f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
semesta

Mendung di Tawangmangu

Sang surya tepat di titik kulminasi ketika aku dan kedua sepupuku tiba. Kendati sinarnya cukup memanggang kepalaku, namun kali ini Tawangmangu menyambutku dengan rinai gerimis menyejukkan sekaligus mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang telah memahat hatiku dengan sejumlah kenangan.

*

Aku harus bisa menerima kenyataan tidak kuliah usai lulus SMA. Sejak bapakku tiada, di rumah hanya ada aku dan ibuku yang masih menekuni jasa menerima jahitan demi asap dapur jangan sampai berhenti mengepul.

Melihat aku bengong di rumah, pamanku berbaik hati mengajakku ke kota Bengawan agar aku mau menambah ilmu dengan mengikuti kursus-kursus kewanitaan.

Suatu sore ketika aku pulang dari kursus, mendung bergelayut seakan segera jatuh tanpa mau menunda semenitpun. Dengan sekuat tenaga, kukayuh sepeda onthel pamanku yang setia menemaniku pergi dan pulang kursus. Kukayuh semakin kencang  dengan harapan segera sampai di rumah tanpa kehujanan.

Tiba-tiba, awas…! Braaak! Ada benturan keras di punggung dan pinggangku. Aku terkapar, mataku berkunang-kunang dan peeettt, terasa gelap.

Kudengar samar-samar suara seorang pemuda yang mohon pamit pada pamanku. Aku masih di pembaringan ketika kusadari bahwa aku sudah berada di rumah paman kembali. Tubuhku terasa sakit di sana-sini dan dengan susah payah kuberusaha bangkit dari kasur. Kulihat bibiku berwajah sembab tampak habis menangis. Ternyata aku sempat pingsan beberapa saat.

*

Dari paman kutahu namamu Priyo, seorang sopir colt yang membawa mbak dan mbok sayur ambil dagangan dari pasar sayur mayur di kota asal pak Gesang itu. Kaulah pemuda yang telah membawaku pulang usai terkapar di jalan karena diserempet sebuah motor.

Hampir setiap hari kau ke pasar dan sesekali main ke rumah. Aku tahu kau amat santun, ulet, pekerja keras dan jujur. Sama sepertiku, ayahmu juga telah tiada. Meski ibumu kurang setuju, kau nekad merantau ke Jawa.

Makin hari kau semakin sering datang. Aku heran, ada-ada saja alasanmu untuk datang. Dari sekedar mengantar kue kesukaanku atau cuma main gitar sambil menyanyikan lagu-lagu sendu. Setiap usai main gitar, selalu kau tinggal gitar itu agar kau bisa lebih sering datang menemuiku, katamu. Sungguh trik brilian dan menggelikan, tapi aku suka.

Baca Juga  Dilan, Yang Berat itu Puasa, Bukan Rindu

Seperti tiada bosan, kau tampak berusaha merebut hatiku dengan berbagai cara hingga aku benar-benar luluh. Bahkan kau pernah berkata bahwa aku gadis yang terlalu dingin dan kau tertantang untuk menaklukkan diriku.

Entah dimulai dari peristiwa apa, lambat laun secara diam-diam justru aku yang mencari kamu bila beberapa hari tidak bertemu. Mungkin aku jatuh cinta dan kejujuranmu telah membuatku tak berdaya menghalau bayang-bayangmu di setiap waktu.

Kadang aku merasa cemburu. Ingin rasanya jadi mbak-mbak atau mbok-mbok sayur yang selalu bertemu denganmu setiap hari, selalu bercanda di perjalanan saat kau tengah membawa mereka beserta dagangan sayurnya.

*

“Kapan-kapan kita ke Tawangmangu, yuk,” ajakmu suatu hari sambil tersenyum cerah seolah yakin kali ini pasti berhasil setelah beberapa kali gagal mengajakku jalan-jalan.

Benar, aku tak mampu menolak.

“Boleh, tapi kita berangkat pagi, sebelum sore harus sudah kembali ke rumah, gimana?” Sengaja aku mengajukan syarat.

“Oke, wong manis,” sambil kau kedipkan sebelah matamu padaku.

Pipiku seketika menjadi merah jambu entah mengapa.

“Agar tidak stres, kita perlu jalan-jalan, Putri sayang.” Kembali kau luncurkan gombalanmu sambil tersenyum menggoda. Aku tak mampu menyembunyikan rona merahku lagi. Ada puluhan gendang ditabuh bertalu-talu di dadaku.

“Apalagi kita sama-sama jauh dari orang tua, jalan-jalan sebagai hiburan. Yang penting hanya satu, di manapun kita berada, ada Dia yang mangawasi kita,” lanjutmu panjang lebar bak ceramah ustad yang sedang naik daun.

Aku hanya tersenyum.Tentu senyumku yang termanis.

*

“Dua hari lalu ibuku menelepon. Dia memintaku segera pulang.”

Langkahku nyaris terhenti. Kulihat wajahmu menerawang jauh usai mengatakan itu. Tak kau pedulikan batinku berkecamuk penuh kekhawatiran.

“Hampir empat bulan majikanku belum memberiku upah,” katamu lagi sambil menatapku nelangsa.

Baca Juga  Aku dan Bibi Lastri (2)

Sambil berjalan menuruni anak tangga menuju air terjun yang terkenal itu, kita sejenak membisu dalam lamunan masing-masing. Kubayangkan andai aku jadi dirimu yang dalam waktu singkat harus  segera mengambil keputusan.

“Aku tak ingin ibuku kecewa dan aku harus membawa bekal yang cukup dari tabunganku yang ada. Aku ingin membawamu serta untuk kuperkenalkan pada ibuku.”

Dadaku berdesir tak terkira hingga tak sadar sudah tiba tepat di bawah Grojogan Sewu. Gemuruh air terjun yang berjatuhan dari jarak sangat tinggi dan curam, tak segemuruh hatiku mendengar kata-kata yang terakhir tadi. Pikiranku melanglang buana entah kemana. Tanganku dingin melebihi dinginnya udara di sekitar Gunung Lawu saat itu. Tanpa kusadari tanganku telah bersembunyi dalam genggamanmu. Mulutku tercekat, bibirku bergetar kehabisan kata. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Panah asmaramu melesat dari busurnya menembus jantungku tanpa permisi.

*

“Lusa aku berangkat, maukah kau memaafkanku, Put?” Pintamu suatu hari tanpa aku tahu apa salahmu.

“Aku terpaksa belum bisa mengajakmu, majikanku masih menyandera sebagian upahku karena usaha sirup tamulawak dan produksi tahu akhir-akhir ini sepi. Tunggu ya, aku pasti kembali menjemputmu nanti.” Kau bercerita secara rinci tanpa kuminta.

“Aku tak ingin membuatmu sedih. Pergilah kau bersama doaku. Ibumu lebih utama dibanding yang lain,” kuucapkan itu dengan intonasi setenang mungkin meski hatiku sedih, perih dan pilu. Ada kekhawatiran yang mendera, takut kehilanganmu di saat aku sedang berupaya pelan-pelan menerimamu hadir di relung hatiku.

Bersama sepupuku, kuantar kau hingga ke agen bis antar pulau yang akan membawamu pulang. Ada sorot keraguan yang kutangkap dari sorot matamu yang selalu teduh di setiap manatapku.

Kuberkata dalam hati, kau belumlah jadi apa-apaku. Karena itu kau masih bebas mau ke manapun, aku tak berhak melarangmu. Kita belum ada ikatan apapun meski harus kuakui hatiku tak mampu berbohong, saat ini kau sangat berarti bagiku.

Perlahan bis yang kau tumpangi bergerak maju meninggalkan kota Bengawan. Meninggalkan pula sepotong hati yang irama detaknya tak beraturan dari seorang perawan lugu. Kau lambaikan tanganmu sambil tersenyum lembut dari balik kaca jendela bis. Kuingat pesanmu kemarin, aku harus sabar menunggu datangmu kembali, untuk membawaku ke kampung halamanmu.

Baca Juga  Senyum Umay Ketika Memecahkan Celengan
*

Hari-hari berlalu seakan berkejaran dengan tumbuhnya uban di rambut pamanku. Hampir setengah tahun kau tak ada kabar. Hanya ada sms sekali ketika kau sudah sampai di tujuan. Penantianku dalam diam kian menyiksa. Beberapa pesan singkatku bahkan tak kau baca. Ada apa denganmu? Apakah hpmu hilang? Ataukah kau sengaja membuat hatiku gundah?

Kepedihan hatiku kian menikam kalbu ketika kudengar dari pamanku bahwa kau tak mungkin kembali padaku. Apa salahku?

“Ada apa dengannya, Paman?” Kecemasanku tak mampu kusembunyikan berharap paman segera menjawab pertanyaanku.

“Maafkan paman, Put, paman baru bisa bicara sekarang,” pamanku menghela nafas panjang dan aku semakin penasaran dengan apa yang akan dia katakan selanjunya.

“Dua hari setelah Priyo tiba di kampung, ibunya tiada. Sebulan berikutnya diapun menyusul ibunya setelah beberapa hari terserang sakit malaria yang sedang mewabah di daerah itu. Dua minggu di RS, nyawanya tak bisa di selamatkan.”

Tak kudengar lagi apa yang diucapkan paman setelah itu. Bagai disambar petir aku terhuyung. Dadaku sakit seolah ada sebilah pedang yang menancap. Kepalaku berat seakan tertindih puluhan karung batu kali.

*

“Mbak Putri, sudah sore ayo pulang…!” Sepupuku setengah berteriak sempat membuat lamunanku buyar berkeping-keping.

“Ayo!” Aku pura-pura tak terkejut meski jantungku berdegub kencang laksana usai lari maraton. Hampir saja tak kuat melangkah pulang karena masih banyak anak tangga naik yang harus kulalui. Sore itu kutinggalkan mendung di Tawangmangu dengan hati yang membiru penuh dendam rindu.

Bagikan
Post a Comment