f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sepak bola

Sepak Bola Putri: Daya Pikat yang Tak Memikat

Dunia sepak bola Indonesia ramai dengan kabar kekalahan Timnas Putri dari Australia secara telak. Seluruh media cetak dan online menjadikan trending topic atas kekalahan tersebut hingga WA group ibu-ibu ramai membincangkan. Beragam sikap, baik pro, kontra, bahkan nyinyir muncul atas pertandingan ini..

Gemuruh suara emak-emak menganggap tidak wajar putrinya menggeluti olahraga layaknya pria; ada yang setuju dengan syarat tertentu sampai membolehkannya tanpa syarat sepanjang pilihan anak. Seorang petinggi PSSI mengatakan kebutuhan atlit putri besar tapi sepi peminat. Dan, atas nama gengsi memaksa pengadaan materi pemain dengan seadanya.

Dalam perjalanan menjemput putriku berlatih bola basket, “Dik, kamu mau jadi pemain sebakbola, tidak?” Belum sempat putriku menjawab, segera kutimpali, “Peluangnya besar untuk jadi terkenal, lo!” Sebelum kucocor pertanyaan lagi, anakku segera merespon. “Tidak pak, aku tidak suka sepakbola”. Seketika plenggong dengan jawaban itu, tapi setelah digagas-gagas rasanya wajar ekspektasi orang tua boleh berbeda dengan ekspektasi anak.

Modal awal sebuah prestasi adalah keinginan kuat dari dalam diri sendiri. Peran orangtua cukup sentral dalam kondisi seperti ini, mereka akan mendesak anak-anaknya untuk ikut serta memperkuat dengan janji-janji bonus, faslitas mewah, jaminan pensiun, dll. Meskipun bukan pilihan anak-anaknya, anak-anak semakin terperdaya dengan selebritas pemain-pemain sepakbola dunia di berbagai media.

Pada kondisi demikian sangat mungkin kepercayaan diri anak-anak meningkat. Meskipun tanpa mengimbanginya dengan skill yang mumpuni. Terpenting cuan. Yang pada akhirnya, memunculkan sifat ego-sentris bagi mereka.

***

Kita hidup di zaman personal branding yang cenderung narsis. Realitanya, kita dapat melihat jatuh bangunnya seseorang akibat terlalu menonjolkan diri sendiri, dan menyakini seluruh proses panjang dapat akan selesai secara cepat tanpa perlu susah payah. Demi pengakuan follower-nya mereka mau melakukan apa saja.

Baca Juga  Islam: Terjebak di Titik Beku

Penolakan putri saya pertanda baik setidaknya ia bukan pengabdi narsisme. Kepercayaan diri hanya dapat berproses seiring dengan pematangan kompetensinya. CR7 (Cristiano Ronaldo) memang seorang bintang, namun ketika bertanding ia akan melebur kedalam tim dan meracik strategi yang siap menjebol gawang lawan-lawannya.

Brazil, Argentina, dan Portugal terkenal dengan para pemain sepakbola kelas dunianya. Keseharian mereka yang tidak bisa lepas dari kulit bola mendorong memunculkan bibit pemain baru berkaliber. Pesona dan ketenaran mereka terlahir dari sebuah keprihatinan dan keuletan panjang selama bertahun-tahun.

Saya sendiri merasa bukan termasuk menonjol dalam akademik, tapi teman-teman SMP dulu menganggap saya memiliki pasion untuk ditunjuk sebagai ketua genk kelompok bermain. Dalam hati saya bertanya-tanya apakah anak-anak narsis akan dilihat sebagai pemimpin oleh teman sebayanya. Teman-teman menganggap narsisme cocok sebagai bos, urusan penugasan dapat diserahkan kepada yang mumpuni meskipun sering tidak tampak di permukaan. Hmm, jangan-jangan putriku termasuk kelompok itu?

***

Lalu, bagaimana kaitannya dengan dunia sepak bola? Dalam permainan sepak bola terdiri dari sekumpulan orang-orang yang membutuhkan seorang kapten kesebelasan. Mereka memilih kandidat berdasarkan kriteria yang ada. Kecenderungan seseorang yang memiliki tanggung jawab dan sanggup memimpin tim dalam menghadapi lawan-lawannya yang akan jadi pilihan.

Anak-anak narsis tidak unggul sebagai pemimpin. Jika membandingkannya dengan yang lainnya, mereka tidak menunjukkan kepemimpinan yang baik karena tidak sanggup membimbing kelompoknya dengan baik. Anak-anak tersebut melihat narsisme hanya sebagai kedok atas ketidakmampuannya, hal inilah yang sangat mungkin sedang menimpa timnas putri kita saat ini.

Sangat memprihatinkan bahwa mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump, dalam berbagai hal mendapat gambaran sebagai “anak laki-laki kecil yang tidak percaya diri” dan “anak lima tahun manja yang membuat ulah”. Panggilan-panggilan itu tak hanya diskriminatif bagi balita, tetapi juga melegitimasi perilaku sang presiden ketika menjabat. Karena Trump sudah dewasa dan dapat bertanggung jawab karena menciptakan kekerasan dan perusak demokrasi.

Baca Juga  Merawat Ramah di Rumah Indonesia

Sebagai penutup, Sigmund Freud pernah menulis bahwa, “Orang narsis mengesankan orang lain dengan kepribadian yang mereka anggap cocok mengambil peran sebagai pemimpin. Orang narsis unggul dalam memberi kesan baik pada orang lain tapi bukan dalam memimpin orang lain.” Cuplikan tulisan Freud yang ditulis pada tahun 1931.

Untuk itu, marilah kita memilih pemain tim nasional berdasarkan pada kompetensi bukan dari kenarsisan yang hanya sekedar mendapatkan kepercayaan diri semata.

Editor: Wildan Assegaf

Bagikan
Post a Comment