f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
suhita rengganis

(Menjadi) Setangguh Suhita, Setabah Rengganis

Sinopsis Novel Hati Suhita Karya Khilma Anis (2019)

Alina Suhita. Nama yang sangat apik, berasal dari nama seorang perempuan Majapahit yang membuat Candi Sukuh dan Candi Ceta di lereng gunung Lawu bernama Dewi suhita. Seperti kuatnya tokoh perempuan ini, Alina yakin bahwa kakeknya pasti menginginkan ia agar bisa setangguh perempuan Majapahit itu.

Sejak kecil, Alina sudah diminta oleh seorang Kyai untuk menjadi menantunya. Dalam mempersiapkan hal ini, segala langkah pendidikan Alina telah diatur. Ia sudah digadang-gadang sebagai pemangku Pesantren milik sang Kyai yang merupakan teman dari ayah Alina. Sejak kecil Alina sudah ditempatkan di Pesantren untuk menghafal al-Quran dan menekuni ragam keilmuan agama. Bahkan, ketika kuliah, jurusan yang diambil telah diatur oleh calon mertuanya.

Sayangnya, Gus Birru sebagai calon yang telah dipersiapkan untuk Alina tak mengindahkan perjodohan ini. Birru merupakan seorang aktivis kampus yang hobi orasi di sana sini, memperjuangkan hak asasi melalui dunia jurnalistik. Sejak sebelum kuliah ia sudah tau akan dijodohkan dengan Alina, namun ia tetap bersikeras menolak. Jiwanya yang bebas sangat tidak cocok dengan Alina yang ia anggap hanya tau tentang dunia pesantren dan ilmu agama.

Ratna Rengganis. Jurnalis cantik ini membuat hati Birru terpaut. Seringnya pertemuan mereka menjadikan benih-benih cinta tumbuh di dalamnya. Birru yang ketika di rumah hanya dikelilingi dengan orang-orang pesantren, menemukan warna baru ketika bertemu dengan Rengganis yang selalu membuatnya betah dalam membincang segala minatnya. Rengganis selalu bisa diajak ngobrol tentang hal-hal yang Birru sukai. Rengganis banyak memberi saran terhadap karir Birru, mulai dari pembukaan penerbitan sampai pendirian kafe yang di dalamnya diberi sudut baca.

Baca Juga  Mengenal Taman Nasjiah: Majalah Khusus Anak yang Lahir dari Rahim Suara ‘Aisyiyah

Namun, kedekatan Rengganis dan Birru harus berakhir karena perjodohan yang sebenarnya telah ia ketahui sebelum mengenal Rengganis. Meskipun hatinya menolak, namun Birru tak punya kuasa untuk menolak perjodohan ini. Tidak mungkin ia menolak permintaan ummi yang sangat ia sayangi. Birru yang selama ini meneriakkan hak asasi ternyata tak berdaya dalam memperjuangkan masa depannya sendiri, semua ini karena tadhimnya kepada orang tua.

Pernikahan Alina dan Birru pun diikrarkan tanpa sedikitpun cinta dari Birru. Kecantikan, kepandaian, bahkan tiga puluh juz yang dimiliki Alina belum mampu mengetuk hati Birru. Setelah pernikahan mereka hanya berpura-pura mesra di depan keluarga. Mereka tinggal satu kamar, namun Alina tidur di Kasur sedang Birru tidur di sofa. Mereka hidup sendiri-sendiri meskipun berada di satu ruangan.

Alina sangat nelangsa. Ia sudah diberi beban untuk mengurusi pesantren mertuanya, namun suaminya tak pernah menemaninya. Birru tetap sibuk dengan dunianya, di dunia jurnalistik bersama teman-temannya, termasuk Ratna Rengganis. Di luar sana Birru bisa ngobrol asyik dengan kawannya, tapi tidak dengan Alina. Di depan Alina ia adalah lelaki yang sangat dingin. Tapi saat mengangkat telfon dari Rengganis ia menjadi hangat bahkan bisa tersenyum bahagia.

Pernah suatu hari, Alina berdandan dengan sangat cantik dengan harapan Gus Birru sudi untuk menyentuhnya, namun nihil, Birru menolaknya terang-terangan. Di titik terlemahnya, Alina hampir ingin mengakhiri hubungannya dengan Birru. Ia pun, pergi ke makam para ulama berharap mendapatkan ketenangan di sana. Karena ini adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Di tengah goncangan ini, ia sempat bertemu dengan Kang Dharma, sosok santri yang selalu membawa ketenangan baginya. Namun takdirnya adalah hidup bersama Birru.

Baca Juga  Pembacaan Emansipatoris Kisah Perempuan dalam Al-Quran (I): Hawa

Alina memegang prinsip mikul duwur mendem jero (memikul tinggi-tinggi, memendam dalam-dalam). Ia sendirian menanggung segala beban, meredam gejolak batinnya, dan menyembuhkan luka-lukanya. Dalam keadaan yang demikian ia harus tetap professional untuk mengurus pesantrennya. Bahkan, ia tetap sayang dan memberikan kepedulian terhadap Birru. Apalagi kepada ummi, hanya Alina yang bisa merawatnya dengan baik, pantas saja jika Alina sangat disayang oleh ummi Birru.

Setelah tujuh bulan berlalu, akhirnya Suhita menemukan bahagianya. Perjuangan yang berdarah-darah sudah ia lalui. Birru mulai menaruh hati padanya. Betapa bahagianya Alina yang selama ini tidak pernah dianggap keberadaannya meskipun jasa yang ia berikan terhadap pesantren sudah tak terhitung.

Di sisi lain, Rengganis juga sudah belajar mengikhlaskan Birru bahagia bersama pilihan orang tuanya. Ia sebagai orang yang ditinggalkan juga tak sedikitpun menaruh dendam. Meskipun dengan perjuangan yang hebat, ia terus berlari menjauh dari kenangannya bersama Birru. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya agar tak lagi bertemu Birru. Ia tak ingin lagi berhubungan dengan masa lalunya itu. Ia mencari kesibukan lain bersama orang-orang baru demi menghilangkan sedihnya. Rengganis berusaha tabah menerima kenyataan pahit ini.

(Menjadi) Perempuan Setangguh Suhita, Setabah Rengganis

Meskipun hanya karya fiksi, namun penggalan-penggalan cerita di novel ini bersumber dari pengalaman pribadi penulis dan juga kisah orang-orang sekitar penulis. Kisah cinta segitiga ini memberikan banyak pelajaran bagi pembacanya, khususnya pada perempuan. Posisi dua tokoh dengan nama Alina Suhita dan Ratna Rengganis tentu banyak dialami oleh perempuan di luaran sana.

Alina adalah anak seorang Kyai yang ditempa banyak cobaan. Ia harus berusaha tangguh menghadapi pernikahan yang tak indah. Sejatuh apapun rumah tangganya, ia harus berdiri mengurusi pesantren dan berdrama di hadapan ummi dan keluarga suaminya. Alina adalah perempuan yang sangat patut dijadikan teladan, bahwa perempuan harus mikul duwur mendem jero. Gejolak batin yang dihadapi tak lantas membuatnya jatuh. Kalo kata ning Khilma, ‘bagi Alina, hati adalah wilayah lain, pengabdian dan perjuangan juga wilayah lain’.

Rengganis merupakan aktivis kampus yang nasibnya sangat malang. Ia harus merelakan kekasihnya menikah dengan pilihan orang tuanya. Jika ia tidak menghadapi ini dengan bijaksana, maka bisa saja ia meminta Birrru untuk melakukan pernikahan sirri atau bisa juga merusak pernikahan Birru dan Alina. Namun, Rengganis adalah perempuan cerdas, ia bisa menjaga marwahnya. Rengganis merelakan dengan segala kekuatannya. Ia adalah gambaran perempuan hebat yang tetap sudi melanjutkan hidup di tengah luka yang menganga. Yaa, bagi Rengganis kenangan bukan kutukan, ia adalah kekuatan untuk kehidupan selanjutnya.

Baca Juga  Masa Depan Kepakaran

Maka, kepada para perempuan yang membaca ini, kisah Alina dan Rengganis ini patut kita jadikan teladan agar kita tak larut dalam patah. Keduanya sama pedihnya, sama perihnya, namun sama-sama berusaha yakin bahwa hidup belum berakhir. Maka, sepatah apapun, jadilah setangguh Alina dan setabah Rengganis.

Bagikan
Post a Comment