f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
doa untuk papa

Doa untuk Papa

Papaku sakit. Sel kanker yang ngendon di tubuhnya selama hampir lima tahun, mengganas tanpa ampun. Aku tidak menyangka bakal menyaksikan sendiri keberingasannya menggerogoti tubuh papa. Luar-dalam.

Tidak lepas dalam ingatanku, ketika enam bulan lalu papa masih gagah menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Menyantroni ruang praktek dokter spesialis ini-itu, menjalani kemoterapi dan radiasi berminggu-minggu, bahkan mengatur strategi bagaimana supaya tidak perlu menunggu giliran terlalu lama. Saat itu, semua orang yang melihatnya tidak akan menyangka kalau beliau adalah pasien kanker stadium tiga.

Papaku yang gagah.

Papaku yang sangat bersemangat untuk sembuh. Saat itu, aku berdoa supaya semangat papa tidak pernah hilang. Supaya papa selalu kuat hidup berdampingan dengan penyakitnya. Tentu saja, doa-doa seperti supaya diberikan kesembuhan dan kembali beraktivitas seperti dulu, kerap kupanjatkan.

Namun semakin lama, aku merasa semakin cemas. Tidak hanya cemas karena kesehatan papa yang “terjun bebas” dalam hitungan bulan saja, namun aku juga merasa cemas dengan doa-doaku.

Ya, aku memang merasa gamang dengan doa-doaku untuk papa. Bahkan melihat kondisi papa yang semakin memburuk, aku khawatir kalau ternyata aku punya andil juga di sana, melalui doa-doaku yang mungkin saja salah. Jujur, beberapa bulan belakangan ini, aku bingung harus berdoa apa!

Permohonan-permohonanku

Sedari kecil, aku diajarkan untuk memanjatkan doa ini untuk orang tua, “Robbighfirli waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”. Artinya, “Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku, kasihanilah mereka sebagaimana mereka telah mengasihiku di waktu kecil”. Ya hanya doa itu saja yang aku pelajari dari mama di rumah, ibu guru agama di sekolah, serta ibu ustazah di pengajian. Tidak ada doa yang lain.

Baca Juga  Tak Mudah bagi Anak Membuka Pintu untuk Orang Baru

Wajar saja kalau akupun akhirnya hanya bergantung pada doa itu ketika kondisi papa semakin mengkhawatirkan. Memang, berdoa itu tidak harus dipanjatkan dalam bahasa Arab. Allah Maha Mengerti. Berdoa saja pakai Bahasa Indonesia. Tidak masalah, begitu yang saya pahami sejak kecil.

Tapi saya justru merasa hal itu menjadi masalah ketika papa sakit. Aku seperti kebingungan harus berdoa apa. Pernah aku mencoba berkonsentrasi tinggi ketika membaca doa “Robbighfirli…”. Harapannya tentu saja, doa yang kubaca dengan khusyu’ lebih didengar Tuhan. Lain waktu, kubaca “Robbighfirli…” tiga kali selepas shalat. Dalam sebuah ceramah agama yang saya dengar, Pak Ustadz bilang kalau Rasulullah SAW suka bilangan ganjil. Jadi kubacalah doa itu tiga kali di setiap shalatku.

Awalnya, kuiringi doa itu dengan permohonan-permohonan seperti ini. Ya Allah, berikanlah papa kesembuhan. Ketika aku meyakinkankan diri bahwa doaku sudah “benar”, kegagahan papa memudar. Saat itu, papa sudah semakin bergantung pada tongkat untuk berjalan. Rasa bingung kembali memenuhi benakku. Apakah doaku salah? Kata Ustaz juga, kalau berdoanya “salah”, nggak akan dikabulkan. Aku selalu mengingat petuah itu. Jadinya aku bisa dibilang cukup berhati-hati dalam berdoa. Takut salah!

Bulan-bulan berikutnya, kondisi papa semakin menurun. Papa mulai susah makan. Makan ini tidak mau, makan itu tidak mau. Kalaupun papa ingin makanan tertentu, hanya dua sendok makanan yang bisa masuk ke perutnya. Tidak heran kalau papa terlihat semakin kurus, dan semakin lemah. Papa sudah tidak kuat lagi berjalan. Peran Sang Tongkat pun tergantikan oleh kursi roda.

Sedih sekali melihat kondisi papa saat itu. Aku pun mencoba untuk lebih khusyu’ berdoa, memohon dalam lisan dan batinku, “Sembuhkan papa, Ya Allah! Pliiis, angkat penyakitnya!” Tapi lama-lama aku mikir lagi. Aku ini sedang berdoa, atau memaksa Tuhan, sih? Terus kalau Tuhan tidak berkehendak papa sembuh, aku mau apa? Aku bisa apa???

Baca Juga  Ini yang Dilakukan Umat Nabi Isa ketika Sakit Hati karena Cinta

Dan ketika aku bingung melihat papa kesakitan, aku putuskan untuk mengubah redaksi doa Bahasa Indonesiaku. Aku meminta pada Tuhan untuk diberikan ‘solusi’ menangani kondisi papa. Solusi apa? Aku sendiri tidak tahu. Mungkin ‘solusi’ yang kuharapkan saat itu ya kepengin papa sembuh. Lama-lama aku berpikir, kok aku egois banget ya!

Banyak teman dan kerabat yang mendoakan supaya diberikan yang terbaik untuk papa. Duh, ini juga aku nggak mau! Iya, saat itu aku nggak mau mendoakan yang terbaik untuk papa, karena jujur saja, aku takut kalau Tuhan memutuskan bahwa yang terbaik bagi papa adalah “bersama”-Nya. Kan aku nggak mau papa meninggal.

Namun saat itu, papa sudah nggak lagi bisa pakai kursi roda. Papa cuma bisa tiduran. Cepat sekali perubahannya. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya pun semakin tirus. Sampai suatu saat, papa bertanya padaku, “Apakah papa akan mati?” Deg. Aku lemas. Jantungku serasa berhenti.

Apakah papa sudah mulai kehilangan semangat hidupnya? Katanya, ‘semangat’ menjadi salah satu “obat” yang mujarab bagi pasien kanker untuk sembuh. Duh. Aku jadi merasa berdosa jika tidak menambahkan sebuah doa lagi di akhir shalatku, “Ya Allah, semoga masih ada semangat papa untuk sembuh”.

Legowo

Bulan berganti, kondisi papa semakin mencemaskan hati. Apalagi setelah papa anfal dua kali. Aku melihat papa pun mengalami kondisi-kondisi seperti yang diceritakan pasien yang akan “berpulang”, seperti merasa dikunjungi teman dan kerabat yang sudah meninggal, atau ingin pulang ke rumah “Si Mbok” yang bersih dan putih.

Kala itu, aku jadi merasa egois bila meminta kesembuhan papa. Aku bertanya-tanya, apakah hanya aku yang mengharap papa sembuh? Jangan-jangan, papa sendiri sebenarnya sudah nggak kepengin sembuh. Kan papa juga yang menghadapi kebengisan “benda asing” di tubuhnya. Bukan aku!

Baca Juga  Kisah Perempuan Arab Saudi di tengah Himpitan Budaya

Bagaimana bila sebenarnya garis hidup papa adalah tidak sembuh? Terus, apa aku punya hak untuk mengubah takdir papa? Kan enggak. Pada akhirnya, aku merasa sudah saatnya legowo untuk mendoakan yang terbaik buat papa.

Entah apakah memang itulah seharusnya doa yang “benar”, tak lama papa meninggal. Innalilahi wainna ilaihi rojiun. Dan di ruang tamu tempat jasadnya bersemayam, aku seperti melihat papa tersenyum.

Ah, papaku yang ganteng.

Awal tahun ini, akupun diberikan ketetapan hati untuk berdoa yang cocok untuk papa. Doa yang bikin aku nyaman karena aku merasa sudah menemukan ucapan yang terbaik untuk papa “disana”. “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa papa, terimalah amal perbuatan papa. Sambutlah papa dengan baik disisi-Mu. Amin ya robbal alamin.”

(Pa, aku kangen).

Bagikan
Comments
  • Butet

    Turut merasakan dukamu, Kak Desi.

    Januari 28, 2022
  • Dessy

    Terima kasih mbak butet ❤

    Januari 28, 2022
Post a Comment