
Dalam dua dekade terakhir, sejak dimulainya demokrasi di Indonesia. Fenomena hijab di Indonesia masih terus diperbincangkan. Bahkan, pembahasan hijab semakin popular. Sebab, banyak sekali perempuan muslim di Indonesia yang sudah mengenakan hijab, dengan berbagai macam model, bentuk dan juga warna. Kebolehan berhijab menjadi salah satu bukti nyata dari demokrasi di Indonesia.
Namun demikian, jika kita amati lebih lanjut fenomena hijab di Indonesia, ada banyak kritik dalam masyarakat. Apakah memakai hijab merupakan bentuk ketaatan, ataukah hanya tren semata? Apakah hijab menandai tingkat kesalehan seorang muslimah? Semakin besar hijabnya apaka semakin saleh? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Ahmad Nadjib burhani dan Buku Heresy and Politics
Dalam buku terbaru karya Ahmad Nadjib Burhani, seorang intelektual muslim dan juga peneliti LIPI, berjudul Heresy and Politics How Indonesia Islam Deals with Extremism, pluralism and populism. Ada satu bab khusus yang membahas isu tersebut. Meskipun dari 200 halamanya, Nadjib hanya membahas hijab sejumlah 3 halaman, namun bagi saya itu seolah angin segar. Sebagai tanda bahwa fenomena Hijab tak lepas dari fenomena keagaaman di Indonesia.
Buku tersebut membahas hampir semua isu keagamaan di Indonesia dan layak untuk dibaca berbagai kalangan. Buku berisi khazanah pengetahuan terkait dengan perkembangan Islam. Mungkin alangkah menarik apabila diterbitkan juga dengan bahasa Indonesia, sehingga dapat dibaca dan dipahami masyarakat secara luas.
Pembahasan isu keagamaan di Indonesia secara lebih besar dan lengkap diangkat antara lain: Chapter 1 Politic of Identity, di dalamnya membahas politik identitas dan posisi Islam di Indonesia, Fatwa, Aksi Bela Tauhid, Kontroversi Pemilu dan Strategi Partai Islam. Chapter 2 NU, Natinalisme and Indeological Battle, membahas terkait NU dalam partisipasi politik dengan mancalonkan Ma’ruf Amin sebagai Cawapres.
Chapter 3 Ahmadiyah and Islamic Orthodoxy, di chapter ini penulis mencoba menelaah Ahmadiyah dari perspektif HAM dan hak-hak sebagai organisasi Keislaman. Chapter 4, Radicalisme dan Terorisme, membahas klasifikasi terrorisme, persaingan antara kelompok liberal dan konservatif, dan lain sebagainya.
Chapter 5, Muhamamdiyah, Policis and Pluralism, membahas bagaimana Muhammadiyah dalam tahun politik, toleransi dan pluralisme dalam pandangan Muhammadiyah, kontestasi pimpinan Muhammadiyah dan juga dinamika pemikiran modern dalam Muhammadiyah. Chapter 6, Westernization and Arabization, membahas westrernisasi dan arabisasi di Indonesia, multikulturalisme dan sampai dimana kita harus belajar Islam, apakah di Barat? atau Timur? Dan chapter 7, Indonesia Islam: Ideology, Ritual and Social Pratice yang membahas isu-isu hangat Islam Indonesia, yang salah satunya bab nya adalah tentang hijab.
Hijab dalam Buku Heresy and Politics
Menurut Nadjib, hijab adalah pakaian untuk menutup aurat perempuan Muslim/Muslimah. Maka Hijab terdiri dari kerudung, pakaian dan segala aksesoris tambahan yang menunjang tertutupnya aurat muslimah. Dulu, saat Orde Baru, hijab dipandang sebagai simbol penindasan dan pakaian kuno/jadul, yang tidak mencerminkan kebebasan perempuan. Bahkan di beberapa daerah, hijab dipandang sesuatu yang aneh atau bahkan tabu.
Namun sekarang, gambar-gambar hijab bahkan muncul dalam majalah fashion dan hijab menjadi pusat fashion nomer 1 di Indonesia. Segala industri yang berkaitan dengan hijab mendapatkan profit yang sangat banyak. Seperti pakaian muslim-muslimah, kerudung, kaos kaki dan sebagainya.
Tidak hanya di Indonesia, fashion muslimah mulai menjamur dan menjadi tren global. Hijab menjadi trend fashion yang bahkan melenggang di New York Fashion Week. Banyak desainer hijab Indonesia yang memenangi banyak award di luar negeri. Banyak orang memakai hijab, dan mereka yang memakai hjab tidak lagi dianggap konservatif.
Nadjib menyebut survey yang baru dilakukan oleh ISEAS Yusof Ishak Institute. Melihat bahwa 82 persen muslimah berpikir mereka harus memakai hijab, walaupun ada sedikit paksaan dari laki-laki (suami, ayah, dan lain sebagainya). Namun 78.2 persen perempuan muslim berusaha memakai hIjab dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini tentu sangat kontras dengan masa Orde Baru saat memakai jilbab dilarang, namun sekarang, perempuan bebas memakai hijab, baik itu atlet, militer perempuan polisi, selebritis dsb.
Berbagai macam dan jenis hijab dapat banyak sekali dijumpai, tidak lagi dengan harga murah, namun banyak jenis hijab yang dijual dengan harga yang sangat mahal dengan desain yang futuristic dan fashionable. Industri hijab menjadi banjir dan laris manis. Apalgi dengan tanpa canggung lagi menggaet artis ternama untuk menjadi model baik secara online maupun offline.
Bisnis hijab tidak hanya didominasi muslim saja, namun digemari pula oleh pengusaha non-muslim, hal ini menandakan bahwa profit yang didapat dari bisnis hijab tidak bisa diabaikan.
Paradigma Baru dalam Berhijab
Menariknya lagi, dalam buku tersebut, menurut survei, hampir 95 persen muslimah berpendidikan tinggi memilih menggunakan hijab, diikuti dengan 80 persen perempuan muslim dengan pendidikan sedang. Hal ini menujukkan bahwa muslimah dengan pendidikan dan ekonomi yang baik lebih suka memakai hijab untuk kegiatan sehari-hari.
Hasil ini menurut Nadjib, menunjukkan transfromasi dari tujuan berjilbab dan menunjukkan kesalehan agama. Menjadi religious dengan berhijab (mentaati perintah Allah Swt) tidak lagi dipandang sebagai penghambat pendidikan dan karir bagi muslimah seperti dulu ditakutkan. Sebagai gantinya, hijab bahkan dianggap sebagai simbol bagi perempuan terpelajar dan kesuksesan perempuan berkarir professional.
Faktanya adalah bahwa hijab bukan lagi sebagai tanda Islam konservatif yang diberlakukan oleh sebagian masyarakat pada perempuan muslim yang kurang berpendidikan dan berpenghasilan rendah. Sebagai penutup, Najdib Burhani menyimpulkan bahwa hijab selain sebagain bagian dari fashion yang sedang tren, namun juga merupakan tanda independesi seorang muslimah
