f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bau

Bau Ketiak Berujung Syukur

Semenjak kosakata “anosmia”—satu ciri dari orang yang terpapar covid—viral di mana-mana, bisa mencium bau (entah harum atau busuk) seperti anugerah tersendiri bagi umat manusia masa kini.

Saya banyak sekali menemukan di laman facebook atau instagram saya, teman-teman yang menulis di wall fecebooknya tentang kondisi bahagianya karena masih normal mencium “bau ketek” atau “bau angin” yang keluar dari pantat-pantat mereka.

Sepertinya perkara “bau semerbak bin apek” itu, untuk konteks sekarang ini, tidak lagi menjadi aspek yang menjijikkan atau sesuatu yang jorok bin kotor; ia sudah beralih menjadi “tolak ukur kesehatan” seseorang.

Dahsyatnya lagi, Ketika anda bisa mencium bau-bau yang bahkan maha “apek” sekalipun, alih-alih anda akan muntah; justru dengan kenyataan itu, psikologi anda akan sedikit terselamatkan—sebab penciuman anda masih normal.

Saya pribadi dalam konteks “bau-bau semerbak” ini, cukup merasakan perubahan yang sangat besar. Dalam urusan ketiak, misalnya, saya sangat menikmati ketika keringat mengalir di badan saya. Dan seturut dengan itu, manakala aroma bau ketiak mulai terasa di hidung, sepontan saja membuat saya auto-reflex berucap, “fabiayyi aa la i robbikuma tukadzziban?“, “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Subhanallah! anda perhatikan, betapa bau ketiak dalam konteks saat ini bisa mengantarkan saya—atau bahkan “anda”—pada kesadaran-kesadaran spiritual semacam ini?

*

Realita yang terjadi pada “bau ketiak” bagi saya, benar-benar menjadi sebentuk bukti, betapa soal-soal di dunia ini tidaklah kekal, transient (sementara) dan sifatnya sangat relatif.

Jika sebelumnya permasalahan bau ketiak (mungkin) menjadi persoalan serius, sebab bikin malu dan membuat tidak pede, dan lain-lain. Untuk saat ini—bahkan untuk konteks saya—ia menjadi satu wasilah kesyukuran pada-Nya

Baca Juga  Kisah Perempuan Arab Saudi di tengah Himpitan Budaya

Kenyataan-kenyataan yang kita temukan di dunia ini terkadang sangat lucu, dan tidak terkira. Hal inipun secara tidak langsung menyadarkan kita betapa misterinya “masa depan” yang akan kita jajaki dalam hidup ini—kita tidak pernah benar-benar tahu sunnatullah semacam apa lagi yang akan kita temukan dalam perputaran waktu selanjutnya.  

Kita sebelumnya mungkin tidak pernah berpikir betapa “perspektif” pada segala hal bisa di bolak-balik dan diotak atik sedemikian rupa—bau ketiak yang sebelumnya bikin “eneg”, tiba-tiba bisa menciumnya, menjadi satu anugerah tidak terhingga.

Saya teringat, di awal-awal masa pubertas yang menimpa saya dulu, parkara bau ketiak apalagi ditambah dengan bentuknya yang “berair”, benar-benar menjadi cobaan maha dahsyat yang mengguncang batin bocah lugu yang masih dalam tahap belajar mengagumi “sosok pujaan hatinya”.

Tersadar dengan kondisi ini, maka sejak MTS (setara “SMP”) saya putuskan untuk mengamankan ketiak saya dengan senjata “deodorant”—saya benar-benar menaruh harap yang besar kepada benda ini; dan saya juga berharap dia bisa menjaga martabat ketiak saya agar tidak menyengat hidung-hidung umat dengan semerbak baunya.

Dan saya bersyukur, ternyata “deodorant” ini cukup efektif dan manjur menghalau semerbak bau ketiak saya itu.

Akan tetapi, meskipun saya sudah bisa mengamankan kondisi ketiak saya. Sialnya, kenyataan pahit lainnya harus saya hadapi.

*

Pasalnya, sebagian teman-teman saya yang berbadan subur (tapi ini tidak semua lho, ya!), meski sudah pakai deodorant, tetap saja menggucang pondasi pertahanan hidung saya. Dan kenyataan ini tentu membuat saya tidak kerasan untuk duduk berlama-lama dengan mereka. Ataupun jikapun bisa, saya bisa meyakinkan jika itu dilalui dengan perasaan yang penuh dengan “motivasi keterpaksaan”.

Baca Juga  Mengenang Bapakku

Dan, zaman pun berubah. Realitas yang menyertainya pun auto-berubah. Saat ini “bau ketiak” itu bukanlah sebuah aib. Bahkan dalam pandangan saya, ia bisa menjadi sakralitas baru. Karena sekali lagi, selain keberadaannya sedikit mengamankan psikologis anda. Ia bisa menyambungkan sisi spiritualitas anda untuk ingat Dzat yang maha Esa. Dahsyat, bukan?

Dan tanpa disadari, atas realita ini juga, ternyata standar-standar kesyukuran itupun kian hari menjadi minimalis.

Jika Sebelumnya, ucapan “Alhamdulillah!”, mungkin saja bisa terucap ketika anda mendapatkan hal-hal yang “surprise” dalam hidup anda. Seperti dapat beli mobil baru, pangkat dan jabatan baru, istri baru…(ehhh), atau membeli ini dan itu, atau hal-hal lainnya.

Tapi sekarang, anda mampu mencium dan merasakan aroma ketiak anda ataupun bau-bau yang lainnya; sepontan saja membuat anda berucap syukur dan memurojaah satu ayat dalam surat ar-rahman itu: fabiayyi aa la i rabbikuma tukadziban. Sederhana sekali!

Perkara anosmia dan bau ketiak tanpa disadari ternyata mampu menyadarkan kita; betapa (mungkin) selama ini kita tidak sempat mensyukuri hal-hal kecil dalam kehidupan kita, karena kita terlampau berambisi dengan hal-hal yang besar.

Bagikan
Post a Comment