Haruskah Seseorang Memiliki Sahabat?
Suatu hari aku menghadiri sebuah seminar, aku lupa tepatnya judul kegiatan hari itu, namun masih berhubungan dengan latar belakang konsentrasiku, yakni, pendidikan dasar. Tiba-tiba seorang pengisi acara menghampiriku, dan menanyakan siapa sahabatku pada saat aku berada di sekolah dasar. Aku menjawab dengan yakin, bahwa aku tak memiliki sahabat waktu SD.
Namun dia tidak berhenti sampai disitu, karena dia juga penasaran siapa kemudian sahabatku ketika duduk di bangku SMP, dan saat aku berada di tingkat SMA. Lagi-lagi dia tidak mendapat jawaban yang sesuai dengan keinginannya, bahwa memang aku tak memiliki sahabat.
Tentang kata “sahabat”, apakah pengertianku sesuai dengan pemahaman kalian?
Bagiku, sahabat adalah seseorang yang tak pernah abai dalam kondisi apapun di hidup kita. Seseorang yang bahkan tak memiliki sedikitpun iri dalam dirinya akan kesuksesan sahabatnya tersebut. Sahabat selalu hadir pada setiap kondisi dalam hidup.
Aku memang tidak memiliki sahabat seperti yang aku pahami dalam definisku di atas. Aku hanya berteman dengan teman-teman SD, SMP, maupun SMA.
Ya, tentu aku bermain dengan mereka ketika istirahat sekolah dan belajar bersama pada sebuah kesempatan mengerjakan tugas kelompok. Pertemananku sampai di situ saja, karena ketika kembali ke rumah, aku tak melibatkan teman-temanku dalam urusan pribadiku.
Yang kulakukan memang berbeda dengan teman-teman seusiku waktu itu, mereka sangat akrab berteman, bahkan pada tahap sangat tahu satu lainnya. Aku melihat ada seorang temanku, sebut saja namanya Harum (bukan nama sesungguhnya), dia memiliki seorang sahabat bernama Wangi (bukan nama sesungguhnya juga), dan keduanya bersahabat sejak SD hingga saat ini.
Aku memiliki alasan kenapa aku menyebut teman-temanku bukan sahabat. Ya, karena aku berteman saja dengan mereka, tanpa aku menceritakan kegalauan serta kebahagian yang kurasakan. Relasi yang kubangun memang tak sama dengan teman-temanku lainnya (pada waktu itu), yang mereka menikmati persahabatan dan saling mengetahui rahasia satu lainnya.
Aku selalu berpikir bahwa ketika aku memiliki persoalan yang harus aku pecahkan, aku tak harus bercerita dengan temanku, karena aku yakin mereka sendiri juga memiliki problem yang harus segera dipecahkan olehnya. Aku tak ingin menambah beban berat yang sedang orang lain tanggung.
Meskipun kemudian dalam pertemanan di sekolah, tak sedikit dari teman-temanku yang suka bercerita padaku terkait masalah pribadinya. Dan aku menerima kepercayaan itu. Aku mendengarkan yang mereka ceritakan. Aku berdiskusi dengan mereka, sesuai pengetahuanku saat itu.
Dari cerita yang kuingat, tiba-tiba pertanyaanpun hadir, haruskah seseorang memiliki sahabat? Wajarkah jika aku lebih suka memisahkan hubungan pertemanan di sekolah (waktu itu) dengan kehidupan pribadiku? Apakah fokus pada diri sendiri dan menyenangi hal tersebut sebuah hal yang aneh?
Dalam kacamata psikologi (kampuspsikologi: 2021) terdapat kata solitude atau keadaan menyendiri tanpa merasa kesepian. Dijelaskan bahwa kondisi sendirian yang dilakukan seseorang bukan merupakan hal yang buruk. Bahkan dalam sumber yang sama dikatakan bahwa seseorang yang jarang melakukan sosialisasi cenderung memiliki kreativitas yang tinggi. Ide-ide kreatif akan muncul dan hal tersebut akan mendorong lahirnya inovasi tanpa adanya tekanan dari luar.
Merujuk sebuah sumber lainnya (suara.com: 2021), setidaknya hal-hal berikut dapat menambahkan pandangan baru.
1. Fokus pada Kreativitas
Bukan berarti kegiatan sosial tidak baik untuk dilakukan, namun terkadang banyak aktivitas bersama teman-teman di luar justru berakibat pada turunnya kemampuan berimajinasi. Kegiatan-kegiatan yang beragam serta melibatkan orang banyak juga berdampak pada pengalihan fokus diri dari hal-hal tertentu yang ingin dicapai.
Mengurangi pertemuan bisa jadi lebih baik karena akan membawa suasana nyaman untuk meningkatkan kreativitas personal. Menulis, membaca, dan menggambar merupakan kegiatan positif yang membutuhkan suasana ketenangan tanpa adanya gangguan kebisingan dari luar.
2. Menjaga Kebahagian Jiwa
Tentu kehidupan sosial penting bagi sebagian besar orang. Namun tak semua kegiatan sosial perlu dilakukan sepanjang waktu. Apalagi jika seseorang melaksanakan kegiatan tersebut hanya untuk menjaga pertemanan tetap berlangsung baik.
Melaksanakan kegiatan bersama bisa jadi merupakan hal yang menyenangkan, namun seseorang juga butuh dalam hidupnya memikirkan diri sendiri. Pandangan tentang diri sendiri tak mudah didapatkan jika terlalu banyak kegiatan bersama orang lain, karena seringkali pandangan teman-teman dalam lingkup sosialnya masuk menjadi bagian dari pandangan pribadinya.
Kebahagian jiwa semestinya perlu dipupuk dengan memersembahkan waktu bagi diri sendiri, sehingga pandangan pribadi sesuai dengan karakter dirinya.
3. Mudah Mengambil Keputusan
Banyak keputusan harus diambil seseorang tanpa membutuhkan intervensi siapapun. Kegiatan yang terlalu padat dan melibatkan banyak teman menimbulkan kurangnya waktu bagi diri sendiri untuk berpikir jernih. Keputusan terbaik seringkali diperoleh ketika seseorang telah bersedia mengalihkan diri dari keramaian kepada suasana jernih.
Tidak memiliki banyak teman atau bahkan memutuskan untuk tidak bersahabat bukan hal yang janggal dalam kehidupan. Tiap individu memiliki alasan dan haknya untuk melaksanakan pilihan yang diyakininya. Siapapun tidak memiliki kuasa untuk menentukan langkah orang lain, mengkritik dengan keras, atau bahkan membandingkan orang lain dengan dirinya.
Memiliki teman yang banyak ataupun sedikit bukan menjadi jaminan kesuksesan seseorang menuju pribadi yang baik. Namun kepribadian yang berkarakter dan mulia justru yang bisa memerlakukan seseorang dengan baik, tanpa memandang dia teman dekatnya atau bukan.
Penulis puisi, pendiri Yayasan Anis Badrus Jaya Inisiatif, dan pengajar di UIN Jakarta

Badrus
Good point Bu Anis. Tetap fokus pada mimpi dan cita-cita, Fokus melakukan inovasi dan kreativitas. Melalukan segala yang memberi manfaat untuk jiwa dan raga, masyarakat dan bangsa. Artikel penting untuk siapapun.
Muhammad Fauzan Magelang
Barakallah fiiki ukhti anis,, smoga sllu sehat dan diliputi keberkahan dalam semua urusan dan cita-citanya
Alice_Mkh
Saya rasa berteman dengan sewajarnya saja, tidak perlu sahabat yang akan menambah beban kehidupan kita apalagi yang dianggap sahabat mempunya hati yang iri. Fokus dengan diri sendiri jiwa lebih tenang, dan ide-ide kreatif bermunculan. Artikelnya bermanfaat sekali Bu Anis …. terus berkarya dan sehat selalu Ibuuuu ….