Belajar dari Syaban, Berbuat Baik dengan Hal Terbaik
Seringkali kita melihat kehidupan yang lebih papa ada di depan mata. Idealnya mereka yang membutuhkan adalah tanggungjawab bagi mereka yang memiliki ilmu dan juga kelebihan harta. Tapi banyak dari mereka yang justru tidak peduli dengan hal itu. Kalaupun mereka membantu justru dengan seadanya dan tidak memberikan hal terbaik kepada mereka yang membutuhkan.
Problem seperti ini terjadi di kalangan kaum muslimin. Banyak dari mereka yang merasa harta adalah barang yang ada adalah miliknya dan mengesampingkan Allah yang telah memberi semua itu. Padahal ketika Allah memberi harta kepada kita, semua itu adalah ujian dan ada bagian orang lain.
Perintah berbuat kebaikan kepada orang lain berlaku bagi kaum muslimin agar terketuk hatinya untuk membantu sesama muslim yang membutuhkan. Perbuatan itu selain bernilai kebaikan juga menghasilkan pahala bagi pelakunya. Berbuat kebaikan takkan pernah rugi dan tentu saja dengan kebaikan itu maka akan memunculkan kebaikan-kebaikan lainnya.
Syahdan, seorang sahabat Rasulullah yang tinggalnya jauh dari tempat tinggalnya tak pernah meninggalkan salat Subuh berjamaah; dan selalu mengambil posisi pojok kanan masjid saat berzikir. Tiga jam perjalanan harus di tempuh menuju masjid itu. Tapi Subuh itu, Rasulullah tak melihatnya sehingga menunggu sampai beberapa saat. Karena tak kunjung muncul, maka salat Subuh berjamaah pun berlangsung tanpa Syaban.
“Di antara kalian ada yang tahu rumah Syaban ?” tanya Rasulullah yang terlihat ingin menemuinya.
“Aku tahu Ya Rasulullah. Aku siap mengantarmu untuk menuju rumah Syaban,” jawab salah seorang sahabat yang hadir.
“Antarkan aku ke sana !”
*
Semua yang ada ikut menyertai Rasulullah. Rombongan itu ternyata membutuhkan waktu selama tiga jam untuk sampai ke rumah Syaban. Di sana hanya ada istrinya dan Rasulullah kaget ketika mendapat kabar jika Syaban telah meninggal tadi pagi padahal hanya Subuh itu Syaban tidak ikut berjamaah.
Sang istri bercerita di hadapan Rasulullah dan itu sangat membuatnya heran. Karena, saat sakaratul maut Syaban berteriak tiga kali yang diikuti oleh kalimat lainnya. Sang isteri tak memahami apa yang telah almarhum suaminya alami itu.
“Apa yang terucap saat itu ?” tanya Rasulullah.
“Aduuuh, kenapa tidak lebih jauh.”
“Aduuuh, kenapa tidak yang baru.”
“Aduuuh, kenapa tidak semua saja.”
Rasulullah kemudian menjelaskan. Jika saat sakaratul maut, Syaban diperlihatkan yang menakjubkan yang tak pernah dilihatnya. Syaban setelah melihat itu dan sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan saat masih hidup.
Pertama, Syaban yang terbiasa berjalan kaki hampir 3 jam menuju masjid untuk salat Subuh berjamaah. Ternyata, setelah tahu surga yang dijanjikannya, dirinya menyesal. Mengapa tidak lebih jauh lagi masjid itu hingga ia akan mendapat pahala yang sangat luar bisa dan bisa menuntunnya ke surga.
Kedua, Syaban ketika keluar waktu itu memakai pakaian dua rangkap. Namun saat perjalanan dalam suasana dingin ia melihat seseorang yang kedinginan. Syaban kemudian memberikan pakaian yang ia kenakan di luar kepada orang itu. Sementara pakaian yang ia kenakan di dalam lebih bagus sebenarnya dan lebih tebal serta masih baru. Maka Syaban menyesal karena tak memberikan pakaian baru itu setelah tahu pahalanya besar.
Ketiga, Syaban saat hendak memakan roti dan segala susu. Kemudian datanglah seorang pengemis memintanya. Syaban lalu membagi dua roti itu dan juga membagi dua susu dalam gelas itu. Pengemis itu senang tapi Syaban justru menyesal karena tidak memberikan semuanya setelah tahu surga indah dijanjikan bila ia melakukan hal itu.
*
Intinya, memberi sesuatu kepada orang lain jangan banyak berhitung, karena kalaupun tidak dapat balasan dari orang yang bersangkutan maka Allahlah yang akan membalasnya. Semakin banyak sesuatu yang kita berikan kepada orang secara ikhlas, maka Allah pun akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih banyak lagi. Kita semua tahu jika, kalau kita melakukan kebaikan, maka akan berbuah kebaikan juga.
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah seharusnya memberikan kepada orang lain itu dengan barang yang baru. Tapi kebanyakan selama ini kalau memberi itu adalah sesuatu yang sudah lama kita pakai. Maka, supaya kita tidak menyesal di kemudian hari, hendaknya kalau memberi kepada orang lain haruslah barang baru dan barang yang sangat kita senangi.
Tentu saja sebagai muslim yang beriman, memberi sesuatu kepada orang lain jelas menjadi bagian ibadah kepada Allah. Untuk hal itu, kita pun dituntut tidak sekedar melakukannya; namun agar apa yang kita lakukan haruslah lebih bernilai. Maka tentu saja selain harus dengan dasar keikhlasan juga dengan mengharap pahala dari Allah. Dah perbuatan baik yang kita lakukan pun optimal, tidak asal-asalan karena hal itu terkait kepentingan orang lain.
Karenanya, memberikan sesuatu kepada orang lain sangat dianjurkan apalagi kepada orang yang membutuhkan. Tidak sekedar memberi tapi alangkah lebih bermanfaat dan mengundang keberkahan yaitu memberikan sesuatu itu harus yang terbaik. Selain akan memberikan kebahagiaan bagi yang menerimanya juga bagi yang melakukannya akan mengundang kebaikan-kebaikan datang kepadanya. Anda berminat ?
Lakukanlah segera !***
Penulis adalah bapak dari tiga orang anak yang terbiasa menulis segala hal dan dengan segala nikmat yang ada merasa betah tinggal di Kota Bandung
