f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
shalahuddin

Shalahuddin Sang Pemersatu Umat Islam dan Pendiri Dinasti Ayyubiyah

Shalahuddin lahir di Takriet (532 H/1137 M), wafat (589 H/1193 M), Bangsa Eropa lebih mengenalnya dengan nama “Saladin” yaitu pahlawan Perang Salib, dari keluarga Ayyubiyah suku Kurdi.

Pada masanya Daulah Fathimiyah waktu itu telah lemah dan tidak sanggup menghadapi tentara Salib yang hendak menguasai Dunia Islam. Rajanya yaitu Al-Adhid Li Dinillah sudah tua dan dalam keadaan sakit, meminta bantuan kepada Nuruddin Zanki raja Syam. Nuruddin mengutus keponakannya yaitu Shalahuddin untuk membawa angkatan bersenjata membantu Mesir.

Dalam sejarah perjuangannya Shalahuddin berhasil kemudian menjadi Sultan di Mesir sebagai pendiri dinasti Ayyubiyah. Perjuangan Shalahuddin sampai menjadi sultan dapat di lihat dalam tiga periode;

Periode pertama

Periode berjuang di Mesir. Beliau pertama kali muncul sebagai prajurit biasa di Mesir pada tahun 559 H/1164 M di usia 27 tahun. Ketika itu Nuruddin Zanki, mengirimkan angkatan bersenjata yang terdiri dari suku Kurdi dan Turkuman di bawah pimpinan Shirkuh bersama banyak staf komando, Shalahuddin salah satunya.

Tentaranya mendapat perintah untuk menyerang Tyre untuk bisa mengalihkan serangan tentara Salib dari Mesir. Permintaan itu menyebabkan Nurudin harus campur tangan dalam urusan Mesir dan dari situ Nurudin tahu bahwa Mesir sudah dalam keadaan lemah menghadapi tentara Salib dan memberi kesempatan kepada Shalahuddin sebagai wakil Nurudin untuk menguasai Mesir.

Shirkuh sesudah memimpin angkatan bersenjata selama dua bulan, meninggal dunia dan tergantikan oleh Shalahuddin. Karena kepintaran nya khalifah Al-Adhid mempercayakan jabatan menteri kepadanya. Kemudian Shalahuddin mendapat tugas menghadapi tentara Salib yang berasal dari Barat, yang mencoba menduduki kota Dimyat untuk merebut Mesir. Shalahuddin menunjukkan keberaniannya menghalau musuh.

Datanglah momentum Shalahuddin tampil berada di tempat yang paling atas sebagai penguasa Mesir. Ketika khalifah Al-Adhid meninggal Shalahuddin menjadi penguasa Mesir, beliau tidak menjadi raja pelanjut Daulah Fathimiyah. Namun memproklamirkan Mesir menyatu dengan pemerintahan Abbasiyah di Baghdad.

Baca Juga  Buk Nar dan Pak Koba

Dari sinilah nama Shalahuddin menanjak dan di kenal sebagai pemersatu Dunia Islam yang tadinya terpecah menjadi golongan besar yaitu Abbasiyah yang beraliran Sunni dan Fathimiyah yang beraliran Syi’ah.

Periode kedua

Periode menghadapi Syria (1174- 1186 M). Karena kedudukannya yang teguh di Mesir, banyak orang yang cemburu atas kenaikan dan kebesarannya. Nuruddin mendapat pesan bahwa Shalahuddin hendak merampas Mesir dan kekuasaannya.

Maka bersiaplah angkatan bersenjata yang hendak menyerang Mesir menghajar Shalahuddin. Ia telah bersiap pula, padahal pada saat itu musuh-musuh Islam sedang menyusun kekuatan untuk melanjutkan peperangan merampas negeri Islam.

Namun sebelum hal itu terjadi tiba-tiba mangkatlah Nuruddin Zanki raja Syam di Damaskus pada tahun H 699 Karena putra raja Syam masih kecil, maka Shalahuddin memproklamirkan diri sebagai raja Mesir dan “pelindung” raja Syam.

Shalahuddin menjadi penguasa Arab terpenting yang mempersatukan Mesir, Syria, Mesopotamia, dan Yaman untuk melawan tentara Salib. Orang Kurdi dan Turkuman bergabung dengan pasukan Shalahuddin yang pada waktu itu sangat berpengaruh di wilayah Asia Barat.

Akhirnya secara terang-terangan Shalahuddin menyatakan kekuasaannya yang penuh atas Mesir dan Syam sesudah berhasil memadamkan segala kekacauan yang terjadi di Syria. Dan Raja al-Malik al-Sholeh pengganti Nuruddin dapat terkalahkan olehnya.

Untuk mempertahankan diri melawan pengikut Fathimiyah di Mesir dan melawan bahaya orang Salib di Syria dan Palestina, Shalahuddin mendirikan benteng Kairo di atas bukit Muqattam yang paling Barat. Tempat ini sekaligus di jadikan sebagai pusat pemerintahan dan kubu militer yang sanggup menangkis serangan luar.

Ini merupakan rencana Shalahuddin dengan tujuan untuk menghubungkan benteng ini dengan perbentengan Kairo kuno zaman Fathimiyah dan memperluas benteng sehingga memagari letak kota Fustat sepanjang sungai Nil.

Baca Juga  Ini yang Dilakukan Umat Nabi Isa ketika Sakit Hati karena Cinta
Periode ketiga

Periode berjuang di Palestina (1186- 1193 M). Masa ini adalah perang suci melawan tentara Salib. Karena kebijaksanaan yang dimiliki oleh Shalahuddin beliau membentuk persatuan di negara Arab untuk mengusir tentara Salib.

Dalam perang melawan tentara Salib Shalahuddin selalu berhasil mengalahkannya, sampai pada puncaknya menghancurkan mereka di Hittin dekat Teberias pada tahun 583 H/1187 M. Kemudian berlanjut dengan penundukan atas Palestina, Acre (Okka), Nablus, Caesaria, Jaffa, Ascolon, Beirut.

Pada periode yang sama juga Yerusalem menyerah, dan negeri Tripolis, Antiokh, seluruh pesisir Utara Tyre terkuasai. Perang suci ini berakhir dengan perjanjian di Ramleh pada tahun 1192 dengan syarat;

Yerusalem tetap berada di tangan umat Islam, dan umat Kristen mendapat izin untuk menjalankan ibadah yang sama di tanah suci mereka, Tentara Salib mempertahankan pantai Syria dan Tyre sampai Jaffa, Ummat Islam mengembalikan harta rampasan Kristen kepada Umat Kristen.

Pada tahun 1174 Shalahuddin berhasil menguasai Mesir dan mendirikan dinasti Ayyubiyah. Pada tahun 1181 M Malik al-Shaleh meninggal dunia, yang membuat ia menguasai wilayah Mesir, Syam, Mesopotamia, dan Yaman, Dinasti ini berkuasa selama 90 tahun.

Walaupun beliau sudah mencapai kemenangan, namun hal itu tidak membuat Shalahuddin lengah karena kemudian gelombang perang Salib dari Barat datang lagi di bawah pimpinan raja-raja besar Eropa di antaranya Richard Hati Singa yang dapat merebut kembali kota Okka.

***

Berulangkali tentara Salib mencoba merebut kota Yerusalem (kota suci tujuan perang Salib) tetapi selalu gagal. Karena itu tentara Salib mencoba mengarahkan penyerbuan nya ke Mesir pusat pemerintahan Shalahuddin. Di sinilah kecerdasannya dengan menyerang mereka dari belakang, dan dapat merebut kembali kota Yaffa.

Baca Juga  Perempuan di Tengah Badai (3): Kesalahan

Kedudukan berbalik, tentara Salib porak-poranda lemah, sedang tentara Islam semakin kuat. Di sebabkan hal tersebut Richard jatuh sakit dan meminta damai. Kesempatan ini Shalahuddin gunakan secara sembunyi-sembunyi datang ke kemah Richard menyamar sebagai seorang dokter Arab, mengobati hingga sembuh.

Sesudah sembuh perang pun kembali berlangsung. Tetapi mendengar aba-aba suara Shalahuddin, Richard tertegun. pada saat itu Richard mengenali Shalahuddin sebagai si dokter Arab yang menyembuhkan penyakitnya. Dengan peristiwa ini Richard mengakui kebaikan dan keberanian luar biasa dari musuhnya.

Setelah itu keduanya mengadakan perdamaian tahun 588 H/ 1192 M. Setahun setelahnya Shalahuddin wafat dalam usia 75 tahun. Untuk mengabadikan perdamaian itu, yang sangat kagum terhadap Shalahuddin, Richard mengawinkan saudara perempuannya dengan al-Malik al-Adil saudara Shalahuddin yang menggantikannya.

Perkawinan berlangsung di Palestina sebagai hari terakhir permusuhan antara Kristen dan Islam. Sayang rencana Richard ini tidak mendapat dukungan dari Paus waktu itu karena Richard justru mendapat kutukan dan pengucilan dan perang Salib tetap dilanjutkan.

Dalam catatan sejarah walaupun Shalahuddin dikenal sebagai seorang pemimpin Islam di medan perang dalam menghadapi tentara Salib, jasanya di bidang ilmu pengetahuan juga tidaklah sedikit. Pada masa pemerintahannya selalu mendorong para ilmuwan untuk berlomba memajukan ilmu pengetahuan, bahkan membuat bendungan, menggali terusan, mendirikan sekolah dan masjid. Oleh: Edi Sanjaya, Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.

Bagikan
Post a Comment