f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
badai

Perempuan di Tengah Badai (2): Kisah Diri Penulis

Oleh: Ummi Lathifah*

Impian dan Harapan

Ini adalah ceritaku, kisah yang terajut bersama sebagaimana garis-Nya, untukku dan untuk dia, lelaki yang telah mengambil alih tanggung jawab atas diriku dari tangan orang tuaku, dia yang selalu membersamaiku, menjadi nahkoda dalam bahtera ini.

Usia pernikahanku kini sudah jalan di tahun ke empat. Layaknya pasangan suami istri yang lain, di awal pernikahan tentu kami juga mempunyai harapan akan hadirnya malaikat kecil di tengah- tengah kami, dan bahkan sampai saat ini pun keinginan itu masih terus menggebu.

Aku mempunyai keinginan dan harapan ketika aku hamil kelak, posisiku sedang menempuh studi lanjut. Karena aku ingin menanamkan budaya cinta ilmu semenjak dini kepada anak. Selain itu aku juga ingin mulai mengenalkan dunia pendidikan kepada anak walaupun anak masih di dalam kandungan.

Namun, Tuhan memiliki rencana lain untukku dan suami. Harapan yang kususun menjadi sebuah rencana ternyata tidak berjalan dengan mulus. Karena dalam mengarungi bahtera rumah tangga tidak mungkin akan selalu berjalan mulus, tentu akan menemui jalan terjal dan berliku.

Skenario indah yang disusun manusia tidak akan mampu mengalahkan skenario Maha indah dari Sang sutradara kehidupan. Manusia hanya mampu untuk berencana dan usaha, selebihnya Tuhanlah yang akan menentukan.

Menanti Sang Buah Hati

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan tak kunjung ada. Bahkan sampai satu tahun belum juga nampak tanda-tanda si kecil hadir di rahimku. Pada mulanya kami belum begitu gelisah dengan keadaan ini, kami mencoba mengambil hikmah atas apa yang terjadi. Mungkin Tuhan belum menghadirkannya, karena suami juga masih dalam proses menyelesaikan studinya.

Mungkin Tuhan menunggu kami benar-benar siap, agar perhatian kami sepenuhnya tercurah kepada amanah yang diberikan-Nya, itulah yang ada di benak kami pada waktu itu. Akhirnya kami mencoba menikmati waktu berdua kami. Sambil tetap melakukan ikhtiar serta do’a.

Kami menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing, karena menunggu dengan keadaan diam hanyalah kesia-siaan. Kami tetap yakin bahwa pada waktunya nanti, Sang pemberi kehidupan akan mengabulkan impian dan harapan kami untuk mengemban amanah dari-Nya, mendidik dan menjaga titipan dari Nya.

Baca Juga  Setahun kepergianMu

Rasa Yang Tak Pernah Dirasa

Aku berasal dari sebuah desa di kota kecil yang berada di ujung barat provinsi Jawa Timur. Masyarakat di tempatku sebagian masih terbilang awam, butuh kesabaran yang tinggi untuk menjelaskan suatu hal sampai mereka bisa memahaminya.

Begitupun untuk menjelaskan kondisiku saat ini. Setelah berbulan-bulan menikah bahkan sampai saat ini di usia hampir empat tahun pernikahan, dengan keadaan belum memiliki buah hati timbul banyak pertanyaan dari mereka. Termasuk tetangga dan saudara yang menikah setelahku yang sudah memiliki buah hati, ada yang sudah mulai bisa jalan, dan ada juga yang sudah memiliki dua buah hati.

Berbagai macam pertanyaan menghujaniku. Ada pertanyaan dengan tujuan untuk mendukungku yang sifatnya positif dan ada pertanyaan atau ujaran yang menurutku memiliki konotasi negatif karena mengandung unsur sindiran, penghakiman dan juga terkesan memojokkanku sebagai perempuan.

Sungguh sangat miris, namun nyatanya sangat tragis. Aku sangat mengapresiasi bagi mereka yang memberikan pertanyaan dengan maksud support dan memberi saran promil. Karena sedikit saran dari mereka memberikan sumbang sih yang besar di dalam perjalananku menjemput anugerah.

Namun sungguh sangat disayangkan bagi mereka yang memberikan sindiran serta penghakiman atau menyalahkanku sebagai seorang perempuan. Mungkin mereka menganggap perkataanya hanyalah candaan semata, tapi tanpa mereka sadari disini ada hati yang terluka bagai tersayat sembilu karena perkataan-perkataan yang tajam bagai pedang.

Ungkapan Yang Terus Menghujam

Pertanyaan seperti “Kok belum hamil, ngapain aja?, Yang lain aja sudah hamil, kamu kok belum, kurang pandai ini bikin anak? Kalau kamu pengen hubungan suami istrimu langgeng, harusnya kamu cepet-cepet punya anak.

Kok belum hamil sebenarnya subur gak sih rahimmu?, kamu gak pengen punya anak lucu kaya gini ya?, Sudah bertahun- tahun belum punya anak, kok gak ada usaha?, dia yang nikah setelahmu saja sudah hamil, kamu kok belum, masa kamu kalah sama dia?”.

Kurang lebih seperti itulah contoh pertanyaan-pertanyaan yang membuat para kaum hawa pejuang dua garis merah merasa sedih. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kita jumpai di masyarakat, bahkan ada yang membandingkan kalau “perempuan yang hamil di luar pernikahan itu lebih baik dari pada perempuan yang tidak atau belum memiliki keturunan.”

Baca Juga  Beauty Privilege: Perempuan dan Standar Cantiknya

Mereka membandingkanku dengan seseorang yang berbuat zina. Apakah tidak sakit? Apalagi pernyataan dan pertanyaan semacam itu muncul dari lisan orang-orang yang mengaku berpendidikan serta mengaku paham dengan agama. Bagaimana kita menghadapi hal-hal semacam ini kalau hanya seorang diri?.

Mereka bisa berbuat seperti itu karena mereka tidak pernah merasakan apa yang kita rasa. Mereka tidak pernah berada diposisi kita saat ini. Sejatinya kita sedang berada diperjalanan menggapai cinta-Nya.

Kenapa kita harus sedih, kalau kita masih punya Allah yang Maha Besar?, Kenapa kita harus putus asa, kalau Allah sudah menjanjikan kemudahan setelah kesulitan?. Percaya dan yakinlah bahwa Allah sudah merencanakan sesuatu yang indah dan terbaik buat kita. Ada hikmah besar yang belum kita sadari dibalik ujian ini. Marilah kita mencari dan mengambil hikmah yang telah Tuhan persiapkan untuk kita.

Dukungan Orang Terkasih

Maka dari itu kita membutuhkan orang yang benar-benar paham dengan kondisi ini, agar kita bisa saling berbagi, saling mendukung, saling belajar dan saling mendo’akan. Kita membutuhkan Tuhan yang akan senantiasa memeluk hamba-Nya yang berlumur dosa ini. Namun, kita membutuhkan support dari orang-orang terdekat terutama keluarga dan juga suami. Kita membutuhkan semua itu untuk tetap bertahan di dalam perjuangan ini.

Mengarungi bahtera rumah tangga tak akan bisa kalau hanya sendiri, memerlukan kerjasama yang solid antara suami dan istri. Ibarat menjalankan kapal, suami berperan sebagai nahkoda sedangkan istri adalah navigatornya. Kapal di laut tidak selalu berjalan mulus untuk mencapai tujuan, pasti akan melalui gelombang dan badai. Sama halnya rumah tangga, pasti ada susah dan senangnya, namun hal itu harus tetap dilalui untuk mencapai pulau impian.

Disaat kami merindu hadirnya sang buah hati kami akan selalu mendukung dan menguatkan. Disaat aku berada dalam  keputus asa-an, ada laki- laki hebat yang akan menghIbur dan memberi support agar aku bisa bangkit kembali. Dia selalu bilang, “kamu adalah perempuan yang hebat, perempuan yang tangguh, maka jangan sekali-kali kamu menyerah dan berputus asa, karna aku akan selalu mendukung dan melindungimu.”

Baca Juga  Hadist Ini Perbandingan Akal Laki-laki dan Perempuan ?

Sosok Yang Luar Biasa

Dia adalah sosok luar biasa yang tak pernah menuntut macam-macam kepadaku, juga tidak pernah menyalahkan kondisiku. Apapun yang terjadi dia selalu memberi dukungan  penuh kepadaku. Disaat aku menangis karena nyinyiran mulut pedas masyarakat, dia selalu menjadi penopangku, menguatkanku dan membuat hatiku kembali teduh.

Dia yang selalu membela dan menenangkanku di depan keluarga atau kerabat yang selalu bertanya tentang kehamilan. Karena sejatinya pertanyaan- pertanyaan yang mereka lontarkan, di luar kuasaku dan akupun tak bisa menjawabnya.

Dia yang selalu menyemangatiku untuk tidak putus asa dalam berikhtiar dan berdo’a memohon kepada Sang Maha Pencipta. Dia yang selalu menghapus air mataku dan menggantikannya dengan senyuman, melapangkan bahunya untuk aku bersandar menghilangkan kegelisahan. Dia yang selalu mengajakku untuk bermunajat memohon kepada Sang Kholiq agar harapan kami segera diijabah. Dia adalah lelaki hebatku yang ingin selalu berjuang bersamaku demi kehadiran malaikat kecil di tengah- tengah kami.

Selain itu support atau dukungan dari orang tua menjadi kekuatanku. Mereka memang tidak pernah menyarankan macam-macam untuk promil, hanya berpesan agar aku dan suami tidak terlalu capek, karena kondisi capek akan berpengaruh terhadap reproduksi, selain itu jangan pernah berhenti untuk berdo’a.

Begitulah pesan yang selalu diberikan orang tua kepada kami. Selebihnya mereka tidak membahas kondisi ini secara mendetail. Entah takut kalau menyakiti perasaanku atau gimana, saya juga kurang tau. Namun, dengan diamnya mereka karena tidak banyak menuntut dan menanyakan hal- hal yang sensitif, bagiku adalah dukungan terbesar, karena dalam diam mereka tersemat do’a yang selalu dipanjatkan serta harapan besar yang tak pernah padam. Dan dukungan dari orang terkasih lah yang memang kami butuhkan.

Bersambung …

*Penulis adalah Mahasiswi Pasca Sarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ibu Rumah Tangga

Bagikan
Post a Comment