f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
reuni

Reuni Teman SMA

Kalau tidak salah, kami sudah berpisah lebih dari sepuluh tahun lamanya. Setelah pesta perpisahan yang tak lebih dari ajang pamer baju itu maka berakhir pula kebersamaan kami selama kurang lebih tiga tahun di SMA. Semua teman-temanku menghilang. Hanya sebagian yang aku ketahui keberadaan dan nasibnya. Itupun lantaran dulu kami berteman akrab dan sekarang punya nasib sama, sebagai ibu rumah tangga.

Malam tadi aku mendapat pesan dari Nida, temanku sewaktu SMA. Ia mengabarkan bahwa besok malam ia dan teman-teman seperjuangan dulu akan mengadakan reuni kecil-kecilan di sebuah café. Memang hanya beberapa orang yang mengatakan akan berhadir. Yang lainnya sedang sibuk.

Aku sendiri mengatakan akan berhadir. Kebetulan besok malam tidak ada acara keluarga dan suamiku juga sudah memberikan izin. Tak sabar aku ingin melihat penampilan mereka sekarang. Perihal nasibku yang kini hanya seorang ibu rumah tangga, tidak terlalu kupikirkan. Toh aku masih bisa hidup dari gaji suamiku yang bekerja swasta. Meski kadang juga kekurangan. Lagipula bukankah semua perempuan memang harus menjadi ibu rumah tangga.

Aku, Ibu Rumah Tangga

Dari kejauhan aku melihat Nida duduk melingkar bersama empat orang yang wajahnya tidak terlalu asing bagiku. Ada tiga perempuan dan satu laki-laki. Aku segera menghampiri. Mereka menyambutku hangat. Kami bersalaman, kemudian dilanjutkan berbincang-bincang untuk melepas rindu.

Pembicaraan kami berlangsung semakin cair. Seperti yang aku duga, hal pertama yang ditanyakan adalah pekerjaan. Namun aku menjawab dengan santai.

“Aku seorang ibu rumah tangga bagi anak dan suamiku. Dan aku bahagia,” jawabku dengan ekspresi wajah tanpa beban.

Kebetulan di sini hanya aku yang menjadi ibu rumah tangga atau tidak memiliki pekerjaan selain memasak, merawat anak, dan melayani suami. Aku sudah tahu bahwa Nida adalah seorang guru Bahasa Indonesia di sekolah kami dulu. Asri kini bekerja di perusahaan asuransi. Sedangkan Hana menjadi pengurus PKK. Terakhir adalah Utomo. Ia seorang pebisnis sarang walet di daerahnya. Aku sebenarnya tidak terlalu akrab dengan Utomo karena sewaktu SMA ia berada di jurusan IPA sedangkan aku IPS. Meski begitu kami tetap saling kenal.

Layaknya ibu-ibu yang berkumpul, pembicaraan terus mengalir ke sana kemari, bahkan kadang lepas kontrol. Semisal membicarakan teman-teman SMA kami dulu yang kini hidupnya tak layak. Lebih seru lagi jika membahas pernikahan dan perceraian yang dialami teman-teman SMA. Kalau saja aku tak hadir, apakah mereka akan membicarakan diriku? Ah tapi tak penting dipikirkan. Setelah ini juga akan berpisah kembali.

Utomo, Si Anak IPA yang Humoris

“Daripada kalian membicarakan yang lain, lebih baik kalian memperhatikanku,” ucap Utomo yang kemudian menghentikan pembicaraan kami mengenai penyakit yang diidap seorang teman.

Kami berempat mengarahkan pandangan ke Utomo.

“Apa yang akan kamu lakukan? Jangan-jangan kamu ingin mengeluarkan lelucon seperti hobimu dahulu,” sambung Asri kemudian terkekeh.

Mendengar perkataan Asri tadi aku sudah ingat sekarang. Utomo semasa SMA dulu memang terkenal di sekolah karena ia orang yang humoris. Berbicara dengannya tak lengkap jika tak tertawa mendengar leluconnya. Dirinya seperti seorang penghibur dengan banyak cara. Ia juga mudah berbaur dengan siapapun.

Kami sempat menganggapnya aneh karena biasanya anak IPA adalah orang yang serius. Kalaupun bercanda juga tidak selucu dirinya. Terkadang ada yang sampai menuduh dirinya menyogok para guru agar diterima di jurusan IPA. Tapi semua itu hanya isu, atau mungkin pelampiasan mereka yang kecewa tak bisa mengambil jurusan itu.

Permainan Uang

Utomo mengambil kotak tisu yang ada di depan kami. Ia kemudian mengambil beberapa lembar tisu.

“Kalian lihatkan. Semua ini adalah tisu,” sambil memperlihatkan tisu yang tadi ia ambil.

Tangannya kemudian menutup lubang kotak tisu itu. Ia menutup mata dan mulutnya seperti membaca sesuatu. Selesai, ia menyodorkan kotak tisu dan menyuruh kami untuk membukanya.

Tanpa tahu apa maksudnya, kami membukanya bersama-sama. Betapa terkejutnya kami ketika kotak tisu dibuka. Kami tidak mendapati tisu-tisu yang tadi diambil Utomo, melainkan telah berubah menjadi beberapa lembar uang. Kami benar-benar kaget bahkan sampai histeris. Kami mengambil uang itu. Mengelus dan menerawangnya. Uang itu ternyata asli. Sangat sulit dipercaya.

“Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?” Hana masih tak percaya. Ia kembali mengambil uang itu dan menghitungnya.

“Ini benar-benar ajaib. Kita bisa kaya raya. Tak perlu lagi menggunakan asuransi. Hahaha,” sambung Asri.

“Kamu menggunakan sihir ya?” tiba-tiba aku keceplosan bicara. Aku langsung menutup mulutku. Ah gawat. Semoga ia tidak tersinggung.

“Hahahaha. Nikmati saja. Kalian mau aku tunjukkan lagi?”

Ya Tuhan, apakah Utomo akan mengeluarkan uang lagi. Yang ada di meja saja sudah membuat kami tersentak. Bagaimana nanti kalau dilihat orang-orang. Bisa-bisa kami dirampok. Aku mulai berkhayal liar.

Hanya Hana yang Tak Mengambil Uang Itu

Laki-laki itu kembali memperlihatkan kemampuannya. Ia mengambil vas bunga kecil di meja sebelah. Tangannya menggenggam erat vas bunga itu. Sama seperti tadi, matanya ditutup dan mulutnya seperti membacakan sesuatu. Setelah selesai, ia menyodorkan vas bunga itu kepada kami. Secepat kilat Nida mengambilnya.

Kejadian aneh kembali terjadi. Setelah Nida mengeluarkan bunga-bunga plastik itu dari tempatnya, Nida menemukan uang seratus ribuan yang tergulung di dalamnya. Setelah dihitung uangnya mencapai setengah juta. Kami semua benar-benar takjub. Hampir tak bisa lagi berkata apa-apa.

“Sekarang kalian ambil semua uang itu. Anggap saja ini pemberian dariku karena kalian sudah mau meluangkan waktu untuk datang.”

Sontak saja, aku, Nida, dan Asri berebut. Kami mengambil sebanyak yang kami bisa. Tak peduli dengan pengunjung lain yang melihat tingkah laku kami. Mendapatkan banyak uang dari seorang teman lama, memangnya siapa yang tidak mau.

Kulihat hanya Hana yang tak mengambil uang itu. Ia masih diam di tempatnya sambil sesekali tersenyum melihat kami yang berebutan layaknya anak kecil. Mungkin Hana ingin menjaga citranya sebagai istri pejabat. Itu wajar. Jika ia menjadi aku, mungkin akan melakukan hal sama.

Kami semua kemudian pulang ke rumah masing-masing. Tentu saja setelah berfoto ria dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Utomo. Ia menjadi bintang hari ini karena aksinya yang sangat hebat. Kami semua bangga memiliki teman seperti dirinya. Begitulah Utomo. Ia adalah penghibur dengan banyak cara, salah satunya menghibur dengan cara memberikan uang.

Aku sendiri masih tak habis pikir bagaimana ia melakukannya. Apakah sihir, sulap, atau sejenisnya. Tapi apapun itu, aku merasa sangat senang karena bisa pulang membawa uang banyak. Nanti akan aku tunjukkan pada anak dan suamiku. Pasti mereka juga tak akan percaya.

                        *****                                                              *****

Aku terbangun setelah mendengar teriakan anak pertamaku. Rupanya aku bangun kesiangan. Ini akibat reuni malam tadi yang membuatku harus pulang terlalu malam. Aku segera beranjak dan keluar kamar.

“Ibu, uang aku yang ada di dompet hilang semua,” ucap Rima sambil memperlihatkan dompetnya yang kosong melompong. Padahal baru kemarin ia diberi uang oleh pamannya.

“Mungkin kamu lupa menaruhnya,” ucapku sambil merapikan rambut yang acak-acakan.

“Tidak, Bu. Aku ingat betul kalau semua uang itu aku taruh di dalam dompet.”

“Ibu…Ibu…” terdengar suara Ana dari kejauhan. Duh, ada apa lagi ini.

“Uangku semuanya hilang, Bu.” Ana terlihat panik.

“Ya ampun. Kenapa kalian bisa kehilangan uang seperti ini?” aku mulai kebingungan.

“Tidak tahu Bu. Jangan-jangan ada maling,” wajah Ana semakin cemberut.

“Ya sudah kalian tenang saja. Biar Ibu yang ganti semua uang kalian yang hilang.” Aku bergegas mengambil dompetku. Untungnya malam tadi aku mendapat uang sehingga bisa mengatasi masalah sepagi ini.

Bau Busuk dari Dalam Dompet

Aku merasa ada sesuatu yang lebih aneh dan mengherankan. Aku tidak menemukan sepeser pun uang dalam dompetku. Kini aku yang menjadi panik. Padahal aku yakin betul jika uang yang aku dapatkan semalam masih kusimpan di dompet. Oh tidak, uang itu telah raib. Bau busuk. Ya, aku mencium bau busuk dari dalam dompetku. Ulah siapa semua ini.

“Ayaaah. Uang Ibu hilang juga,” aku mengadu ke suamiku. Tak lama ia datang menghampiri.

“Astagfirullah. Ada apa ini. Tadi Ayah sudah cek semua tempat. Tidak ada tanda-tanda kalau rumah kita dimasuki maling.”

Aku semakin bingung. Ini kejadian yang sangat aneh. Suamiku bilang tidak ada tanda-tanda bekas ulah maling. Tidak mungkin juga jika kami semua lupa menaruhnya. Dan yang hilang hanya uang kami saja.

Di situasi seperti ini, aku kembali teringat dengan uang yang malam tadi aku dapatkan. Uang itu sekarang tidak ada bahkan uang kami yang lainnya juga hilang. Mengenai bau busuk tadi juga belum diketahui dari mana asalnya. Aku tidak tahu apakah semua ini berhubungan. Aku segera menelpon Nida mengingat ia juga mengambil uang malam tadi.

 “Nida. Kami mengalami kejadian aneh. Semua uang di dompet kami tiba-tiba hilang,” kataku dengan nada panik.

“Sudah kuduga. Aku juga mengalami hal yang sama. Sekarang aku berada di kantor polisi. Kita semua telah ditipu oleh Utomo.”

Bagikan
Post tags:
Post a Comment