Asih
“Lagi-lagi sahur kita seperti ini Asih. Kamu sebenarnya kenapa?” Tanyaku sambil melihat piring nasi dengan wajah menahan amarah. Telur ceplok dan nasi putih. Aku memerhatikan Asih yang mulai bingung. Lalu kuputuskan untuk tetap makan walau masih sedikit kesal.
“Maaf mas. Kalau mas tidak mau, biar aku beli makanan di warteg depan ya.”
“Tidak usah. Sudah duduk saja di sini dan makan bersama mas.” Kami berdua menghabiskan waktu sahur dengan saling diam. Aku tidak mau memperpanjang masalah lagi. Cukup dengan bersabar, kurasa semuanya bisa jadi lebih baik.
Kami berdua menikah karena dijodohkan. Tetapi meskipun begitu kehidupan keluarga kami ternyata cukup bahagia. Dia adalah gadis yang tidak banyak bicara. Lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca buku daripada bergosip di tukang sayur bersama ibu-ibu lain. Dia berdandan dengan sederhana tetapi bisa tetap terlihat cantik. Senyuman yang selalu dia tunjukkan setiap kali aku pulang kerja berhasil menghapus lelahku seharian. Asih, adalah nama yang indah cocok sekali dengan dia.
Hanya saja semenjak kehadiran putri kecil kami. Dia berubah. Dia tidak cantik lagi. Rumah sering berantakan dan menurutku, dia tidak pintar menjaga anak. Wajar saja, pikirku. Dia adalah anak satu-satunya. Tidak pernah merasakan punya saudara. Sering kali aku kesal setiap hari karena rumah selalu saja kotor saat aku pulang.
“Sudah aku bilang Asih, biarkan aku sewa Baby siter supaya kamu punya waktu lebih.”
“Mas, aku tidak mau orang lain yang merawat anak kita. Aku tidak butuh Baby siter. Aku cuma butuh kamu untuk membantu aku merawat Nayla.”
“Kamu sadar kan? Aku ini sangat sibuk. Bahkan sekarang kamu tidak masak lagi. Aku kesal. Sudah berapa kali kita pesan makanan di luar. Kalau begini terus pengeluaran kita bisa bengkak.”
“Mas…”
“Terserah kamu! Hari ini aku mau tidur di kamar tamu saja. Jangan ganggu aku.”
Itulah terakhir kali aku menegurnya dengan cukup keras. Sekarang aku sudah biasa melihat rumah kotor, mendengar tangisan bayi, atau sahur dengan seadanya. Di bulan Ramadan kali ini, dia tidak bisa memasak sebanyak dulu sebelum kami memiliki Nayla. Terkadang kami membeli makan siap saji di luar. Atau makan makanan yang cepat dimasak seperti nugget, telur dan mie instan.
Suatu waktu, aku terpaksa meninggalkan dia karena ada pekerjaan di luar kota. Dua hari satu malam. Aku kecup keningnya perlahan. Dia terdiam, lalu tersenyum. Tanpa memedulikan Nayla yang terus menangis di pelukannya, dia tetap berusaha tersenyum mengiringi kepergianku.
“Pak… Bapak Rian,”
Aku terbangun dan mendapati kalau bus sudah berhenti.
“Kita sudah sampai di puncak Bogor pak. Ayo segera turun yang lain udah nunggu dari tadi.” Kesya. Seorang karyawati muda di kantorku. Meski sudah cukup umur dia masih belum menikah juga. Entah karena dia yang terlalu kaku atau memang belum ada yang bisa membuatnya tertarik.
Kami berdiskusi tentang rencana perbaikan produk. Sesekali pandanganku mengarah kepada Kesya. Dia terlalu cantik sampai membuatku yang sudah memiliki istri dan anak jadi semakin tertarik.
Seperti yang sudah bisa aku duga, dia menolakku. Mungkin baginya aku sudah terlalu tua dan tidak pantas dengannya. Dia justru bertanya mengapa aku jadi seperti orang linglung.
“Lagi ada masalah ya pak di rumah?” tanya Kesya
“Ya… biasa masalah rumah tangga. Istriku tidak bisa menjaga anak dengan baik. Rumah selalu saja berantakan dan istriku sekarang tidak cantik lagi. Maaf aku jadi khilaf dan malah menyukaimu.”
“Ketika bapak pulang nanti, coba peluk anak bapak. Pernah bapak memeluknya?”
“Tentu saja. Aku kan ayahnya.”
“Maksud saya, benar-benar memeluknya. Cuma itu saran saya pak. Maaf, bagaimana pun saya tidak berhak ikut campur dengan urusan rumah tangga bapak.”
Kesya pergi. Meninggalkan aku dengan sejumlah tanya. Perjalanan pulang kulewati dengan membayangkan wajah istriku Asih dan bayi kecilku Nayla. Kata-kata Kesya kupikirkan berulang kali dalam kepalaku. Terus seperti itu sampai akhirnya aku sampai di depan rumah.
Dari luar rumah Nayla menangis. Aku segera masuk dan mencarinya. Aku peluk dia. Benar-benar memeluknya dan akhirnya aku sadar akan beberapa hal yang selama ini aku abaikan. Bau susu dari mulutnya. Matanya yang mulai basah karena air mata. Rengekan dari mulut kecilnya seolah tanda, dia memerlukan aku. Tanpa sadar aku juga ikut menangis. Lalu aku perhatikan, Asih yang sudah tertidur dengan mainan Nayla di tangannya. Popok bayi, minyak telon, bedak bayi dan lap kecil ada di dekat dia. Kurasakan lantai yang kotor. Aku keluar dari kamar. Piring menumpuk di tempat cucian piring. Baju berantakan. Aku ingin sekali membangunkan Asih. Tetapi saat memeluk Nayla, aku sadar. Bahwa akulah yang tidak peka sebagai seorang suami.
“Hoam…”
“Selamat Bangun sayang,” tanpa memedulikan dia yang masih belum sadar benar, aku memeluknya. Aku pun baru saja menyadari, Istriku sayang ternyata sudah sekurus ini. Betapa tidak pekanya aku.
“Mas, ada apa mas? Ada yang sakit?”
“Maaf… Maafkan aku Asih.” Aku memeluknya erat. Asih membalas pelukanku dengan hangat. Sudah lama sekali rasanya kami tidak seperti ini. Aku mengajaknya makan. Dia heran melihat rumah sudah sangat bersih, dan Nayla sudah tertidur pulas di box bayinya.
“Sayang, maafkan aku. Selama ini aku selalu saja menyalahkan kamu. Aku tidak peka. Aku tahu kamu perlu bantuan tetapi aku justru cuek dan hanya sibuk dengan urusanku sendiri.”
“Mas, kamu tidak sepenuhnya salah. Aku juga salah. Aku juga merasa sanggup menjadi ibu baru. Tetapi ternyata tidak semudah itu, mas. Aku takut mengganggu kamu. Kamu sudah terlalu sibuk bekerja dan aku tidak ingin kamu jadi kelelahan. Aku tahu mas sangat mencintaiku. Sering berkata “I Love You.” Tetapi mas, aku butuh lebih dari sekedar kata.”
“Dan soal Nayla, bukannya aku sepenuhnya menolak urusanmu tentang Baby siter. Aku hanya ingin kita bisa belajar menjadi orang tua yang baik. Kita membesarkan buah hati kita bersama mas. Kamu dan aku.” Kami berpelukan erat. Setelahnya kami makan malam dengan bahagia. Bercanda ria, saling berbagi cerita masing-masing.
Semenjak itu, aku berjanji akan lebih memperhatikan keluargaku. Membersihkan rumah sebelum aku berangkat kerja. Sekadar menyapu atau mencuci piring. Memeluk anakku ketika dia menangis. Mengganti popoknya. Aku tidak lagi merasa gengsi hanya karena aku bekerja dengan pangkat tinggi. Di rumah aku adalah seorang suami dan ayah. Aku harus lebih belajar membagi waktu. Menghargai perjuangan istriku. Membuktikan cintaku padanya lewat perbuatan. Karena cinta, tidak hanya sekedar kata-kata.
