f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pendidikan

Murid Istimewa dan Guru Mulia

Al Kisah narasi cerita ini dimulai dari sebuah negeri nun jauh disana. Di mana di negeri ini, tinggallah sebuah perguruan yang mengajari murid-muridnya tentang ragam gerak seni. Namanya sekolah Kehidupan. Perguruan ini mengajarkan keterpaduan antara ilmu dalam ragam gerak seni dan olah gerak badan. Ragam itu bernama teater dengan kolaborasi senam yang selalu dipentaskan sebagai kreasi tertinggi dalam acara perayaan.

Di sekolah, ada seorang guru yang begitu di segani murid-muridnya. Ihwal karena kesempurnaan yang selalu diharapkan oleh sang guru menjadikan banyak murid yang tak jarang patah semangat untuk melanjutkan proses belajar mereka di perguruan tersebut. Guru di sapa dengan panggilan Tuan Guru. Karena perguruan inipun sebagai satu-satunya perguruan yang dipimpin oleh Tuan Guru, maka murid-muridnya harus bekerja dan belajar dengan sangat keras dengan mengikuti apa yang diperintahkan Tuan Guru.

Sisi lain, sikap Tuan Guru yang secara tidak sadar inilah memicu ketidakharmonisan, karena Tuan Guru sendiri cenderung memilih murid-muridnya yang istimewa dimata Tuan Guru. Sedangkan murid yang di bawah kriteria istimewa merasakan mendapat perlakuan yang berbeda. Hal ini menjadi kontra batin yang dirasakan salah satu murid istimewanya Tuan Guru  panggil saja Mutiara Senja. Mutiara Senja sejatinya adalah murid kesayangan Tuan Guru karena rasa hormat dan kemampuan yang dimiliki nya tak sungkan kalau Mutiara Senja sudah diberikan kepercayaan Tuan Guru menjadi pengganti pelatih buat teman-temannya di saat Tuan Guru tidak bisa.

Sampai akhirnya karena ketidaktahanan Mutiara Senja terhadap kondisi ini. Ia beranikan diri untuk menyampaikan  tentang kebenaran yang diyakini. Atas apa yang disampaikan Mutiara Senja ternyata mendapat tanggapan yang tidak terduga dari Tuan Guru. Menjadikan Mutiara Senja untuk memilih meninggalkan perguruan, walaupun Tuan Guru mengetahui bahwa Mutiara Senjalah yang kelak akan menjadi penggantinya di perguruan tersebut.

Baca Juga  Ketika Pandemi, Benarkah Guru Memakan Gaji Buta?
***

Sebuah pilihan sudah diputuskan Mutiara Senja. Dengan sangat kecewa, Tuan Guru pun mengungkapkan kemarahannya dengan mempersilahkan Mutiara Senja pergi dari perguruan dengan syarat tidak membawa apapun dari perguruan, bahkan untuk bekal di perjalanan. Mutiara Senja akhirnya pergi meninggalkan perguruan.

Selama perjalanan Mutiara Senja selalu berdoa agar Tuan Gurunya menyadari sikapnya yang menjadikannya terpuruk dalam memimpin perguruan itu, dan keinginannya agar Tuan Guru kembali dicintai murid muridnya dengan hal sederhana dibandingkan mementingkan kesempurnaan.

Singkat cerita sampailah Mutiara Senja pada sebuah tempat yang sangat asing baginya. Dilihatnya sosok laki-laki separuh baya yang sedang menikmati pesona taman penuh bunga di sekeliling tempat yang sama di mana Mutiara Senja kini berada. Di dekatinya laki-laki paruh baya tersebut,,,

“ Tuan , sedang apa Tuanku disini” sapa Mutiara Senja kepada laki-laki tersebut

Dengan ekspresi kekaguman akan pesona taman bunga di sekelilingnya , Laki-laki itupun mengenalkan dirinya sebagai seorang pengelana yang sedang menikmati pesona anugerah Tuhan yang mencipta keragaman.

“Ya benar Tuanku semua itu indah, namun kan lebih indah lagi kalau kita bisa mengasihi semua tanpa kita membedakan dengan penuh kasih sayang yang tulus”, kata Mutiara Senja  dengan penuh keyakinan.

Laki-laki paruh baya ini ternyata tahu betul apa yang sedang dirasakan oleh Mutiara Senja, walau belum pernah bertanya siapa sebenarnya Mutiara Senja. Namun ungkapan dan ekspresi yang terbaca dari sosok Mutiara Senja menjadi perhatian bagi laki-laki yang baru saja ditemuinya ini.

“Kembalilah Nak, bawa setangkai ragam bunga dari taman ini, pergilah Nak  ke balik bukit itu. Kau akan temui apa yang Kau cari. Mungkin setangkai ragam bunga itu akan menjadi obat dan membuatmu bahagia selamanya”. Permintaan laki-laki inipun membuat aneh Mutiara Senja, namun ia hanya bisa menuruti perkataannya tanpa membantah sepatah katapun.

Baca Juga  Bakso Tumpeng Lereng Merapi
***

Akhirnya Mutiara Senja berangkat ke balik bukit yang ditunjuk oleh laki-laki tadi dan ternyata setelah melewati perjalanan jauh, Mutiara Senja menemukan sebuah perguruan yang sudah tak terawat dan ternyata perguruan itu tak lain dan tak bukan adalah perguruan tempatnya belajar yang sudah lama Ia ditinggalkan.

Tersadar, akhirnya Mutiara Senja mencari keberadaan Tuan Guru  dan teman-temannya, di sana ia mendapatkan Tuan Gurunya lemah tak berdaya. Seorang temannya  menceritakan bahwa Tuan Guru  sudah berbulan-bulan sakit dan tidak bisa lagi mengajari murid-muridnya dan tak ada pengganti yang  mengajari hingga banyak murid murid dari Tuan Guru yang pergi meninggalkan perguraun tersebut.

Selama kepergian murid istimewanya ini, Tuan Guru begitu kehilangan dan menyadari akan kekhilafannya. Tuan Guru selalu mencontohkan murid istimewanya ini menjadi teladan untuk murid-murid lainnya di perguruan dan meyakini Mutiara Senja kan hadir kembali.

Usai mendengar apa yang disampaikan teman seperguruannya, Mutiara Senja pun teringat pesan laki-laki yang ditemuinya di taman bunga. Di rendamnya ragam bunga yang diberikan padanya pada tempat yang berisi air dan diusapkannya pada bagian wajah dan tubuh Tuan Guru. Setelah beberapa waktu atas ijin-Nya, Tuan Gurupun perlahan-lahan membuka mata dan bibirnya tersenyum melihat sosok yang berada didekatnya hadir kembali.

Akhirnya Mutiara Senja menemukan kebahagiaan yang hakiki bisa merawat Tuan Guru dan mendampinginya kembali menghidupkan perguruan . Dan Ia pun dinobatkan menjadi sosok Tuan Guru untuk memimpin perguruan dengan ragam murid yang handal.

Hikmah atau pesan dari kisah ini adalah cintailah ragam anak/murid yang dianugerahkan pada kita dengan ikhlas dan tulus dengan segenap kemampuan yang dimiliki sebab dari mereka-lah  kita belajar tentang kehidupan. Semoga

Bagikan
Post tags:
Post a Comment