Aisyah binti Abu Bakar: Penyedia Air dalam Perang Uhud
Pada dasarnya, Jabal Uhud merupakan bukit besar dengan diiringi sebuah dataran yang membentang disekitarnya. Tempatnya terletak di wilayah pinggiran bagian utara kota Madinah. Adapun ketinggiannya kurang lebih 1.050 meter. Selain itu, Jabal Uhud terkenal dengan sebutan bukit yang ada di surga, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Bukit Uhud merupakan salah satu dari bukit-bukit yang ada disurga.” H.R. Bukhari.
Sejarah mencatat, di tempat inilah pernah terjadi peperangan yang begitu dahsyat, antara kaum Muslimin dengan kaum musyrikin Quraisy. Kurang lebihnya pada 15 Syawal, tahun ke-3 Hijriah atau 625 Masehi, setahun setelah perang badar.
Salah satu faktor penyebab terjadinya perang Uhud (perang ke-dua setelah perang Badar) adalah munculnya rasa balas dendam dan emosional kaum musyrikin Quraisy atas kekalahan sebelumnya dalam perang Badar.
Memang kekalahan perang Badar menyebabkan kerugian besar bagi kaum musyrikin Quraisy. Seperti terbunuhnya para tokoh, harta ghanimah (harta rampasan perang) yang telah menjadi milik kaum Muslimin. Selain itu juga datangnya rasa aib, malu, dan gengsi, dikarenakan dalam perihal perang biasanya kaum musyrikin Quraisy tak pernah kalah.
Kekuatan dan Kelemahan Perang Uhud
Saat perang Uhud terjadi, kaum musyrikin Quraisy dipimpin langsung oleh Abu Sufyan. Ia mengomandoi 3000 pasukan tempur, termasuk 700 pasukan bertameng dan 200 pasukan berkuda. Adapun kekuatan Muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. hanya mencapai 700 orang, mereka terdiri dari 650 orang pasukan pejalan kaki, dan 50 pasukan berkuda.
Ketika perang Uhud berlangsung, kelengahan sempat terjadi pada kaum Muslimin, khususnya pasukan pemanah. Mereka merasa pihak musuh sudah dikalahkan, lalu lupa akan pesan Rasulullah saw. untuk tidak meninggalkan bukit tersebut. Oleh karenanya, beberapa dari mereka secara tidak langsung tergoda akan ghanimah yang berceceran dan ditinggalkan oleh kaum musyrikin Quraisy.
Kesempatan ini pun tidak di sia-siakan oleh kaum musyrikin Quraisy. Dari kelengahan itulah mereka membalas serangan untuk kaum Muslimin. Namun pada akhir perang, kaum Muslimin mendapatkan kemenangan. Kaum musyrikin Quraisy merasa kecewa, berulang kali menyerang sampai ke ujung bukit Uhud, alhasil upaya mereka tak membuahkan hasil. Hingga kaum musyrikin Quraisy memutuskan untuk mengakhiri peperangan.
Peran Aisyah Binti Abu Bakar dalam Perang Uhud?
Harus diketahui bersama, bahwa dalam perang uhud, ada beberapa wanita yang ikut serta berperang, berjuang, berperan penting untuk membela Rasulullah saw. serta berjihad di jalan Allah swt. Salah satunya adalah Aisyah binti Abu Bakar.
Aisyah binti Abu Bakar merupakan putri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq (khalifah pertama). Ibunya bernama Ruman binti Umair yang merupakan istri kedua dari Abu Bakar. Ibunya pun menyandang julukan sebagai Ummul Mu`minin (Ibu orang-orang mukmin).
Keistimewaan dan Keteladanan Aisyah
Aisyah pun memiliki beberapa keistimewaan dan keteladanan, seperti banyak meriwayatkan hadits. Sanad hadits yang diriwayatkannya kurang lebih berjumlah 2.210 hadits. Imam Bukhari dan Imam Muslim menyepakati hadits dari Aisyah sebanyak 174 hadits. Namun Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah sebanyak 54 hadits, sedangkan Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah sebanyak 67 hadits.
Keistimewaan lainnya, Aisyah bisa belajar langsung dengan Rasulullah saw. Ia juga dikenal memiliki kecerdasan otak dan kematangan berpikir. Selain itu Aisyah merupakan wanita yang berparas cantik berkulit putih dengan pipi kemerah-merahan. Oleh karenanya, ia dikenal dengan sebutan Humaira (Si Mawar Merah).
Aisyah di Medan Perang
Perihal perang, medan perang pertama kali yang diikuti oleh Aisyah adalah keikutsertaannya dalam perang Uhud. Padahal waktu itu ia masih berumur belia. Bahkan dijelaskan dalam kitab al-Maghazi karya al-Waqidi:
“Sesungguhnya Rasulullah saw. apabila akan keluar dalam sebuah perjalanan, beliau selalu mengundi di antara istri-istri beliau. Siapa saja yang namanya keluar, maka dia lah yang pergi bersama Rasulullah saw. Beliau pun suka jika Aisyah tidak meninggalkannya, baik diperjalanan maupun dirumah. Maka tatkala berangkat ke medan perang, beliau mengundi di antara mereka. Dan Aisyah yang mendapatkan giliran pergi bersama beliau.”
Ketika perang Uhud berlangsung, Aisyah berada di barisan belakang bersama Muslimah lainnya. Ia bertugas menyediakan air, lalu memikulnya untuk diberikan kepada para pasukan mujahidin yang kepayahan, kelelahan dan juga yang sudah tak berdaya.
Diriwayatkan dari sahabat Anas r.a. berkata: “Ketika perang Uhud berkecamuk, orang-orang melarikan diri dari Rasulullah saw. Sungguh aku melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim berjalan dengan cepat, sehingga terlihat gelang kaki keduanya sambil membawa qirab (tempat air yang terbuat dari kulit). Mereka mengangkut qirab dengan selendang keduanya, lalu menuangkan ke mulut para pasukan. Kemudian keduanya kembali untuk mengisi air ke dalam qirab, lalu kembali datang untuk menuangkan air ke mulut pasukan” (HR. Bukhari Muslim).
Catatan sejarah menyatakan masih banyak lagi perjuangan Aisyah berjihad di jalan Allah. Diterangkan dalam kitab Shirah Shahabiyah, karya Syaikh Mahmud al-Mishri, Aisyah binti Abu Bakar tercatat pernah ikut serta dalam beberapa peperangan, antara lain: perang Ahzab, Muraisi, dan Jamal.
Pembina Anak Jalanan di Rumah Singgah dan Belajar (RSB) Diponegoro, Yogyakarta.
