“Mereka” Bergerombol di Kamar Mandi (Bagian 2)
Setelah kejadian ganjil di jemuran kala tengah malam itu, lagi-lagi keimanan saya diuji oleh “mereka” di kamar mandi usai salat Isya’. Bukan hanya saya, santri lain pun pernah mengalami pengalaman di kamar mandi tanpa pintu itu.
Jika Anda pernah masuk ke kamar mandi yang tak layak pakai yang seharusnya direnovasi; atau dibersihkan total dari bau busuk atau bahkan sampah yang ada di dalamnya, lalu merasakan hawa yang sangat tidak enak yang membikin bulu kuduk berdiri. Maka dapat dipastikan bahwa “mereka” sedang berada tepat di belakang, di atas atau bahkan di depan Anda.
Bukan hanya kamar mandi kotor, kamar mandi super elit pun tak luput dari perhatian “mereka” untuk dijadikan wahana bermain atau tempat tinggal. Bagi “mereka” kamar mandi tak ubahnya layak hotel berbintang. Pada satu titik, “mereka” enggan untuk hengkang dari sana.
Kamar mandi adalah salah satu tempat favorit “mereka” untuk bernaung atau bahkan tinggal. Adapun faktornya: ada atau tidak adanya air, lembab, bau tak sedap, kotor, hingga minim pencahayaan. “Mereka” pun suka dengan kamar mandi yang di dalamnya terdapat tempat sampah yang berisikan pembalut yang tidak dicuci, lantas “mereka” secara bergerombol menghirup aroma bahkan menjilatinya.
Gesekan antara energi negatif (yang berasal dari jin dan sebangsanya) dan positif (yang berasal dari manusia) seringkali membuat kita merasa merinding; merasakan hawa panas atau dingin, hingga membikin kita jatuh sakit selama beberapa hari. Dalam hal ini, saya pernah meraba tubuh sosok hitam besar di salah satu rumah pengusaha di Kota Surabaya. Dan benar saja, di setiap ujung jari tangan kanan saya terasa bagai memegang medium listrik tegangan rendah.
***
Kala itu usai salat Isya’, saya bergegas menuju kamar mandi untuk buang air besar. Di sana, saya mendapati beberapa anak saja yang berlalu-lalang untuk sekadar kencing. Tanpa tedeng aling-aling, sarung saya selampirkan di atas tembok lalu memulai “ritual”.
Sebagai gambaran, kamar mandi pondok saya dulu hanya berjumlah sekira 20 bilik. Pembagiannya; 10 khusus untuk mandi dan 10-nya lagi khusus untuk buang air besar dan mandi. Dengan 3 pintu masuk; barat, utara, dan selatan. Saat masuk lewat pintu utara, itu artinya santri berada di area kamar mandi khusus untuk pub dan mandi, sementara selatan area khusus untuk mandi (tanpa kakus). Dengan model bangunan memanjang dari selatan ke utara.
Bagaimana dengan pintu barat? Pintu yang berada persis di tengah itu akan mengantarkan santri pada dua pilihan; setelah pub lalu mandi atau sekadar mandi saja. Di titik ini, lagi-lagi santri dididik agar teguh pendirian dan tegas dalam mengambil setiap keputusan.
Awalnya, saya tidak merasakan apa-apa dan baik-baik saja. Langkah kaki santri yang sekadar kencing atau menuju dapur umum (DPU) untuk makan malam pun masih terdengar dari asrama Bukhara II.
***
3 menit berselang, saya mulai merasakan ada yang tidak beres. Kala itu suasana kamar mandi telah sepi, pertanda santri telah menuju DPU. Dan benar saja, tetiba ada yang memercikkan air sekira setengah gayung tepat di belakang saya.
“Byurr…” sekali. “Byurr…” dua kali.
Saya pikir itu ulah kakak kelas yang suka menjahili juniornya, atau kawan saya yang sengaja untuk menakut-nakuti saya.
“Byurr…” tiga kali. “Wooy… siapa itu?!” tanya saya berulang kali, namun tak ada jawaban.
Untuk mengetahui siapa pelakunya, saya berinisiatif untuk menengok langsung dari pintu. Sepersekian detik siraman itu datang lagi.
“Byurr…” empat kali, saya langsung bergegas menengok ke kanan-kiri. Namun nihil belaka. Bulu kuduk saya merinding, entah mengapa saya merasakan hal aneh malam itu. Karenanya, saya pun langsung menyiram kakus, beristinja, memakai sarung sekenanya, lalu mengambil langkah seribu menuju asrama.
Namun bodohnya saya, bukanya keluar lewat pintu barat, saya malah lari menuju pintu selatan. Sembari membawa gayung berisi sabun, saya lari melewati bilik-bilik kamar mandi. Dan di saat itulah saya melihat sekelebat bayangan hitam besar yang melintas tepat di atas kepala saya.
Seketika itu, saya reflek menutup mata dan lari sekencang-kencangnya.
Dan itulah salah satu pengalaman mistis yang membikin “ritual” saya ambyar dan sangat tidak menghayati perihal melepaskan apa yang harus dilepas.
***
Kali lain, salah satu santri–sebut saja Yatno–pernah bercerita bahwa ia pernah mengalami kejadian yang tak bisa dinalar saat ia mandi di kamar mandi utara yang letaknya paling utara.
Saat itu, Yatno sedang bertugas jaga sore (istilah untuk tugas kebersihan sore). Usai melaksanakan tugasnya, ia lantas bebersih diri di kamar mandi selatan. Kala itu, ada beberapa santri senior juga yang baru mandi usai Maghrib.
Dengan penerangan yang bisa dikatakan minim, ia pun mandi seperti biasa. Namun kala itu, ia tidak mandi secepat biasanya, sebab airnya sisa seperempat bak, itu artinya ia harus berhati-hati dengan endapan kotoran yang mudah naik ke permukaan.
“No Yatno, aku njaluk shampomu No,” ujar santri yang menurutnya adalah santri senior bernama Gambleh. Sebab ia hafal betul suara senior yang lumayan dekat dengannya. Tanpa pikir panjang ia pun memberikan shampo botolan itu dari tembok pemisah yang tingginya sekira 2-3 meter.
“Iki, tampani mas!” Yatno pun memberikan shamponya kepada–yang dikiranya–Gambleh.
Santri yang berada di kamar mandi sebelah Yatno–yang meminta shampo–itu masih mengguyur badannya. Hingga akhirnya Yatno selesai mandi, guyuran itu pun ikut berhenti.
“Mas Bleh, shampone wis tah?” tak ada jawaban, “Mas Bleh…?!” “Mass…?” tetap tidak ada yang menyahut. Saat itu Yatno berpikir Gambleh bergegas menuju asrama sehingga ia lupa untuk mengembalikan shampo miliknya.
***
Akhirnya Yatno pun menuju kamar mandi tepat di sebelah kirinya. Sesaat setelah ia mendapati kamar mandi itu, ia kaget bukan kepalang, seakan-akan tak percaya. Di sana, ia mendapati kamar mandi itu kering tanpa setetes air pun di lantai. Ia pun mendapati shamponya yang masih tertutup rapat yang tergeletak begitu saja di lantai.
Sepersekian detik saat ia mengambil shampo itu, tetiba dari bilik kamar mandi utara ia mendengar suara orang tua…
…“Suwun yo le,” mendengar itu, ia refleks mengucapkan “Allahu Akbar!” lantas ia lari menuju asrama dengan muka pucat pasi. Sesampainya di asrama, ia langsung terduduk sembari bersender di lemarinya dengan mendekap kedua pahanya.
Tadinya, kawan sekamarnya tidak mengacuhkannya. Namun setelah tahu kalau mukanya pucat, ia pun langsung diberi minum oleh kawannya untuk meredam degup jantung yang sedari tadi kian tak terkendali.
Teror demi teror yang saya dan beberapa kawan saya alami nyatanya tidak berhenti sampai situ saja. “Mereka” kerap kali usil bahkan seenak jidatnya saja mengganggu proses nyantri kami. Teror itu lagi-lagi datang melalui penuturan yang dikisahkan oleh kawan sekamar saya yang–lagi-lagi–berhubungan dengan saya.
Dan pengalaman mistis itu akan saya kisahkah di part selanjutnya…

Gemar membaca dan menulis sambil dengerin lagu bergenre Pop-EDM. (IG: rvdafii_ls. E-mail: ruzdanfauzi025@gmail.com)
