Mengakrabkan Anak dengan Bacaan
Sore itu, ketika Bu Para (salah satu tentor yang mengajar kimia di bimbel kami) datang ke bimbel untuk mengajar; Feren sudah menyambutnya dengan berondongan pertanyaan yang cukup membuat saya dan Bu Para tercengang. Pasalnya, Feren, anak bungsu saya yang awal tahun ajaran baru ini duduk di kelas 2; menanyakan seluk beluk tentang sodium hidroksida. Usut punya usut, ternyata dia mendapatkan kosakata istilah kimia tersebut dari komik yang Conan yang dibacanya.
Ya, anak bungsu saya ini memang penggemar Conan. Bermula dari menonton seri kartun tersebut yang tayang setiap pagi sebuah saluran televisi; kemudian berlanjut dengan rasa penasaran dan akhirnya membuat saya berinisiatif membelikannya komik seri Conan.
Berawal dari komik Conan tersebut, akhirnya anak saya akrab dengan komik. Sekarang tak hanya Conan yang dibaca; tetapi juga beberapa komik seri dari beberapa cerita kartun lain dan film yang tayang di televisi. Selain itu, pelan-pelan seiring dengan kemampuan membaca dan memahami bacaan, tak hanya komik yang dibaca, tetapi juga buku cerita dan novel anak.
Saya jadi teringat pada pembiasaan membaca anak sulung saya yang juga berawal dari serial televisi, yaitu Naruto. Pada saat itu, serial Naruto sedang sangat viral, sehingga hampir setiap anak membicarakannya. Tetapi karena saya tidak terlalu suka dengan visual dan beberapa adegan kekerasan di film tersebut; saya tidak memperbolehkan Nick, si sulung, untuk menonton serial tersebut.
Sebagai penggantinya, saya membelikannya komik Naruto. Pada akhirnya dengan membaca komik tersebut secara urut di setiap volumenya, menjadikan Nick lebih paham alur cerita Naruto daripada teman-temannya. Dengan membaca komiknya, dia juga jadi lebih tahu lanjutan ceritanya secara lebih lengkap. Dan berawal dari hal tersebut, akhirnya dia merasa bahwa dengan membaca, pengetahuan dan pemahamannya akan suatu hal bisa lebih luas dan kompleks.
Dan, pada saat anak-anak seusianya suka menonton kartun, dia lebih suka menonton stand up comedy dan bisa ngakak kenceng karenanya. Ketika anak-anak lain menikmati sebuah film hanya melalui cerita yang disuguhkan; Nick bisa menikmati film tersebut dengan lebih detail tak hanya dari cerita, tetapi juga mengenai pemeran film tersebut, seting latarnya sampai detail proses pembuatannya. Membaca, telah membuatnya terbiasa berada dalam mode berpikir berbasis data dan fakta yang akhirnya membuat critical thinking dan kemapuan literasinyanya juga berkembang.
Berawal dari pembiasaan pada hal-hal ringan tersebut, akhirnya mudah bagi saya untuk menggiring anak-anak menyukai aktifitas membaca. Jadi ketika bertemu dengan materi pelajaran atau tugas sekolah yang notabene mewajibkan mereka membaca dan memahami bacaan terlebih dahulu, saya tidak menemukan kesulitan yang berarti.
Banyak sekali hal yang melekat dalam diri kita terbentuk dari hasil pembiasaan. Proses yang kita lakukan secara berulang-ulang, tanpa sadar membentuk kebiasaan. Bahkan tak jarang pula akhirnya membentuk karakter, pola berpikir dan sudut pandang kita terhadap sesuatu.
Begitu juga dengan pembiasaan saya kepada anak-anak untuk membaca. Perlu proses yang tidak sebentar untuk membuat mereka menjadi terbiasa dengan buku-buku dan bacaan lainnya. Mulai dari sekedar menceritakan, membacakan, sampai akhirnya mereka tergerak untuk membaca sendiri. Perlu menggiring mereka mengenal dunia bacaan mulai dari hal yang paling sederhana dan paling menggembirakan.
Beberapa kali saya mendapatkan pertanyaan yang lebih bermakna sebagai protes dari para orang tua yang mengetahui bahwa saya menyediakan banyak sekali komik di bimbel. Anak-anak mereka menjadi terbiasa ikut membaca komik saat sedang menunggu jam pembelajaran les atau menunggu jemputan. Dalam benak mereka membaca komik masih menjadi hal yang tidak memiliki efek baik; bahkan cenderung membuat anaknya malas karena terlalu asyik membaca.
Saya sangat memahami pemikiran lama semacam ini, terutama dari para orang tua yang belum memiliki pemahaman penuh tentang makna sebenarnya dari literasi. Literasi bukan hanya hanya sebatas membaca dan menulis; tetapi juga kemampuan menalar persoalan dan mendapatkan pengetahuan dari ‘bacaan’ yang telah dibaca. Dan menikmati lierasi bukan melulu tentang bacaan yang berisi muatan ilmu yang terlihat jelas, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dari bacaan yang sederhana sekalipun.
Keluhan banyak orang tua terkait dengan sulitnya meminta anak-anaknya untuk membaca sebenarnya sangat mudah mencari penyebabnya. Anak-anak diminta untuk membaca buku-buku pelajaran, diktat bahkan modul yang tidak hanya berisi rentetan tulisan yang membosankan tetapi juga dengan jumlah halaman yang cukup membuat kening berkerut. Mereka belum terbiasa dengan bacaan, dan sekalinya bertemu bahan bacaan harus langsung berinteraksi dengan ‘materi’ yang sama sekali tidak asyik.
Saya pernah membaca curhatan seorang mentor sebuah kelas menulis di sebuah media sosial. Dalam curhatan tersebuat diungkapkan bahwa kesulitan sebagian orang untuk memulai menulis adalah karena sebagian orang tidak akrab dengan bacaan. Terkadang ada yang berusaha akrab dengan bacaan tetapi salah memilih dan justru membuatnya trauma. Bahkan dikatakan juga bahwa seorang peserta pelatihan yang adalah seorang mahasiswa bilang kapok membaca, lalu waktu ditanya bacaannya apa, dia menunjukkan buku Dasar-Dasar Ilmu Politik. Haha
Apa yang salah dengan bacaan buku pelajaran dan buku Dasa-Dasar Ilmu Politik? Tak ada yang salah. Hanya saja akan sulit menentukan alasan untuk bisa tertarik pada bacaan dan mendapatkan sisi menariknya jika di awal perkenalan sudah harus berhadapan dengan materi bacaan yang berat dan membosankan.
Mungkin keluhan tentang sulitnya membiasakan membaca pada anak-anak lebih baik kita kembalikan kepada diri sendiri. Bagaimana kita bisa menikmati bacaan? Atau jenis bacaan apa yang bisa membuat kita berlama-lama menekurinya ? Karena saya yakin kita para orang tua lebih suka membaca novel atau berita tentang selebritis yang sedang ‘in’ daripada membaca buku-buku agama atau ensiklopedia. Yakan?
Overall, saya baru menyadari bahwa selama pandemi ini, ketika para orang tua lain menjerit karena membengkaknya pengeluaran pembelian kuota, saya tercengang melihat banyak resi pembelian buku di m-banking saya. Ya, sudah banyak jenis bacaan yang dilahap oleh anak-anak, dan semuanya dicerna dengan tuntas. Saya merasa beruntung memiliki anak-anak yang mau dilatih untuk akrab dengan banyak bacaan; sehingga tak sulit untuk mengalihkan rasa bosan mereka saat tak bisa sering keluar rumah seperti biasanya.
Ibu rumah tangga dan pemilik Bimbel Pintar

Donald Siwabessy
Terimakasih bu untuk tulisan bernas dan mencerahkan ini.