuhku lelah, jiwaku lebih lelah. Aku kehilangan makna. Ketika makna hilang, segalanya hancur.
Haris berusaha menjadi jangkar. Ia sering berbisik, “Kita bisa, Den. Kita kuat.” Tapi aku tahu, ia juga rapuh. Kadang aku mendengar isaknya di atas sajadah. Ia ingin terlihat kuat, tapi hatinya pun berkeping.
Suatu malam, setelah seharian penuh terapi, aku duduk di samping ranjang Syaveena. Ia tertidur dengan selang kecil di tubuhnya, wajahnya tenang. Aku menyentuh pipinya pelan.
Kabut menjumpai ruangan kami, mataku tak bisa lagi berdiskusi dengan malam; ia mudah jatuh, lalu terbangun di dunia yang lain. Rasa-rasanya, malam kali ini sungguh berbeda. Bulan jauh lebih besar dan dekat dari biasanya. Ia seperti memayungi takdirku.
Aku mendapati diriku berdiri di bawah rembulan besar yang ramah. Ada kepakan kecil yang mengudara di bawah cahaya rembulan. Sesekali ia melayang sembari menari, terkadang gerakannya seperti miniatur baling-baling di udara. Ia semakin dekat—saking kecilnya tak ada rasa angin yang berarti dari kepakannya. Ia menunggangi pundak kananku dengan perlahan. Aku hanya menyapanya dengan senyum tanpa suara.
“Bunda… hai…” sapanya lembut. Tak lama, telapak tangan kananku mulai bercahaya, seakan pijakan kaki kecilnya dan suaranya mengaktifkan energi cahaya hingga ke ujung jemariku. Aku menengadahkan tangan bercahaya itu ke arah langit, burung kecil itu pun mendarat di sisi telapak tanganku.
“Burung kecil berwarna keemasan yang bercahaya… dari manakah dirimu?” tanyaku.
Kepalanya menengadah ke arahku. “Dari rahim seorang ibu yang menjagaku seperti ia menjaga dirinya sendiri. Dari tawa, suka, dan janji antara dua insan yang saling mencintai. Dari izin-Nya aku terbang ke hidup kalian—membawa kebahagiaan dan kebanggaan yang kalian anggap sebagai kesukaran. Kini, dengan bangga aku hidup di antara kalian, membopong lencana surga yang kusematkan di tubuhmu dan tubuh seorang ayah.”
Tatapanku kepada burung kecil itu mulai tak karuan, semakin buram karena tertutup cairan di mataku. Ucapannya menikam naluriku paling dalam. Aku pun menyentuh lembut tubuh mungilnya. “Eloknya ucapanmu, hangatnya tubuhmu. Kau tampak rapuh, tapi sebenarnya kau cukup kuat untuk disebut rapuh,” bisikku.
“Bunda, aku ingin bercerita.” Burung kecil itu mulai terbang dengan seimbang di depan wajahku—berjarak sekitar satu meter. Tak nampak ia kelelahan dengan kepakannya, seakan memang sayapnya diciptakan untuk menggendongnya.
“Burung-burung lain menciptakan daya angkat dengan mendorong udara ke bawah saat sayapnya turun. Burung besar mengandalkan luncuran, burung lainnya bergantung pada sayap yang berkibar. Sedangkan aku? Aku adalah Kolibri! Kolibri berbeda. Kolibri bukan hanya mendorong udara saat turun, tapi juga saat naik. Kolibri itu seperti menari di udara. Aku melayang bukan dengan bantuan angin, melainkan dengan kehendakku sendiri.”
Di akhir ceritanya, datanglah hujan yang cukup deras, angin yang kencang menemani pertemuan kami. Burung kecil itu—ya, kolibri itu—menikmati hujan dan angin dengan riang. Entah mengapa hatiku merasa ikut menemaninya di tengah hujan, seakan kami memang dipersatukan di tengah badai tanpa takut pada petir yang menyapa.
Seekor kolibri di antara hujan dan angin—begitulah aku melihatnya. Rapuh, kecil, tapi tak henti mengepakkan sayap. Ia sedang mengajariku bahwa bahkan angin paling kencang pun tak bisa menghentikan kolibri untuk tetap terbang, meski pelan, meski dengan sayap mungil yang masih basah. Rahasianya terdapat pada gerakan sayap berbentuk angka delapan horizontal, di mana ujung sayap berputar mengitari sendi bahu, menciptakan gaya angkat ganda. Kolibri menghasilkan daya angkat selama seratus persen dari setiap siklus kepakannya.
Ia terbang semakin jauh, melawan arah angin, menuju sumber hujan. Aku berlari mengkhawatirkannya—aku tahu ia kuat, tapi rasa khawatir ini tak dapat kuelakkan. Entah sudah seberapa jauh aku berlari dan terjatuh berkali-kali, hingga tak kusadari aku telah sampai di tengah hutan tanpa seorang pun. Di keheningan dan kegelapan, hanya cahaya bulan yang menemani. Aku merasa tersesat.
Aku masih dalam topangan tanah di tengah hutan, tubuhku terduduk, kepalaku tertunduk. Air mataku pun ikut merajuk. Aku kehilangan jejak kolibri itu di udara tanpa tanda. Oh, malangnya kolibri kecil itu terbang sendiri di bentangan alam ini. Rasanya hanya aku yang dapat melindunginya.
“Ke mana kamu pergi, Kolibri?” rintihku.
Dari kejauhan, terdengar dentuman yang cukup kuat—setidaknya cukup untuk meruntuhkan dahan-dahan kering di sekitarku. Dentuman itu semakin dekat. Semakin kudengarkan, suaranya mirip derap langkah seekor hewan besar yang berlari. Semakin dekat, semakin kuat. Ia muncul dari kabut putih bercahaya di depanku. Ah, silau rasanya!
Ternyata tubuhnya besar—empat kali lipat lebih besar dariku—seekor kucing berbulu hitam putih dengan mata berwarna zamrud.
“Tak perlu kamu menangisi kolibri itu. Ia punya caranya sendiri untuk terbang dan bertahan di dunia ini. Apa yang ada di burung lain belum tentu ada padanya. Tapi apa yang ada di dalam dirinya, tentulah tak dimiliki burung mana pun. Hanya kolibri sajalah yang memiliki keajaiban itu.” Suaranya lembut, seperti suara perempuan dewasa yang teduh tapi tegas. Entah di dunia bagian mana aku berpijak sekarang, yang jelas mereka semua tak asing bagiku.
“Aku datang menjemputmu. Seperti dulu kau datang menjemputku di jalanan dingin—di sudut kota yang tak bersahabat bagi tubuh mungil dan pincang sepertiku. Hanya pandangan iba yang menghujamku bersama hujan. Lalu, dirimu dan suamimu datang, memberiku tempat di rumah yang hangat, perawatan yang tulus, hingga sembuh lukaku. Selamat datang di dunia perantara. Mari duduk di atasku. Akan kuantarkan kau ke tempat di mana seharusnya dirimu berada.”
Sepatah kata pun tak terlontar dari mulutku. Aku hanya mendengarkannya, memikirkan ucapannya, dan menuruti keinginannya. Aku memeluk tubuhnya, melewati batas waktu dan kegelapan, menembus cahaya pelangi yang tak pernah kubayangkan ada. Kami sampai di perhentian seberang jembatan, di bawahnya mengalir sungai jernih yang tak terjamah.
Di seberang jembatan itu, ada pemandangan paling indah yang pernah kulihat seperti lukisan yang hidup. Haris berdiri di sana, mengenakan pakaian putih bersih. Di sisinya, Syaveena berlari kecil bersama seekor kolibri yang berputar-putar di sekelilingnya. Tawa mereka membumbung di udara, ringan, seperti lagu yang lama terlupa tapi kini kembali terdengar.
Aku melangkah mendekat, menatap mereka. Kolibri itu berhenti di antara kami, mengepakkan sayapnya dan berkata lembut, “Bunda, lihatlah… kami tidak pernah benar-benar jauh. Kami hanya terbang di sisi lain dari doamu.”
Haris menatapku, mengulurkan tangan. “Kita sudah cukup kuat sekarang, Den. Sudah waktunya kembali,” ucapnya dengan suara lembut yang hampir seperti angin.
Aku ingin memeluk mereka, tapi cahaya di sekitar mulai redup. Angin berputar di antara kami, membawa aroma rumah, aroma susu, dan pelukan yang selalu kurindukan. Kolibri itu terbang ke arahku, lalu menempel di dada kiriku, menyatu bersama detak jantungku.
Aku menutup mata. Saat kubuka kembali, aku sudah berada di sisi ranjang Syaveena. Tubuhnya masih terlelap, dan Haris tertidur di kursi dekat pintu. Air mataku jatuh perlahan, tapi kali ini bukan air mata duka—melainkan keharuan.
Di antara luka dan penolakan, Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk menyelipkan cahaya. Cahaya itu hadir dalam bentuk sebuah buku—hadiah sederhana dari bidan yang membantu persalinanku. Aku membacanya bukan karena aku kuat, melainkan karena aku rapuh. Salah satu kalimatnya menampar sekaligus memeluk: Keajaiban akan datang jika kita bersyukur pada musibah di tumbukan pertama.
Sejak itu, aku mulai melihat Syaveena bukan sebagai musibah, melainkan titipan agung. Ia kolibri kecil di antara angin. Sayapnya mungkin belum terbuka, tapi setiap geraknya adalah doa yang terbang ke langit. Haris menggenggam tanganku. “Allah tidak pernah salah pilih menitipkan Syaveena pada kita,” katanya.
Kini, setiap lorong rumah sakit tak lagi terasa sepi. Aku tahu ada Allah, ada Haris, dan ada Syaveena—kolibri kecil yang mengajarkan arti keberanian. Seekor kolibri di antara angin. Itulah dia. Itulah kami, yang belajar menari bersama badai.
Lorong ini hanyalah satu dari sekian banyak perhentian. Tapi aku percaya, di ujung setiap lorong akan selalu ada cahaya. Karena setiap kolibri yang terus terbang melawan angin, suatu saat akan menemukan langitnya sendiri.
[1] “Mimi itu lihat, si Dedek (Syaveena) kepalanya di makan kucing, dicakat-cakar! Pak! Pak! Anaknya Haris sama Dena kepalanya di makan kucing…!”
[2] “Aman, Mi. Insya Allah aman. Ini Syaveena lagi menyusui sama Ibunya”
Desy Al Hasyah adalah seorang ibu rumah tangga lulusan Pengembangan Masyarakat Islam, UIN Sunan Kalijaga, yang pernah bekerja menjadi Regional Researcher serta Research Assistant untuk lembaga penelitian The SMERU Research Institute dan pernah bekerja di INFID (International NGO Forum on Indonesian Development).
Masih terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi difabel di DIY. Tulisannya sedang dimuat dalam karya dokumentasi Bunga Rampai Bulan Literasi 2025 yang melibatkan teman-teman difabel. Kesibukan sehari-hari selain Ibu Rumah Tangga yaitu merangkai perjuangan bersama anak spesialnya—dengan pergulatan terapi, rumah sakit, hal medis, serta harapan.

Tari
Semangat untuk syaveena
Ibuk izzah
Hai ibu desy yang hebat ❤️
Sejak kuliah kamu mahasiwa yg hebat menurutku. Ternyata kehebatanmu semakin tambah setelah punya anak syafana… terima kasih bu desy telah menjadi ibu yg baik dan memperjuangkan syafana.
Sehat ceria tambah pinter syafana❤️
Mpit
Selalu percaya takdir Allah itu ga pernah salah. Teh Desy dan suami orangtua yang tepat pun hebat buat syaveena bidadari cantik..♥️