f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kekerasan

Secercah Pemikiran Hegel dan Feurbach dalam Filsafat Marxis

Marx adalah penafsir paling ulung di dunia, yang seolah ditakdirkan untuk menebak pemikiran Tuhan mengenai hakikat dunia dan perkembangannya. Namun percaya atau tidak, berada pada posisinya saat ini, ternyata Marx mengakui masih dipengaruhi oleh beberapa filsuf lain.

Perkembangan Pemikiran Marx

Perkembangan pemikiran Marx terjadi dalam kurun waktu yang lama; dari saat Marx masih muda hingga ia menua. Proses akselerasi pemikirannya tidak pernah berhenti pada satu titik yang nyaman. Ia terus berkembang di masa depan.

Perkembangan pemikiran ini juga akan berpengaruh pada pendekatan yang dihasilkan oleh Marx, sebuah bidang yang akan dikritik Marx terhadap analisis yang berdampak pada teori yang ditemukan Marx.

Namun itu tidak berhenti sampai disitu, walaupun ada kalanya Marx belajar dari ide-ide filsuf lain yang menurutnya baik dan benar, Marx tetap tidak luput dari kritik terhadap ide-ide yang dikaguminya. Kritik ini kemudian membawa Marx pada penegasan teori yang paling berpengaruh, jauh melampaui para filsuf yang idenya ia adopsi.

Setahu saya, Marx tidak pernah secara implisit mengatakan bahwa dia dipengaruhi oleh ide-ide filsuf lain, tetapi dia kagum dengan teori-teori yang dihasilkan oleh filsuf lain.

Ada dua nama yang harus digarisbawahi mengenai kontribusinya dalam membangun dan membina pemikiran Marx baik tua maupun muda. George Wilhem Friedrich Hegel dan Ludwig Feuerbach karena “mendidik” Marx menjadi ahli.

Pertemuan Marxt dan Hegel

Pertemuan keduanya terjadi ketika Marx masih menjadi mahasiswa filsafat di Universitas Berlin, ketika Marx melarikan diri dari negara Prusia karena para penguasanya yang represif.

Jadi kondisi terkendali inilah yang mendasari mengapa Marx menginginkan perubahan, seperti halnya kelas proletar dalam teori kelasnya. Saat itu di Berlin, Marx terkesima dengan pemikiran Hegel yang menjunjung tinggi nilai-nilai rasionalitas dan kebebasan. Sejauh ia termasuk dalam kelompok radikal yang disebut Hegelian Left.

Pada awalnya, Marx sangat kagum dengan Hegel, rasa keheranan ini tumbuh ketika dia mengetahui metode berpikir Hegel yang sekarang dikenal sebagai dialektika.

Menurut Hegel, dialektika adalah dialog yang dimulai dari pernyataan yang ditolak dan dibenarkan, tetapi kekurangan dari pernyataan pertama mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi. Dialektika juga akan digunakan oleh Marx sebagai metode dalam menganalisis pandangan sejarah materialis.

Baca Juga  Pentinya Studi Pendekatan Islam : Pendekatan Sejarah (Bagian 2)

Jika dialektika adalah salah satu dari banyak hal yang diadopsi oleh Marx dari filsafat Hegel; perlu dicatat bahwa ada dua kritik yang memungkinkan beberapa orang untuk berbagi posisinya dengan Hegel.

Kritik Marx pada Hegel

Pertama, ini tentang ide absolut. Hegel berpendapat bahwa ide absolut yang telah dikonsep oleh Roh Semesta (Tuhan) tidak dapat diperdebatkan, kita hanya dapat memahami dan memaafkan.

Hal ini jelas ditentang oleh Marx. Menurutnya, kita tidak perlu setia dan pasrah dalam merespon dan mengatasi semua masalah. Bagi Marx, semua masalah harus dilihat secara proporsional. Segala bentuk penindasan dan ketidakadilan sosial yang muncul dalam masyarakat harus segera dilawan, digulingkan dan dihilangkan.

Segala bentuk ketimpangan sosial dan ekonomi harus segera digeneralisasikan. Hal ini pernah saya singgung dalam tulisan saya yang berjudul Nikotin Agama (https://www.pemikiran.com/2020/11/nikotin-agama.html).

Kedua, ketika Marx datang ke Berlin, Hegel sudah terkenal sebagai ahli teori yang paling sukses pada masanya. Seolah-olah tidak ada yang luput dari pandangan Hegel, semuanya terkendali dalam dikte teoretis. Tapi disitulah Marx melontarkan kritik pedasnya, jika semua sudah dipikirkan, lalu mengapa kondisi saat itu tidak seimbang?

Marx kemudian mengisi potongan-potongan filsafat Hegel yang luput dari para pendahulunya; apa yang hilang dari filsafat Hegel masih berkubang di dunia teoretis.

Filsafat Hegel hanya memperhatikan realitas sosial, tanpa mengubah realitas sosial sedikit pun. Pengurungan ini dengan hati-hati digarisbawahi oleh Marx, baginya filsafat harus praktis. Filsafat harus mampu mentransformasikan realitas sosial, menjadi alat teoritis untuk perubahan.

Dan kemudian apa yang dikritik oleh Marx dari filsafat Hegel menjadi kenyataan, menjadikan filsafat Marx bukan hanya teori tetapi juga praktis. Pembuktiannya dilakukan oleh seorang pemuda dari Uni Soviet bernama Lenin yang memimpin gerakan buruh Soviet untuk menggulingkan kekuasaan feodal sang star. Berbekal filosofi Marx sebagai senjata teoritis, Lenin menerapkan teori ini pada Revolusi Bolshevik tahun 1917. Selebihnya? Sejarah.

Pemikiran Ludwig Feuerbach

Setelah Hegel, nama Ludwig Feuerbach diyakini sebagai sosok yang menginspirasi Marx muda. Feuerbach dikenal sebagai seorang filsuf yang kerap mengkritik hakikat agama.

Baca Juga  Pemikiran Fazlur Rahman tentang Poligami

Baginya, agama merupakan sumber keterasingan manusia, agama itulah yang membuat manusia tidak berkembang dan berjuang.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa agama dapat mendominasi perilaku manusia dan menghasilkan sumber keterasingan bagi manusia? Menurut Feuerbach, agama hanyalah proyeksi artifisial yang lahir dari protes dan ekspektasi manusia akan kondisi dunia yang memprihatinkan. Agama hanyalah khayalan kebaikan di dunia manusia.

Karena itulah mengapa manusia selalu taat dan taat pada agama. Feuerbach pun menyadari mengapa kondisi orang miskin tetap melarat meski ia beragama. Jawabannya karena mereka lebih suka melakukan pengharapan dan pertolongan dari semua sifat baik yang sebelumnya dia wujudkan dalam sosok Tuhan, mereka tinggal menunggu Juruselamat datang. Tanpa pernah berpikir untuk melakukan perlawanan dan bertahan dengan perjuangan dengan caranya sendiri.

Kritik terhadap agama yang dibuat oleh Feuerbach inilah yang diangkat dan dimodifikasi oleh Marx, keterasingan manusia adalah fokus Marx dalam memeriksa kembali kritik ini. Pertanyaannya berkisar mengapa manusia terasing? Setelah melalui proses analisis yang mendalam, akhirnya Marx mampu merumuskan sumber alienasi manusia, yang sebenarnya adalah pekerjaan.

Bekerja, menurut Marx, atau hal-hal yang bersifat duniawi. Sumber keterasingan manusia bukanlah agama; agama hanya digunakan sebagai pelarian akibat penindasan itu sendiri, sedangkan dunia inilah yang membuat orang tertindas. Dan dunia menggunakan alat berupa pekerjaan untuk mengasingkan manusia dari dirinya sendiri.

Pandangan Marx tentang Kerja

Bagi Marx, kerja adalah alat obyektifikasi manusia. Dalam bekerja, manusia mampu menunjukkan kemampuannya sendiri. Intinya, dia bisa dikatakan manusia ketika dia bekerja, dalam setiap pekerjaan pasti ada tujuan berupa sebuah produk.

Dan produk itu adalah alat legitimasi sekaligus penegasan mengapa ia pantas disebut manusia, karena melalui produk ini ia mampu mengobjektifkan gagasan menjadi produk sesuai dengan kemauannya.

Sayangnya, bagaimanapun, pekerjaan juga menciptakan sistem kepemilikan pribadi. Hak milik pribadi lahir karena pembagian kerja yang lahir dari sistem kapitalis untuk efisiensi waktu dan tenaga. Namun pada kenyataannya, hak milik pribadi merupakan sumber alienasi bagi manusia karena disadari atau tidak adanya sistem ini juga membuat masyarakat terpecah menjadi kelas-kelas sosial.

Baca Juga  Online Support Group bagi Ibu Muda Masa Kini

Dalam sistem ekonomi kapitalis terdapat dua kelas yang berlawanan, kelas atas dan kelas bawah. Kelas atas diwakili oleh para pemilik modal dan kelas bawah ditempati oleh para pekerja, mereka saling bertentangan karena kepentingan yang berbeda. Dalam konteks hubungan kerja, justru kelas pekerja yang paling dirugikan karena terasing dari pekerjaannya.

Mereka terisolir karena tidak dapat memiliki produk yang merupakan alat obyektifikasi diri, semua bentuk hasil produksi dimiliki sepenuhnya oleh pemilik modal dan pekerja sama sekali tidak memiliki hak atas barang tersebut.

Isolasi lainnya adalah bahwa bekerja tidak lagi menyenangkan tetapi membatasi pekerja, bekerja bukan lagi sarana untuk mewujudkan pembangunan gubuk karena hanya sebagai syarat untuk bertahan hidup. Pekerjaan dilihat hanya dari nilai ekonomi.

Sistem Kepemilikan Menurut Marx

Kritik Marx terhadap kerja dan sistem kepemilikan pribadi diilhami oleh kritik Feuerbach terhadap agama yang menjadi salah satu teori paling berpengaruh; kemudian kritik ini menjadi modal pandangan materialisme historis yang dilahirkan oleh Marx beberapa saat kemudian.

Diktum Marx tentang jalan sebenarnya sejarah tentang perjuangan antar kelas adalah buah dari kritik publik yang dibuat sebelumnya.

Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa dinamika pemikiran Marx selalu berkembang. Ketika Marx bersentuhan dengan pemikiran Hegel, Marx muda lebih fokus pada hal-hal teoritis, sehingga tidak mengherankan jika pada saat itu ia lebih cocok dianggap sebagai filsuf muda.

Sedangkan ketika berkenalan dengan pemikiran Feuerbach, Marx terlihat sudah menua dan mengalihkan fokusnya ke ekonomi, sehingga lebih pantas disebut ekonom di akhir hayatnya.

Kemarin beberapa tahun sejak Das Kapital diluncurkan, sebuah magnum opus yang paling fundamental dalam karir menulis Marx. Dan saat ini beberapa poin dalam Das Kapital masih sangat relevan untuk dipahami guna menganalisa struktur ekonomi masyarakat, karena itu adalah hukum yang akan terus dikembangkan Marxisme.

Seperti Marx yang selalu mempelajari dan mempertanyakan segala hal yang dirasa aneh untuk dicerna oleh akal.

Bagikan
Post a Comment