Pembacaan Emansipatoris Kisah Perempuan dalam Al-Quran (III): Sarah dan Hajar
Dari sudut pandang penganut agama monoteistik, nama Sarah dan Hajar menempati posisi yang sangat penting. Keduanya bukan hanya tokoh figuran dalam kisah Nabi Ibrahim. Selain memainkan peran sebagai istri, Sarah dan Hajar merupakan ibu para nabi dan ibu dari dua bangsa besar.
Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim, melahirkan Ishak, yang merupakan leluhur Bani Israel. Sementara Hajar, sebagai istri kedua, melahirkan Ismail yang garis keturunannya sampai pada Nabi Muhammad. Dengan caranya masing-masing, Sarah dan Hajar memainkan peran penting dalam menanamkan iman dan membentuk karakter anak keturunannya.
Tulisan ini akan menyajikan kisah dua perempuan yang oleh Asma Lamrabet disebut sebagai “emblems of monotheism” itu.
Kabar dari Malaikat untuk Sarah
Para penganut agama monoteistik meyakini Sarah merupakan perempuan tercantik kedua setelah Hawa. Pendapat yang masyhur, sebagaimana disampaikan Ibn Katsir (w. 1373), menyatakan bahwa Sarah adalah anak dari paman Nabi Ibrahim, Haran. Pertemuan Sarah dengan Ibrahim terjadi ketika Ibrahim dan Luth melakukan perjalanan menuju Syam.
Setelah menikah, keduanya hidup sebagai pasangan suami-istri yang bahagia. Namun setelah beberapa tahun hidup bersama, Sarah belum juga dikaruniai anak. Meski tidak disampaikan secara langsung, melalui sudut pandang femininnya, Sarah merasakan keinginan Ibrahim untuk memunyai keturunan.
Guna menebus perasaan bersalah karena dirinya “mandul”, Sarah mengizinkan Ibrahim untuk menikahi Hajar, budak yang diberikan raja Mesir kepadanya. Pada akhirnya, Ibrahim memang menikahi Hajar dan memunyai keturunan darinya. Namun, Sarah ternyata tidak mandul.
Kabar kehamilan Sarah datang dari malaikat yang datang bertamu. Dalam Q.s. Hud [11]: 71 dikisahkan, Sarah mengutarakan keheranannya (inna hāżā lasyai`un ‘ajīb). Ia sukar menerima kabar kehamilan itu, sebab saat itu keduanya sudah berusia lanjut. Sikap heran yang lumrah. Tetapi para malaikat menegaskan bahwa tidak ada yang mustahil selagi Allah berkehendak.
Peristiwa ini, dalam pandangan Lamrabet, menunjukkan tingginya status Sarah, sebab ia mendapat kesempatan berkomunikasi secara langsung dengan para malaikat. Pada saat yang sama, sebagai seorang istri, Sarah tidak hanya menjadi mitra dalam kehidupan rumah tangga, tetapi juga mitra dalam iman kepada Sang Khalik.
Perjuangan Hajar di Tanah Tandus
Tak lama setelah kelahiran Ismail, Allah Swt. memerintahkan Ibrahim dan Hajar untuk hijrah dari Yerusalem ke Mekah. Saat itu, Mekah adalah tanah asing nan tandus. Karenanya, sulit membayangkan Ibrahim “tega” meninggalkan Hajar dan Ismail yang tanpa perlindungan untuk kembali ke Yerusalem.
Hajar berulang kali mengajukan tanya, “kenapa engkau meninggalkan kami?”. Namun Ibrahim tidak kunjung memberi jawaban. Hajar yang merasa ada anomali dalam sikap Ibrahim lantas mengubah pertanyaannya, “apakah ini perintah Allah?” Mendengar itu, barulah Ibrahim menjawab, “ya”. Ibrahim memang tidak bermaksud menelantarkan istri dan anak pertamanya. Ia sekadar menaati perintah Tuhan.
Tahu bahwa keputusan Ibrahim merupakan perintah Allah, Hajar menerimanya tanpa sedikitpun sikap ragu. Kata dia, “maka Allah tidak akan meninggalkan kami (iżan lā yuḍayyi’unā)”. Respons itu menegaskan posisi Hajar sebagai perempuan yang kuat imannya. Iman itulah yang membuatnya tetap tenang meski diterjang kesedihan dan rasa sakit.
Babak berikutnya dari kisah Hajar dan Ismail terjadi ketika keduanya kehabisan bekal makanan. Ismail kecil menangis karena haus dan lapar; tangisan yang membuat ibunya gelisah. Hajar berusaha mencari pertolongan. Sementara meletakkan Ismail di tepi lembah, ia berlari-lari kecil ke bukit Safa dan Marwah.
Setelah bolak-balik selama tujuh kali, Hajar tetap tidak menemukan seseorang yang dapat memberinya pertolongan. Akan tetapi, keajaiban datang dari bawah kaki Ismail. Di tanah yang tandus itu, Allah, melalui perantara malaikat Jibril, memancarkan sumber mata air yang jernih dan tak pernah habis.
Selama empat belas abad lamanya, umat Islam terus mengenang jejak kesabaran, pengabdian, dan pengorbanan Hajar melalui Sai. Menurut Lamrabet, dijadikannya Sai sebagai rukun haji dan umrah menegaskan tingginya derajat perempuan di dalam Islam. Islam tidak pernah sekali pun merendahkan derajat perempuan!
Titik Temu
Sarah dan Hajar adalah dua perempuan mulia. Kisah hidup keduanya menjadi pengingat untuk meletakkan ketundukan kepada Allah di atas segalanya. Sarah dan Hajar membuktikan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka berdua. Sekalipun harus menghadapi kesulitan dan penderitaan, keduanya menunjukkan bahwa kesetiaan dan kesabaran untuk berada di jalan Tuhan selalu berbuah manis.
Akhirnya, Lamrabet memberi simpulan, “Sarah, the lady of the house and free woman, and Hagar, abandoned and humble servant, are equal before God. They both received the same Divine favour, the same gifts, the same sublime honour of being women whose name will forever transcend the memory of humanity” (hlm. 43).
