Aku Mau Jadi Gadis Nusantara, Tuan
Seorang anak kecil menghampiriku ketika malam tengah matang dan purnama meraja di udara dingin basah. Aku tidak mengingat siapa sebenarnya namaku, Tuan. Anak kecil itu menyapaku dengan ungkapan yang demikian aneh. Sejak malam itu, aku menyebutnya Rara. Anak kecil yang malam-malam datang ke rumahku dengan mata yang cerah namun menyimpan segala luka.
Setiap pagi Rara duduk menunggu di sudut kamar, berharap aku tak kesiangan sebab ia memang anak kecil yang senang bercerita. Anak kecil pun paham bahwa ia tak bisa berbicara dengan orang yang belum terjaga. Maka selama itu pula ia berjaga. Anak kecil itu manis, rambutnya berwarna coklat, pipinya bulat, bibirnya kecil, memakai gaun berwarna putih bersih.
Suatu waktu aku bertanya, dia menjawab dengan terbata sebab memang tak pandai ia berbahasa. “Aku dari negeri yang jauh, Tuan. Papaku orang Belanda, mama aku berdarah Jerman. Tapi aku sudah jauh hidup di tanahmu, makan dari tanahmu, dan minum dari tanahmu. Maka sejak saat dilahirkan aku sudah jadi gadis nusantara,” ucap Rara.
“Aku tak mau berbicara dengan bahasa papaku, Tuan, karena aku cuma mau menjadi orang Nusantara. Bukan Belanda, apalagi Jerman”. Rara membantahku ketika aku meminta dia mengajarkanku bahasa Belanda. Selalu begitu, aku bahkan sebegitu heran mendengarnya. Bukankah Belanda dan Jerman demikian indah dan menjanjikan. Kenapa pula Rara hendak tinggal dan diakui sebagai pribumi Indonesia. Terlebih lagi, darah yang mengalir padanya sama sekali bukan darah Indonesia, dia orang asing, Eropa. Benar-benar Eropa.
***
Sepanjang sore ia selalu mengajakku ke Alun-alun Selatan, untuk mencari papa dan mama, katanya. Aku tak bisa menolak, sebab anak kecil itu sudah demikian merindukan kedua orang tuanya. Tak bisa kubayangkan, anak kecil kehilangan orang tua ketika zaman benar-benar membara. Perihal rutinitasku setiap sore ke Alun-alun tentu bukan tak berisiko. Seorang lelaki pribumi menggandeng tangan anak kecil berperawakan Belanda. Bisa mampus jika polisi-polisi kolonial itu menuduhku telah menculik Rara.
“Tak usah takut, Tuan. Kau akan kusebut sebagai kakak jika seandainya polisi-polisi yang berjaga itu menuduhmu,” tutur Rara demi melihat wajahku tak tenang ketika sepeda yang kita naiki telah memasuki Alun-alun.
Entah sudah berapa kali aku mengayuh sepeda dari kamarku ke Alun-alun. Menemani Rara mencari papa dan mama. Tapi sama sekali tak pernah kita bertemu mereka. Terhitung ratusan orang sudah kita tanya, nihil. Ke mana perginya kedua orang tua Rara? Aku tak hendak menerka-nerka.
Namun zaman memang tengah bahaya, kabarnya Belanda tengah waspada memastikan Jawa agar tetap aman. Beberapa percobaan pemberotakan oleh pribumi memang marak. Kusno, temanku sendiri bahkan masih raib hingga kini sejak terakhir kudengar kabar ia ikut mengangkat senjata melawan tentara Belanda.
***
Malam itu, aku duduk di kamar dengan Rara. Terhitung sejak kali pertama ia datang, jika tak meleset perhitunganku, paling tidak sudah 8 bulan Rara tinggal bersamaku. Menemaniku sepanjang hari, menunggu waktu sore untuk bersepeda berdua ke Alun-alun di tengah kota.
“Tuan, aku merindukan papa dan mama,” Rara berbicara dengan nada yang bisa membikin semua orang iba.
“Sudah sejak lama kita mencari mereka, Rara. Tapi tak dapat juga kita temukan. Seandainya Rara dapat mengingat di mana rumah dan siapa nama mereka, akan lebih mudah mencarinya. Tuan bisa bertanya keberadaan papa dan mama pada polisi-polisi yang berjaga. Atau bahkan, Tuan akan meluangkan waktu untuk mengantar Rara ke rumah”.
“Jangankan itu, Tuan, namaku saja aku lupa. Kan kau yang memberiku nama Rara,” dengus Rara.
Aku tak meneruskan, pikirku telah selam-berselam merajut banyak kemungkinan tentang anak kecil yang kini kembali duduk di sudut kamarku. Tentang keberadaan orang tuanya yang mungkin telah terbunuh di tangan pejuang pribumi. Dadaku sesak, anak sekecil ini harus menerima kenyataan pahit. Apapun itu, sulit untuk berpikir baik, besar kemungkinan kedua orang tua Rara telah berpulang. Bertemu Tuhan. Rara adalah korban revolusi sosial.
Aku masih mematung, dan akan terus mematung seandainya Rara tak kembali berbicara. “Tuan, maukah kau mencium keningku. Aku sangat ingin dicium dan dipeluk sebelum tidur. Seperti yang selalu dilakukan mama dan papa, setiap malam”. Aku mempersilakan tubuh mungil itu mendekat ke tubuhku, memeluknya erat sembari menciumi keningnya. Dalam dan hangat, aku tak melepas pelukanku hingga air mataku benar-benar kering.
“Ik zou heel blij zijn als we altijd samen konden zijn. Ik hou van u, Meneer. Zolang ik papa en mama verloor, kreeg ik liefde en genegenheid van jou. Aku akan sangat senang jika kita bisa selalu bersama. Aku mencintaimu, Tuan. Selama aku kehilangan papa dan mama, aku mendapatkan cinta dan kasih sayang darimu”.
Kemudian Rara tertidur.
***
Semalam suntuk aku tak mampu memejam mata. Mengenang pelukan pertamaku dengan Rara. Hangat dan mengiris. Aku masih tak mengerti kenapa ribuan orang Belanda datang ke negeriku, memulai perang dan meninggalkan Rara. Siapa yang mesti disalahkan, pejuang pribumi yang membunuh orang tua Rara tentu juga memiliki alasan. Membebaskan tanah air dari penjajahan. Begitulah yang kubaca di sepanjang tembok jalanan kota.
Aku masih tenggelam di kedalaman pikirku hingga seorang mengetuk pintu rumahku. Keras dan kasar. Aku bergidik ketakutan. Kupikir polisi datang dan akan menuduhku menculik seorang anak Belanda. Kugapai apa-apa saja yang bisa jadi senjata, kemudian pelan kubuka pintu. Gubrakkk! Kusno berdiri, dan segera melompat ke dalam. Wajahnya kotor, baunya pesing dan memabukkan. Ia masih bernyawa, tak bisa kuhitung berapa lama ia tak mandi dan berpindah dari satu persembunyian ke persembunyian yang lain.
“Aku dikejar tentara Belanda. Aku pergi melarikan diri dan bersembunyi di lereng Merapi. Tak ada hutan yang tak kujamah, semua orang nyaris terbunuh. Masih baik aku bisa selamat dan pulang. Sementara waktu aku akan tinggal di rumahmu,” ucap Kusno terburu.
***
Rara terbangun demi mendengar keributan kami. Kusno menghela napas panjang demi melihat Rara berjalan keluar dari kamar. “Ah Noni, masih mengingatku rupanya? Aku Kusno yang malam itu mengantarmu ke sini atas perintah kedua orang tuamu. Belum sempat aku menitipkanmu pada Tuan Rumah, aku sudah harus pergi menghindar dari kejaran sekelompok tentara yang memburu kita”, ucap Kusno.
Aku dan Rara kaget bukan main. Ternyata malam itu Kusno membawa Rara ke rumahku. Berharap aku memberinya tempat menginap. Barangkali esok harinya, Kusno atau orang tua Rara akan datang menjemput. Namun itu tak akan pernah terjadi sebab malam itu juga kedua orang tua Rara digelandang ke penjara.
“Maafkan aku, Noni, sebab tak bisa kuselamatkan kedua orang tuamu. Mereka benar-benar orang baik. Aku bersaksi atas nyawaku. Tuan dan Nyonya A menyelamatkanku dari kejaran tentara Belanda. Kedua orang tuamu itu, sekalipun juga berasal dari bangsa penjajah, tapi ‘lah sudi menyelamatkanku. Keduanya harus dicatet sebagai orang yang berdiri di barisan pejuang Republik. Tapi sayang para penjajah itu memang haus benar, digelandangnya kedua orang tua Noni ke penjara”, Kusno menerangkan keadaan.
“Aku memang gadis Nusantara, Tuan Kusno. Papa dan mama selalu menyebut demikian ketika malam aku diantar tidur”, Rara menambahkan.
“Tapi itu mesti dibayar mahal, orang tuamu dianggap sebagai pengkhianat Belanda. Terakhir aku melihat mereka digelandang oleh para tentara, kupikir mereka akan diangkut ke penjara untuk diasingkan ke negeri antah berantah”, kesaksian Kusno dengan mata berkaca.
“Antar aku pulang, Tuan. Aku ingin merasakan kehadiran papa dan mama, aku hendak mencium bau badan mereka. Barangkali rumah kami masih menyimpan bau keduanya”, ucap Rara singkat. Barangkali dadanya sesak menahan tangis yang demikian lama ia simpan sendiri.
***
Malam itu juga bermodal alamat yang diberikan Kusno dan sebuah senter aku bergegas mengayuh sepeda, ke rumah Rara. Sepanjang jalan tak kudengar suara manusia. Aku tenggelam di lautan perasaan iba, Rara menangis tanpa suara. Malam lengang, Jogjakarta, dan perang yang masih berkecamuk mengantarku ke rumah keluarga Belanda.
“Aku mengantar anakmu, Tuan dan Nyonya, tidakkah kau hendak membukakan pintu untuk kita?”
Syauqi Khaikal Zulkarnain, lahir di Kangean pada 18 Agustus1999. Berkuliah di Universitas Ahmad Dahlan, saat ini tengah menjadi Ketua Umum PK IMM FSBK UAD. Dapat dihubungi melalui WhatsApp: 082338239130 atau Instagram: @syauqikhaikal.

ratu
wahhhhh keren…haru,….sukaaaaaaa!!!