f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
prestasi anak

Tidak Pernah Juara tetapi Sukses

Tiap sore hingga malam hari kedai Ari selalu ramai pengunjung. Kebanyakan anak-anak dan remaja. Dia jualan Ayam Geprek dan Kebab yang di kampungku termasuk jenis makanan menarik dan sedang digandrungi setelah Seblak. Ya, di kampungku. Kalau di kota, ragam makanan tersebut sudah bukan hal baru.

Dibantu abang, adik dan tiga temannya, dia tampak lincah melayani setiap pembeli sambil sesekali ngobrol ringan. Dari formula rasa yang enak dan pelayanan menyenangkan, tak heran bila para pembeli ingin kembali dan kembali ke kedainya. Bahkan banyak yang terperangah dan tak menyangka Ari bisa seperti sekarang ini. Ari, dahulu sering dipandang sebelah mata lantaran kurang cerdas hampir semua mata pelajaran di sekolah.

*

Saya pernah membaca sebuah artikel yang membahas tentang kecerdasan anak. Dalam tulisan tersebut ada pernyataan bahwa kecerdasan seorang anak lebih banyak diperoleh dari kecerdasan ibunya. Mungkin benar, karena saya sering menjumpai dari ibu yang cerdas lahirlah anak yang cerdas pula. Meski begitu tidak menutup kemungkinan, ada anak yang berotak cemerlang tapi ibunya biasa-biasa saja. Yang ini juga sering kita jumpai.

Dilahirkan sebagai anak ke-3 dari 4 bersaudara yang kini yatim, Ari tumbuh menjadi anak yang cukup mandiri. Walaupun bisa dibilang tak pernah mengukir prestasi di sekolahnya karena nilai-nilainya selalu di bawah rata-rata, namun dia sangat tekun belajar sehingga tidak pernah tinggal kelas hingga lulus SMA. Keterbatasan daya tangkap tak mengurangi semangatnya dalam belajar tentang apa saja. Karena di lubuk hati terdalam diapun ingin berprestasi seperti anak-anak yang lain.

Bicara soal prestasi, tidak setiap anak mempunyai prestasi yang sama antara satu dengan lainnya. Dan hampir setiap orang tua menginginkan anaknya berprestasi  baik di sekolah, di tempat mengaji maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Tak berlebihan dan wajar bila orang tua berharap demikian.

Baca Juga  Keluarga adalah Segala Tempat

Prestasi tidak harus diukur dari tingginya nilai-nilai di raport atau banyaknya piala yang diperoleh saat mengikuti ajang perlombaan. Sebab jika hanya dilihat dari peringkat di sekolah maupun keunggulan saat mengikuti lomba, berarti anak-anak lain yang nilai raportnya sedang-sedang saja atau yang tidak mengikuti lomba berarti tak berprestasi? Tidak kan?

Masing-masing anak memiliki potensi dan bakat tertentu yang bisa langsung terlihat lewat aksinya atau bakat terpendam yang hanya bisa terlihat setelah digali lebih dulu. Anak yang biasa berlangganan ranking atau peringkat satu di kelas disebut sebagai anak yang berprestasi. Yang di rumahnya berderet piala kejuaraan juga anak yang berprestasi. Inilah yang sering kita lihat.

Namun jika ada anak yang secara akademis kemampuan daya pikirnya jauh di bawah teman-temannya tapi dia di rumah sangat menghormati ibu bapak, santun, jujur, tidak mudah marah dan rajin membantu pekerjaan orang tuanya, apakah anak seperti ini tidak boleh disebut anak berprestasi? Paling tidak berprestasi di mata kedua orang tuanya kan?

Salah satu yang kadang kurang kita perhatikan adalah ketika ada anak yang dianggap bodoh, hanya karena nilai akademik di kelas selalu rendah. Padahal dia memiliki suatu keterampilan yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain sebayanya. Misalnya, dia terampil menyulap barang-barang bekas menjadi mainan sederhana dan unik. Biasanya yang bisa berkreasi seperti itu justru mereka yang belum pernah merasakan hebatnya jadi juara. Mereka itu selayaknya mendapatkan predikat anak berprestasi juga.

Suatu hari aku pernah bertanya dan minta kepada anak-anakku untuk memilih. Punya teman pintar luar biasa, selalu juara tapi pendiam, atau punya teman yang tidak terlalu pandai, tak punya piala atau piagam tapi selalu menyenangkan dalam bergaul. Ternyata tiga anakku memilih yang terakhir. Alasan mereka berteman dengan yang pendiam itu kurang asyik. Kadang diajak bercanda malah tersinggung, kata mereka. Karena itulah, meski karakter anak berbeda-beda, hendaknya pertemanan harus tetap terjalin tanpa harus melihat apa prestasinya.

Baca Juga  New Normal Life dan Dilema Baru Bagi Guru

Ranking atau pemeringkatan  berdasarkan nilai akademik di sekolah kini ditiadakan. Namun masih ada sebagian wali murid yang menghendaki ada ranking untuk mengontrol sang anak apakah nilainya makin bagus atau justru merosot. Pernah juga ada seorang ibu wali murid yang ngotot minta dibuatkan semacam catatan peringkat di kelas anaknya, tanpa menghiraukan wali murid lain yang telah sepakat dengan aturan sekolah.

Sudah saatnya peringkat-peringkat semacam itu tak dipermasalahkan lagi. Kalau toh ingin tahu siapa yang terpandai atau sebaliknya, biarlah itu urusan guru yang bersangkutan saja. Karena keseharian mereka di sekolah bersama guru. Gurulah yang lebih memahami keadaan murid-muridnya. Sebagai orang tua cukup memantau dan menyemangati dalam proses belajarnya sekaligus ikut berperan dalam pembentukan karakter positip sang anak.

Nilai akademik yang selalu bagus seolah jaminan yang akan memudahkan kelak masuk ke jenjang lebih tinggi dalam menuntut ilmu. Tapi nilai yang bagus di sekolah bukanlah satu-satunya kunci kesuksesan seseorang terhadap masa depannya. Tak jarang kita temui anak-anak yang pandai dalam pelajaran di sekolah, justru pelit bila ada temannya yang minta diajari mengerjakan PR. Biasanya anak seperti ini kurang supel dalam pergaulan bahkan dijauhi teman-temannya.

Sebaliknya, anak yang biasa-biasa saja nilai akademiknya tapi memiliki sifat yang grapyak semanak alias ramah penuh keakraban, akan memiliki banyak teman dalam situasi apapun. Mereka punya karakter mudah bergaul dan rendah hati sehingga bisa masuk ke berbagai area dengan aman. Ya, semua tahu pendidikan karakter sangat diperlukan sampai hari ini. Terutama untuk anak-anak yang masih mencari-cari jati diri agar lebih terarah dan tidak menyesal di kemudian hari.

Untuk mencapai kesuksesan di masa depan tak hanya berbekal segudang prestasi akademik, tapi tekad dan kemauan yang sungguh-sungguh serta usaha yang tidak kenal lelah sebagai kunci utama. Banyak cara menuju sukses. Meski tidak memiliki prestasi yang mumpuni, tak akan menghalangi cita-cita untuk meraihnya. Pemuda Ari sebagai contoh nyata.

Baca Juga  Bonding Orang Tua - Anak sebagai Penguat Psikologis Anak

Diawali dengan jumlah kecil dalam berjualan hingga lambat laun semakin bertambah permintaan. Ari mampu melirik peluang dan tak melewatkan kesempatan ini. Dia terbukti sukses dengan Kebab dan Ayam Gepreknya. Ketika di sekolah, tak pernah sekalipun dia menyabet kejuaraan tertentu. Peringkat nilai raport juga terendah di kelasnya. Tapi dia pantang menyerah dan berusaha sekuat tenaga, untuk meyakinkan pada orang-orang sekitar bahwa dia mampu berkarya.

Sementara di belahan lain, puluhan bahkan ratusan teman-temannya yang sudah menyandang gelar sarjana, masih santai di rumah menikmati segala fasilitas orang tua. Yang sudah lulus beberapa tahun juga masih ke sana ke mari mencari pekerjaan yang sesuai dan cocok di hati, padahal di era pandemi ini mencari pekerjaan tidaklah mudah.

Di saat teman-temannya masih menadahkan tangan pada orang tua, dia sudah mampu menghitung lembar demi lembar hasil keringatnya sendiri. Dan yang membuatnya bahagia adalah dia sudah mampu mencukupi kebutuhanny sehari-hari. Dia sangat bersyukur atas semua yang telah dicapainya. Ari yang kata teman-temannya paling bodoh di kelas, kini sukses meskipun tak pernah memiliki piala atas prestasinya. Dia berprestasi dengan caranya.

Bagikan
Comments
  • Bu guru wiendy

    Sangat setuju….

    Agustus 7, 2021
Post a Comment