f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ngundang bayi

Soal Ngudang Bayi yang Tampak Tak Sepele

Bagi orang tua, ngudang bayi adalah aktivitas keseharian. Ya, ngudang bayi merupakan istilah dalam bahasa Jawa untuk menggambarkan orang tua yang menghibur sambil menimang anaknya. Bisa sambil digendong, duduk, diayun-ayun, atau bahkan berdiri. Bayi yang belum bisa bicara itu diajak menyanyi, bermain sederhana seperti cilukba, atau jenis kudangan lain sesuai kreativitas yang ngudang. Namun, ternyata soal ngudang bayi yang tak sepele ini punya makna dan manfaat besar.

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Akif Khilmiyah M.Ag. menyebut, ngudang bayi tak hanya soal melatih motorik anak. Lebih dari itu, ngudang bayi perlu ada isinya. Bila perlu, mengaransemen lirik lagu untuk tujuan edukasi rasanya sah-sah saja.

Perempuan yang juga anggota Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mencontohkan dengan lagu tepuk ami-ami yang sangat kondang di dunia ‘perngudangan’. “Tepuk ami-ami belalang kupu-kupu, siang makan nasi kalau malam minum susu. Itu kan lirik yang biasa kita tahu. Ya sebatas itu juga nanti yang diketahui anak, kalau siang makan nasi kalau malam minum susu. Tapi coba kalau kita ganti ‘tepuk ami-ami belalang kupu-kupu, siangnya mengaji kalau malam baca buku’. Sehingga tertanam dalam diri anak tentang budaya mengaji dan membaca buku,” paparnya.

Ngudang Bayi Penting untuk Perkembangan Psikologis

Setiap anak memiliki potensi kecerdasannya masing-masing. Kecerdasan tidak melulu soal kemampuannya di bidang matematis, tapi juga ragam kecerdasan lain yang kita kenal dengan kecerdasan majemuk. Salah satunya ialah kecerdasan yang berkaitan dengan bahasa. Bagaimana kecerdasan ini berkembang, orang tua memiliki pengaruh besar.

Orang tua yang ngudang anaknya di masa kecil dengan menyanyi secara tidak langsung akan mengajarkan kosakata baru pada anak. Meskipun saat itu anak belum bisa bicara, bahkan tidak tahu soal arti kata yang ia nyanyikan. Namun, penelitian mengungkapkan kemampuan bicara dan jumlah kosakata yang anak miliki berkaitan erat dengan aktivitas ngudang yang oran.

Baca Juga  Salah Kaprah ASI Eksklusif

Ketika lagu tersebut diulang-ulang, kosakata dalam lagu akan menempel di memori anak. Kelak saat anak bisa bicara dan pemahamannya sudah lebih berkembang, orang tua bisa menjelaskan arti kosakata tersebut. Bahkan sebelum sampai orang tua menjelaskan, anak mungkin sudah bertanya arti kata tersebut.

Ngudang dengan menyanyi juga bersifat menenangkan, mengurangi kecemasan bayi, hingga meningkatkan kelekatan antara orang tua yang ngudang dengan bayi. Istilah psikologisnya, meningkatkan bonding. Pada beberapa situasi yang membuat bayi tidak nyaman, orang tua bisa ngudang bayi sambil menyanyi untuk menenangkan perasaannya. Ekspresi yang orang tua munculkan dan bayinya lihat menjadi penghibur untuk mereka.

Ngudang adalah Media Edukasi Nilai Agama

Di masa kecil kita dulu lagu anak-anak sangat popular, meskipun pilihannya tak banyak. Yang paling legendaris sampai saat ini seperti bintang kecil, cicak di dinding, pelangi, atau naik delman. Pengenalan lagu-lagu biasanya orang tua langsung menuturkan saat berkomunikasi dengan anaknya.

Ini berbeda dengan zaman sekarang yang lebih variatif. Asalkan memiliki ponsel dengan koneksi internet, orang tua yang kurang kreatif sekalipun tinggal mengetikkan kata kunci dan muncullah beragam nyanyian untuk anak. Orang tua pun tak perlu susah payah menyanyikan. Bahkan anak bisa ditinggal melakukan aktivitas lain tapi tetap tenang karena ‘ada yang menemani’.

Padahal, merujuk pada penjelasan Dr. Akif di atas, ngudang adalah aktivitas yang sangat penting. Penanaman nilai-nilai agama bisa orang tua lakukan sejak fase ini. Kiranya, ngudang juga tak bisa dilepaskan dari slogan orang tua adalah pendidik pertama anak. Al ummu madrasatul ula, yang secara bahasa artinya ibu adalah madrasah pertama. Namun, bukannya kewajiban menjadi pendidik juga harus dilakukan secara seimbang oleh kedua orang tua?

Baca Juga  Toxic Family : Racun Tersembunyi dalam Keluarga

Jika ngudang dengan metode menyanyi saja memiliki segudang manfaat untuk anak, bisa kita bayangkan jika kudangan itu kita sisipkan nilai-nilai agama. Tentu ini juga menjadi bagian dari pendidikan agama yang kita berikan pada anak dengan cara yang menyenangkan, ringan, dan lebih melekat pada memori anak.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia member kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS an-Nahl: 78)

“Muliakanlah anak-anak kalian dan ajarilah mereka tata karma.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah)

Kutipan ayat Al-Quran dan hadis di atas menjadi penguat orang tua dalam mendidik anak. Jika ngudang dengan cara-cara yang kita terima di masa kecil dulu bersifat menghibur, maka sangat perlu bagi kita sebagai orang tua di era serba modern ini untuk menciptakan kudangan-kudangan yang lebih edukatif dan memuat nilai agama.

Bagikan
Post a Comment